Bullying

Beberapa waktu lalu temen saya bercerita tentang konflik dua orang tua saat penerimaan rapor di sekolah anaknya.

Ceritanya ada seorang anak bernama Aulia (bukan nama sebenarnya) mengejek Indah (juga bukan nama sebenarnya) dengan mengatakan cacat gara-gara Indah memiliki kaki penuh koreng.

Singkat cerita Indah bercerita kepada bundanya. Mendengar cerita Indah, sang bunda tidak terima dan hari berikutnya ketika mengantar Indah ke sekolahan, bundanya Indah menemui Aulia dan memarahinya. Karena si Aulia tidak terima dimarahi bundanya Indah, ia pun bercerita ke mamanya.

Nah, kebetulan pas penerimaan rapor kemarin, dua ibu tadi secara tidak sengaja bertemu. Trus, terjadilah pertengkaran yang bisa dibilang memalukan. Gimana tidak memalukan, selain adu mulut, dua ibu tadi juga beradu fisik didepan murid dan wali murid lain 😦

Bullying

Para orang tua kadang kurang memahami jika anaknya menjadi korban bullying di sekolah. Olok-olok dari teman sekelasnya kadang dianggap sesuatu yang lumrah pada anak-anak. Artinya hal itu hanya dianggap kenakalan anak-anak biasa. Padahal jika dicermati, tindakan bullying sangat berbahaya.

Contoh kasus bullying yang memakan korban pernah terjadi di Jepang. Yumi (12 tahun), putri keluarga Nakai memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari kondominium yang ditinggali keluarganya. Keluarga Yumi tak menyangka Yumi akan melakukan tindakan senekad itu. Yumi termasuk anak ayah, ia suka jalan-jalan, pergi berenang dan main sky bersama sang ayah. Dari catatan harian yang ditemukan bundanya, Yuma merasa tertekan oleh ejekan teman-temannya, juga pelajaran di sekolahnya.

Lantas, apa sebenarnya bullying?

Bullying adalah sebuah bentuk kekerasan yang dilakukan oleh individu ataupun kelompok dengan menggunakan kekuasaan yang dimilikinya, sehingga korban merasa tertekan, trauma dan tidak berdaya.

Bullying fisik biasanya berupa tindakan memukul, mencubit menampar ataupun memalak. Sementara bullying verbal berupa makian ataupun ejekkan. Sedangkan bullying dalam bentuk psikologis seperti mengintimidasi, mendiskriminasi, mengabaikan dan mengecilkan.

Apa yang harus dilakukan orang tua?

Beberapa waktu yang lalu anak saya juga menjadi korban bullying. Dia mogok sekolah dan ingin pindah sekolah. Setelah saya bujuk-bujuk, dia bercerita bahwa ada dua teman yang mengancam akan memukulnya jika tidak mau bertukar pensil.

Selain itu, dia juga sering diolok-olok teman tersebut dengan sebutan β€œAnak TK” karena memiliki postur tubuh yang mungil.

Walaupun pada Β akhirnya konflik dapat terselesaikan, tetapi rasa pede anak saya menurun drastis. Dia sering ragu-ragu ketika akan memutuskan sesuatu. Di kelaspun dia cenderung menjadi pendiam.

Minggu-minggu setelah itu, menjadi minggu yang penuh dengan motivasi dan perhatian. Alhamdulillah, saya sedikit lega setelah mendapat sms dari gurunya, “Selamat ya bu, mas Fathiin jadi star of the week untuk minggu ini karena sudah lebih mandiri, semangat, dan bertanggungjawab. Tadi waktu upacara maju kedepan bersama star dari kelas yang lain.”

Berdasarkan pengalaman saya, ada beberapa hal yang harus dilakukan orang tua ketika anaknya menjadi korbang bullying.

  • Sampaikan permasalahan ini kepada guru dan minta guru untuk membantu menyelesaikan konflik tersebut. Kerjasama dengan pihak sekolah sangat membantu penyelesaian permasalah ini. Yang kadang menjadi masalah, tidak semua sekolah care dengan permasalahn bullying, maka orang tua harus proaktif. Jika guru tidak bisa menyelesaikan permasalahan ini, mintalah pihak sekolah yang lain, misalkan kepala sekolah untuk membantu menyelesaikan permasalahan ini.
  • Luangkan waktu mendengarkan keluhannya. Biarkan dia bercerita semua yang dialaminya dari A-Z, jangan diputus. Ketika akan mengajukan pertanyaan, ajukan pertanyaan yang tidak bernada introgatif hingga anak tidak merasa terpojok. Tunjukkan empati pada anak, sehingga ia merasa nyaman.
  • Jangan berjanji pada anak jika tidak bisa menepati, anak butuh orang yang dapat diandalkan dan dapat dipercayai.

Iklan

50 pemikiran pada “Bullying

    • Iya pak, seringnya memang si korban sulit untuk terbuka. Tapi kalau orang tua cermat, biasanya terlihat dari gerak gerik anak pak. Contoh, anak jadi males sekolah, pengen pindah sekolah de el el

  1. yang suka di terima anak saya olok olok dari temen sepermainanya di lingkungan tempat tinggal… seringnya di olok olok masalah nama tidak hanya oleh mereka temen sebayanya kadang oleh orang dewasa juga..

    • Kalo mau referensinya baca buku “Mendidik karakter dengan karakter”. Disitu ada cerita si anak yang cacat menjadi korban bullying dan ibunya memotivasi luar biasa hingga ia mampu meraih sarjana di 3 Universitas berbeda.Si ibu mengatakan pada anak tsb, bahwa si anak hanya cacat kakinya saja. Sementara si pengolok2 cacat otaknya, untuk kelanjutannya coba baca buku tadi ya kang πŸ™‚

  2. waktu masih kecil mungkin blm begitu berasa, tapi kalo udah gede, semua memori itu bakal nampak jelas dan menjadi trauma tersendiri 😦

    #pengalaman 😦

  3. Makin berat ya tugas orang tua itu, apalagi perilaku spt ini, bisa melalui dunia maya… lewat tulisan yg bisa dibaca ribuan orang.
    Empati dan simpati perlu lebih ditanamkan lagi, berlaku seperti sahabat dgn anak yang sudah remaja, itu yg sedang saya lakukan trhd 3 anak gadis saya yg sudah mulai remaja dan dewasa.
    Terima kasih buat postingannya πŸ™‚

      • Sama-sama, anak jaman kiwari mah ngga bisa diperlakukan saklek ya Mbak, apalagi anak2 saya gede disini waahh harus banyak bersabar, tarik ulur dengan mereka.. kompromis diplomatis hehehe..tapi untuk hal2 yg berkaitan dengan nilai2 agama mah saya agak kejam eh galak hehehe
        Anak saya mau 17 thn, pola pikirannya spt orang Jerman, kadang bikin emak pabaknya pusiiing πŸ˜€
        tp sejauh ini alhamdulillah dia masih nurut sama emak bapaknya, semoga saja seterusnya.aamiin.
        Sepertinya sikap spt ini berlaku juga untuk anak laki-laki mbak Ika πŸ™‚

    • Prinsipnya anak tidak hanya butuh materi. Perhatian dan waktu kita juga mereka butuhkan. Jika dari kecil sudah terbiasa terbuka dengan kita. Besok kalau sudah besar tidak mudah terpengaruh teman, karena jika ada masalah mereka larinya ke orang tua πŸ™‚

  4. Bu Elly Risman pernah menyampaikan katanya pelaku bullying sebenarnya anak-anak yang mengalami masalah di rumah. Disarankan agar anak kita berani stand out dan melawan langsung pelaku bullying. Saya dulu melakukannya ketika SD. Saya lawan anak yang menurut temen-temen paling jagoan dan alhamdulillaah setelah itu bullyingnya berhenti.

  5. Setuju, sebisa mungkin orang tua memang mencegah anaknya terlibat dari lingkaran bullying, entah sebagai korban atau pelakunya. Banyak orang tua yang kurang sadar bahwa apa yang ada disekitar anak bisa mempengaruhi sikap anak tersebut dalam bersosialisasi. Seperti permainan yang mengandung kekerasan (video game atau PC game) atau terpapar sinetron Indonesia yang terkenal suka mengumbar bentuk kekerasan dan ditayangkan di jam keluarga.

    Kadang malah banyak orang tua merasa, saat anak tidak pernah mengeluh tentang teman-temannya, orang tua menganggap anaknya baik-baik saja. Namun setelah diselidiki malah si anak tersebut jadi pelaku bullying. Jadi mudah-mudahan ‘awarness’ yang dibangun ada dari dua arah. Bukan hanya mencegah munculnya korban tapi juga pelaku. πŸ™‚

    • Betul sekali, setuju mbak Chita. Dan pihak sekolahpun juga mesti peduli ketika ada pengaduan dari pihak wali murid. Ini juga kadang jadi masalah. Guru terlalu dibebani materi ajar sehingga kondisi murid kurang terperhatikan πŸ™‚

  6. wahhh…klo aq mbak, SD dibuli terusss sampe pindah SD masih ttp dibuli…klo pulang ngadu sambil nangsi malah dimarahi Papa trus dsuruh lawan balik pake rante sepeda..haduuuh…g mngkin jglah aku krjain y kan???ckckc…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s