Pergi Haji

Banyak cerita ketika seseorang pergi menunaikan ibadah haji. Ada cerita suka pun ada cerita duka. Kebetulan pada tahun 2004 Allah berkenan memberi saya kesempatan untuk menunaikan ibadah haji bersama ibunda tercinta.

Sebenarnya kesempatan ini sesuatu yang tidak saya duga sebelumnya. Pergi haji diusia 24 tahun bukan sesuatu yang saya impikan. Impian saya waktu itu menghajikan ibunda dengan hasil tabungan saya. Ternyata Allah berkehendak lain, ketika uang terkumpul dan saatnya untuk mendaftar tiba, pintu hati almarhum ayah saya terbuka dan akhirnya ayah meminta uang hasil tabungan  digunakan untuk mendaftar buat saya sendiri. Semua keperluan ibu ditanggung ayah. Ketika tulus berbakti untuk ibunda tercinta, Allah memberi sesuatu yang indah yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Tepat ketika Tsunami yang menelan ribuan korban jiwa menerjang Aceh, pesawat Garuda take off dari bandara Adi Soemarmo Solo menuju bandara King Abdul Aziz Jeddah. Perjalanan Solo-Jeddah ditempuh kurang lebih 11 jam perjalanan.

Dari bandara King Abdul Aziz, rombongan dibawa ke maktab di Madinah. Maktab yang saya tempati berada di Jalan Ali Bin Abi Thalib yang berjarak kurang lebih  3 km dari Masjid Nabawi. Jarak yang cukup jauh mengingat sebelum berangkat saya tidak pernah melatih otot kaki untuk berjalan sejauh itu. Capek dan cuaca yang sangat dingin memaksa saya untuk beristirahat total selama beberapa hari di Maktab. Walhasil saya tidak bisa tuntas menyelesaikan Shalat Arba’in. Pengalaman yang sangat sangat saya sesali 😦

Setelah delapan hari di Madinah, rombongan bergerak menuju Makkah melewati Bir Ali.

Masjid Bir Ali

Bagi saya moment paling mendebarkan ialah ketika pertama kali melihat dan menyentuh Ka’bah. Luar biasa rasanya. Ka’bah yang biasanya hanya bisa dipandangi di sajadah ketika shalat, kini ada didepan mata. Tanpa terasa air mata menetes dipipi.

Ketika berada di Makkah saya menempati maktab Aziziah. Letaknya kurang lebih 1 km dari Masjidil Haram. Saya menggunakan bis dari maktab menuju ke Masjidil Haram. Tetapi pada hari jum’at bis tidak beroperasi. Walhasil setiap hari jum’at harus rela berjalan kaki melewati lorong panjang yang sangat berisik.

Nah, bagi anda yang akan menunaikan ibadah haji ada beberapa tips dari saya agar pelaksanaan ibadah haji berjalan lancar.

Jalan dan jogging

Shalat merupakan ibadah dengan dimensi gerak. Puasa merupakan ibadah yang langsung menyentuh dimensi ruhiyah. Sedangkan zakat ialah ibadah yang lebih menekankan dimensi harta. Sementara haji merupakan ibadah yang menyentuh semua dimensi yaitu ruhiyah, gerak dan harta.

Selain ruhiyah dan financial, fisikpun harus dipersiapkan secara matang ketika hendak menunaikan ibadah haji. Hal ini dikarenakan jamaah haji harus berjalan sejauh 96 km dalam seluruh rangkaian ibadah haji yang dijalaninya. Jalan sejauh itu membutuhkan keserasian gerak kaki dan tangan secara kontinyu. Latihan jalan dan jogging pada pagi hari secara teratur selama dua jam setiap hari atau minimal tiga kali seminggu sangat membantu melatih kekuatan otot kaki.

Buah-buahan dan suplemen

Kondisi cuaca di tanah suci yang ekstrim dan kering menjadi penyebab daya tahan dan stamina tubuh menurun. Batuk merupakan penyakit yang banyak diderita jamaah haji. Bahkan kadang batuk yang diderita ditanah suci terbawa hingga pulang ke tanah air. Banyak mengkonsumsi buah-buahan dan suplemen ketika di tanah suci dapat membantu mempertahankan daya tahan tubuh agar tetap fit selama menjalankan ibadah haji.

Madu merupakan suplemen alami yang berguna untuk menjaga stamina tubuh. Minumlah satu sendok makan setiap hari agar tubuh tetap bugar. Selain suplemen, jangan lupa untuk mengkonsumsi buah-buahan segar. Jeruk bisa menjadi buah pilihan, selain harganya yang relative murah jeruk merupakan buah yang  mudah diperoleh. Jeruk mengandung vitamin C yang berguna untuk kekebalan tubuh. Vitamin B6nya dapat menjaga tekanan darah tetap normal. Tapi ingat, konsumsilah sewajarnya saja, jangan berlebih.

Lauk pauk khas Indonesia

Tak ada salahnya Anda membawa beberapa jenis lauk yang tidak basi ketika dibawa ke tanah suci. Abon, sambel kering tempe, srundeng, sambal kacang untuk membuat pecel, petes ataupun rendang kering merupakan alternative lauk yang bisa anda masukkan dalam daftar bawaan. Selain untuk mengirit pengeluaran, membawa lauk kering sangat berguna ketika tidak berselera makan karena terlalu capek saat menjalankan ibadah. Tidak terbayangkan nikmatnya tatkala menyantap pecel di siang hari yang panas menyengat ditemani dengan sebotol teh dingin.

Iklan

2 pemikiran pada “Pergi Haji

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s