Refleksi Orang Tua

Seorang dokter sedikit tergesa-gesa memasuki sebuah apartemen mewah. Si pemilik apartemen pasien istimewa sang dokter. Asisten pribadi si pasien telah menelpon seperempat jam yang lalu mengabarkan bahwa si bos sedang mengalami keluhan kesehatan.

Setelah beberapa saat dokter memeriksa pasien dan tidak ditemukan keluhan yang cukup berarti, sang dokter pun bersiap-siap untuk pamit.

Saat dokter hendak beranjak pergi, pasien memanggil seorang anak muda yang sedang asyik mengerjakan tugas didepan laptopΒ  yang ada dalam ruangan tersebut untuk membantunya bangun karena ia ingin berjalan-jalan sebentar untuk menghindari kebosanan.

Anak muda yang ternyata anak si pasien yang tinggal di Amerika pun datang membantu ayahnya bangun.

Betapa terkejut dokter demi melihat ekspresi si anak ketika membangunkan ayahnya. Dingin, nyaris tanpa ekspresi dan tidak terlihat pancaran kasih sayang dari sikapnya.

Tak berapa lama, muncul dengan tergopoh-gopoh pria berusia setengah abad membantu menolong anak muda untuk membangunkan ayahnya. Ia adalah pembantu dalam keluarga itu, dan ia telah bekerja puluhan tahun.

Didorong rasa penasaran, dokter bertanya pada pembantu keluarga tersebut kenapa si anak bisa bersikap demikian. Singkat pembantu menjawab,“Begitulah dulu ayahnya memperlakukan dia.”

***

Biaya hidup yang semakin tinggi menjadi alasan bagi banyak orang tua untuk bekerja membanting tulang tak kenal waktu. Terkadang hari liburpun bila ada kesempatan dipergunakan pula untuk bekerja. Hingga waktu bersama anak menjadi sangat minim. Hal yang harus kita renungkan ialah seberapa banyak waktu yang kita sediakan untuk mendengar keluhan anak dan membersamainya.

Ada beberapa orang tua yang berdalih, yang penting kualitas pertemuan dengan anak, bukan kuantitas. Tapi terkadang benturan jadwal orang tua dan anak tidak memungkinkannya berjalan seiringan. Harus ada yang dikorbankan. Bertemu dengan klien penting atau menghadiri pentas puisi anak di sekolah. Mana yang akan dipilih?

Cekidot this video, mungkin bisa menggugah nurani kita sebagai orang tua πŸ˜‰

ssss

Iklan

49 pemikiran pada “Refleksi Orang Tua

    • Tulisan ini berdasarkan pengalamanku sendiri. Dari SMA sudah sekolah sambil kerja. Keasyikan kerja lupa sekarang dah punya anak. Sampai akhirnya aku insyaf. Kita punya waktu untuk membersamai anak kita paling sampai awal SMP saja. Setelah itu dia punya dunia sendiri. Kalau kedekatan dengan anak tidak dijalin dari kecil, takutnya pas besar kalo ada masalah bukan minta solusi ke orang tua tapi ke hal2 negatif

    • Bagus banget itu kang. Agar kedekatan dengan anak terjalin dari kecil. Biar kalo besar pas ada masalah larinya ke kita ortunya. Bukan ke temen2 sebaya yang juga sama2 belum tau solusinya atau ke hal2 yang terlarang πŸ™‚

  1. Kualitaspun kadang nggak tercapai karena dalam pertemuan tersebut yang terjadi malah pertempuran ya jeng.
    Perlu lebih baanyak pertemuan dengan anak karena mereka sangat membutuhkan orangtua.
    Salam hangat dari Surabaya

    • Sekedar sharing pak Yudhi,, bila ada jarak membentang antara anak dan ayah, usahakan sesering mungkin berkomunikasi dengan anak. Agar anak tidak kehilangan figur ayah. Dari beberapa buku dan pengalaman, anak yang kehilangan figur ayah ketika dewasa juga akan bermasalah. Maaf, bukan bermaksud menggurui. Sekedar share saja πŸ™‚

  2. Baru mampir ke postingan-postingan sebelumnya Mba.
    Dari seminarnya Bu Elly Risman, justru yang terpenting memang masa-masa sebelum SMA. Salah satu orangtuanya sebaiknya ada di rumah ketika anak pulang sekolah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s