Hidup Lebih Sehat Dengan Pemberian Maaf

Biduk rumah tangga yang kita jalani tak selalu berjalan semestinya. Ada kalanya badai datang menghantam dan menggoyahkannya.

Jika kita mampu mengendalikannya, maka sang biduk dapat tetap berlayar ketika cuaca kembali cerah. Tapi jika kita tidak mampu menggendalikannya, maka sang biduk akan digulung ombak dan akhirnya kandas serta karam ditengah perjalanan.

Ujian terberat bagi sebuah rumah tangga ialah ketika pasangan mulai melihat rumput tetangga lebih hijau, ketika mulai ada someone yang menggoda hati pasangan.

Luka itu ibarat paku yang dipukulkan sangat keras ke tembok, menghuncam jauh didalam tembok. Kuat dan dalam. Sehingga ketika paku dicabut dari dalamnya, terlihat lubang membekas. Ketika penyesalan datang dari pasangan, luka itu terlihat menganga.

Saat inilah komitmen kita diuji.

Komitmen untuk terus bersama atau kita memutuskan untuk berhenti.

Saat kita memutuskan untuk terus, kita perlu satu obat untuk menutup luka.

Satu obat yang sangat pahit musti kita telan, obat itu yaitu pemberian maaf pada pasangan.

Maaf yang menghapuskan dan menghilangkan kesalahan pasangan.

Maaf yang mengijinkannya kembali.

Maaf yang menjadi kekuatan kita untuk memberi lebih baik

Bukan sesuatu yang sulit, tak kala kita sadar bahwa semua sudah “diatur”. Segalanya tidak berjalan tiba-tiba, semua dalam koridor kehendak-Nya dan berjalan sesuai takdir-Nya.

Mungkin Allah ingin menguatkan iman kita. Mungkin derajat kesabaran kita akan ditinggikan dan beribu kemungkinan yang kita belum tahu.

Ada satu hal yang harus kita yakini bahwa Allah menguji hamba-Nya tidak melebihi dari kemampuan kita. Artinya semua sudah diukur dan kita pasti mampu melaluinya.

Tak akan sulit memberi maaf jika kita sadar bahwa semua orang bisa berbuat khilaf. Termasuk diri kita karena manusia tempat salah dan lupa.

Tak ada salahnya pula jika kita bisa memberi maaf  pada semua kesalahan orang yang pernah menyakiti kita. Entah itu hanya sakit, ataupun sakiiit sekali. Karena memaafkan menjadikan kita jauh lebih sehat jika dibandingkan kita memendam kemarahan.

Kemarahan berkepanjangan menjadikan keseimbangan emosional kita terganggu. Tekanan darah, denyut jantung dan kontraksi otot meningkat tatkala seseorang terlibat konflik. Bila itu dibiarkan terus menerus maka penyakit jantung dan stroke mengintai.

Pemberian maaf menjadikan kita senantiasa bisa berfikir positif atas semua kejadian yang kita alami dan bisa mengambil hikmah dibalik perjalanan kehidupan kita.

Jadikan kita pribadi sehat dengan senantiasa membuka seluas-luasnya pintu maaf yang kita miliki.

 

 

Foto diambil disini

Referensi: Al Qur’an dan penelitian dari University of Massachusetts

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s