Sekolah Berkarakter

Sudah menjadi sebuah kelaziman, jika anak akan menghadapi ujian, orang tua juga pasti terkena imbasnya. Kadang orang tua justru lebih panas dingin dibandingkan anaknya yang akan mengerjakan ujian. Ya, ujian menjadi momok yang mengerikan di negeri ini.

Saya mempunyai pengalaman menarik dengan sekolah anak saya. Sama seperti ibu-ibu yang lain, dua minggu sebelum ujian saya sudah mendesak guru untuk memberikan kisi-kisi yang akan muncul pada ujian nanti.

Jawaban sang guru membuat saya jadi lebih mencintai sekolah ini,”Bu, pelajari saja worksheet yang pernah disampaikan guru. Anak tidak usah ditekan untuk belajar. Natural saja. Lagi pula untuk kelas 1 sampai 3 kami lebih menekankan pada pendidikan karakternya.”

Sekolah anak saya memang sedikit berbeda dengan sekolah lain. Dari kelas 1 sampai kelas 3, anak tidak diberikan PR, tidak pula dibebani dengan buku-buku yang akan memberatkan punggungnya.

Piagam

Piagam

Sekolah ini lebih menanamkan pada anak bahwa sekolah itu menyenangkan.

Dan pada penerimaan rapor kemarin, anak saya mendapat piagam atas prestasi kesabaran yang ia miliki selama ini. Bukan karena nilai matematikanya 10 ataupun nilai bahasa Indonesianya 10.

Tambahan muatan pendidikan karakter yang dicanangkan Menteri Pendidikan, M Nuh mudah-mudahan tidak hanya berhenti pada tataran konsep tapi benar-benar teraplikasikan disekolah-sekolah dinegeri ini, agar pendidikan di Indonesia lebih bermartabat.

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

Iklan

30 pemikiran pada “Sekolah Berkarakter

  1. Selamat buat Fathiin Abdul Hamid atas achievement-nya.
    Putri-purtiku masih dibebani dg PR – PR dan tugas kelompok sepulang sekolah. Kasihan juga melihatnya. Apalagi kalo dibarengi dg ulangan.

  2. Sukaaaa dengan cara belajar seperti ini Mbak…karena modal kehidupan tak melulu soal Matematika yang bernilai 100, tapi juga kecerdasan karakter seseorang yang menentukan kesuksesan masa depanya.

  3. Selamat buat ananda Fathiin atas achievement-nya.
    Ngomong-ngomong jarang lho Mbak orang tua yang tidak mementingkan nilai akademis anak-anaknya. Kayanya kalau anak-anaknya gak mendapat nilai tinggi belum puas. Jadinya lagi-lagi anak yang terbebani.

  4. Saya yakin se yakin-yakinnya
    “Piagam” tersebut akan terus tersemat didalam hati anak Bu Ika …
    dan akan terus diingat …
    karena terus diingat … makan akan terus dikerjakannya … karena terus dikerjakannya … maka akan menjadi kebiasaannya … seterusnya demikian akhirnya menjadi karakter … Sabar

    Saya rasa ini patut dicontoh sekolah-sekolah lainnya …

    Salam saya Bu Ika

  5. Ini dia sebuah terobosan. Sepertinya emotional intelegence lebih diasah dahulu di sekolah ini. Hal yg sering “dilupakan” karena kebanyakan asyik mengejar kecerdasan intetelegence.
    Salam kenal, salam persahabatan selalu…

  6. Saya rasa ini memang bagus daripada menekankan pada nilai akademik doang, nanti anak akan merasa tertekan dalam belajarnya. Apalagi kalau diberi PR yang demikian banyak dari pelajaran di sekolah.

    • Sekolah ini merupakan sekolah idealis. 3 profesor UGM mencoba membuat formulasi sekolah yang ideal. Tidak hanya mengkritik atas buruknya mutu pendidian di Indonesia, tapi juga membuat rule model sekolahnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s