Etika Berkomentar di Blog

Gambar diambil di Google

Gambar diambil di Google

Beberapa waktu yang lalu seperti biasa, ketika saya bersilaturrahim ke beberapa blog tetangga untuk saling sapa, sampailah saya di blog milik Om trainer. Postingan Om Trainer di blognya kali ini membuat saya tertegun dan berhenti untuk beberapa saat lamanya. 

Om Trainer sedang mereview beberapa komentar yang sudah masuk mulai dari bulan Januari 2012.

Kriteria komentar yang Om Trainer review adalah komentar yang relevan dengan isi postingan, menarik, bermanfaat, santun, simple, unik, lucu dan tentunya outhentik.

Beberapa komentar yang dipilih Om trainer antara lain komentar dari Yori.

saya juga gak punya alergi makanan atau obat om, setidaknya sejauh ini nggak ada, alhamdulillah…

Kalau boleh menambahkan informasi, ada reaksi alergi obat yang sangat hebat yang bisa menyebabkan sekujur badan melepuh. Namanya Steven Johnson Syndrome. Reaksi alergi ini harus segera ditangani secara medik, ini emergency.

Bwt, setelah saya pikir2 om, ternyata saya ada alerginya juga. Alergi kesombongan dan kebohongan *eh, nggak masuk ya..  

Simpel bukan ? … tapi berguna bagi saya !

(dan juga bagi yang lain)

Komentar ini dikemukakan Yori ketika mengomentari postingan Om Trainer tentang “Alergi”.  Atau sebuah komentar yang kocak dari Titik Sutanti ketika Om Trainer memposting tulisan “Menolak Telepon”

Sales: “Pagi Pak, mau menawarkan kartu kredit… bla bla bla…”
Tmn: “maaf, saya sedang nyetir. Telpon lagi nanti.”
Sales: “Oh begitu. Baik Pak.”

Satu jam kemudian.

Sales: “Siang Pak, saya yang tadi mau menawarkan kartu kredit… bla bla bla…”
Tmn: “Oh ya, tapi maaf, saya sedang nyetir.”
Sales: “Oh gitu ya, Pak. Kalau gitu nanti sy telpon lagi.”

Sorenya.

Sales: “Selamat sore….”
Tmn: “Anda yang mau menawarkan kartu kredit ya? Saya sedang nyetir ini..!.”
Sales: “Kok nyetir terus sih Pak?”
Tmn: “Lho, saya kan sopir angkot!”

Itu sekedar cerita dari kawan, Om. Kemarin sempat dapat telepon begitu juga. Lalu saya bilang saja kalau sy belum butuh. Sudah, gitu saja. 

Kalau boleh jujur, komentar yang saya tulis di blog sahabat mungkin tidak sepenuhnya memenuhi criteria Om Trainer. Outentik dan santun sich iya. Relevan dengan isi postingan, hmmm kadang-kadang kalo lagi hank mungkin ndak nyambung 😀 Untuk kategori simple sepertinya saya menduduki urutan pertama karena kadang saat memberikan komentar terlalu simple.

Tapi untuk kategori  menarik, bermanfaat, unik, dan lucu kayaknya masih jauh dech.

Komentar seperti criteria dari Om Trainer pernah ada di blog saya. Komentar dari Ely dan mas Iwan Yulianto. Komentar yang membuat postingan saya tidak adem ayem alias lebih hidup.

Ely Meyer berkata:

12 November 2012 pada 9:17 am (Sunting)

mbak kalau mnrtku orang boleh menulis apa saja, dgn bukti bukti yg dikira benar, cuma buatku pribadi, Hitler ini khan penjahat dunia, kalau benar dia meninggal dan dikubur di Indonesia, knp tidak ada pernyataan resmi dari pemerintahan Indonesia ? juga tidak ada pernyataan resmi dari pemerintahan Jerman ? di sini saya belum pernah mendengar sedikitpun berita ttg kuburan Hitler di sana, andai semua itu benar, pasti byk stasiun TV sini yg berbondong bondong ke sana buat meliput, jadi mungkin saya baru percaya kalau memang Hitler dikubur di sana kalau sudha ada pernyataan resmi dari ke dua pemerintahan, tentunya dgn bukti bukti akurat mbak

Iwan Yuliyanto berkata:

12 November 2012 pada 5:35 pm (Sunting)

mbak Ely, kesaksian bahwa Hitler itu meninggal dunia di Indonesia pertama kali saya baca di Harian Nasional Jawa Pos yg dimuat secara berseri pada tahun 1983, kemudian dimuat lagi th 1988. Berhubung saat itu saya masih SD, maka gak begitu intens ngikutin beritanya.

Ada sebuah novel bagus, judulnya: “The Escaped” karya Rizki Ridyasmara, yang lebih banyak mengungkap fakta sejarah tentang Hitler dan pasukan tentara Nazi yang dikuburkan di komplek makam Nazi di Bogor. Banyak sekali catatan kaki dan foto-foto sbg bukti otentik yg disampaikan dalam novel itu. Saya rekomendasikan novel ini untuk dibaca.

Baiklah, mari kita tunggu pemaparan selanjutnya dari mbak Ika. Monggo dilanjut, mbak

Mohon maaf buat teman-teman blogger jika komentar saya masih jauh dari bermutu. Sebelumnya saya belajar menulis dengan baik. Kini saatnya saya harus belajar memberi komentar yang bermutu.

By the way, apapun komentar teman-teman di blog saya, saya ucapkan banyak terimakasih. Komentar kalian yang menjadi penyemangat saya untuk terus menulis.

Salam hangat dari saya,

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

Iklan

62 pemikiran pada “Etika Berkomentar di Blog

  1. Memang diperlukan kemauan untuk membaca postingan secara lengkap agar mendapatkan pemahaman yg utuh tentang isi postingan.

    Namun demikian, setiap blogger pasti punya sudut pandang yg berbeda dalam memahami sebuah postingan.

    Di sinilah, sikap toleran dan tenggang rasa diperlukan apabila ada blogger yg berkomentar berbeda dengan isi postingan.

    Sebuah postingan yang menarik, mbak Ika

  2. Bu Ika …
    Terima kasih telah menyebut postingan saya disini … saya tersanjung …

    Dan ya … menurut saya … komentar itu sama pentingnya dengan isi postingan … ada banyak hal bisa kita dapatkan justru dari komentar yang masuk …
    Oleh sebab itu … saya selalu menghargai komentar-komentar yang masuk … walaupun tidak saya jawab semuanya … namun … komentar mereka pasti selalu saya baca …

    Salam saya Bu Ika

  3. terima kasih byk linknya mbak

    byk sekali yg bisa kudapat dari membaca dan membalas komentar komentar yg masuk di blogku mbak, pelajaran hidup, ide menulis dll

  4. Postinganya menarik Mbak Ika…setidaknya membuatku mikir,,kalo mau komen hehehe

    Tapi benar juga, bahwa komen itu suatu pembelajaran yang sangat baik untuk menambah ilmu dan wawasan…entah ilmu pengetahuan atau ilmu bersosialisasi.

    Membaca komen yang masuk otomatis menambah ilmu, apapun itu komenya.

  5. Ping balik: SUNSHINE AWARD « RANGTALU

  6. Ping balik: THE NINE FROM THE NEW LADIES « The Ordinary Trainer writes …

  7. Aku kalau ninggalin komen kayak apa ya? bingung deh jadinya. Rasanya sih yang penting ga jauh2 amat dari inti cerita yang ditulis empunya blog kali ya.. Cuma kadang numpang curhat juga sih.. hihihi

  8. Memang senang ya mbak kalau mendapat komen yang bisa menambah nilai bagi tulisan kita.
    Tapi setidaknya dalam setiap bewe memang kita membaca dulu isi postingan. Supaya komen kita memang nyambung dengan isi tulisan.
    Membaca artikel ini, bisa membuat saya introspeksi diri… sdh baikkan saya berkomentar…?

  9. Saya masih sekenanya berkomentar, jika postingan yang gue baca saya bisa paham dengan sangat dan ada yang bisa saya share maka sakan commnet serius. Tapi terkadang hanya koment untuk sekedar say hello, bisa karena aku gak begitu paham tentang postingan atau memang gak ada pertanyaan yang pengen aku sampaikan atau ada pengalaman yang pengen aku bagi 🙂

  10. Assalamu’alaikum Wr. Wb…

    Memang banyak ragam komentar seseorang atas postingan kita. Kalu yang nyambung tema, ya alhamdulillah, sehingga kita bisa berdiskusi di samping menjalin silaturahmi. Kalaulah komentar nggak nyambung, tak apalah, yang jelas sudah ada usaha untuk menyapa…

  11. Salam kenal, Mbak Ika. Saya malah nggak pernah inget gimana ya gaya saya kalau berkomentar di tulisan para sahabat. Rasanya saya hanya berkomentar sesuai dengan apa saja yang kebetulan melintas di pikiran saya saat itu.. . Kadang-kadang malah baca aja tanpa meninggalkan komentar, jika tidak punya ide komentra apa-apa he he..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s