Lihat isinya

Undzur ma qola wa la tandzur man qola

Lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan

 

doc. Google

doc. Google

Sebuah muhfudzot awal yang saya terima setelah man jadda wa jadda sewaktu di pondok dulu. Sebuah kalimat pendek namun sarat makna yang mendalam. Dan pada kenyataannya saya sering sekali mendapatkan kata-kata penuh hikmah yang memberi saya penyadaran tentang sesuatu. Terkadang memberi saya pencerahan. Bahkan bisa mengubah pola pikir saya dari orang yang mungkin tidak masuk dalam daftar orang yang memiliki kedalaman ilmu ataupun dari orang yang baru saya kenal.

Seperti komentar pak Yudhi Hendro ketika saya menulis tentang sulitnya beristiqomah dalam melakukan sebuah kebaikkan. Singkat tapi begitu mengena. Beliau berkomentar,”The more you act, the more you get.”

Mengingatkan saya bahwa apa yang saya tanam itulah yang akan saya petik. Dan banyak sedikitnya, itu semua tergantung pada seberapa banyak yang telah saya perbuat.

Pernah suatu ketika saya ngobrol dengan seorang nenek. Singkat cerita si nenek bercerita bahwa ia akhirnya mendaftar haji dengan cara berhutang. Ada kalimat dari si nenek yang akhirnya mengubah pola pikir saya hingga saya terapkan dalam kehidupan saya. Beliau berkata,”Manusia itu lucu. Setiap hari tak lupa berdoa Allahumma inni a’udzubika minal hammi wal hazan, wa a’udzubika minal ajzi wal kasal, wa a’udzubika minal jubni wal buhli, wa a’udzubika min ghalabatid daini wa qahrir rijaal* tetapi pikirannya selalu ingin berhutang. Bagaimana Allah akan mengabulkan doanya,” lanjutnya.

Nendang banget. Sampai saya terperangah. Bagaimana hutang kita akan lunas jika kita selalu berfikir bagaimana caranya menambah hutang. Dan mulai saat itu, ketika saya akan berhutang saya selalu berfikir 2,3 bahkan 4 kali. Saya timbang-timbah apakah hutang ini bersifat produktif atau hanya memenuhi keinginan saya. Lalu, apakah hutang ini benar-benar dibutuhkan. Urgent atau urgent sekali.

Beberapa waktu lalu saya juga mendapatkan sebuah kalimat yang mampu memberi saya pencerahan dan mampu memaknai sebuah ikhtiar. Ya, beberapa waktu yang lalu saya membeli sebuah mobil untuk dititipkan pada sahabat suami untuk direntalkan. Sahabat suami saya berkata,”Kalo perhitungan manusia, sekarang baru sepi. Tapi entah jika Allah berkehendak lain. Jika memang itu rejeki kita, tak ada yang tak mungkin.”

Saya yang terbiasa hidup dengan target dan perencanaan rasanya harus membalikkan 180 derajat pola pikir saya untuk mencerna kata-katanya. Target-target kadang mengungkung pola pikir kita.  Tatkala akal berkata tidak mungkin. Lupa bahwa ada kekuatan lain yang lebih hebat.

Allah memberi kita satu mulut dan dua telinga agar kita lebih banyak mendengar. Mendengar hal-hal yang baik dari siapapun. Tak pandang derajat, pendidikan, status social dan lain sebagainya.

Selamat berakhir pekan sobat 😀

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

*Artinya; Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemurungan dan kesusahan, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan, dan aku berlindung kepada-Mu dari ketakutan dan kekikiran, aku berlindung kepada-Mu dari tekanan hutang dan paksaan orang. (HR Abu Dawud)

Iklan

31 pemikiran pada “Lihat isinya

  1. Woooowww…bener2 postingan akhir pekan yg sarat makna dan manfaat Mbak Ika…..memang benar adanya ada kekuatan Maha dahsyat di luar jangkauan akal dan logika kita sbg manusia….so, kepadaNyalah selalu berpasrah diri seutuhnya..

  2. Itkhtiar itu harus terus dilakukan … sesuai dengan boundaries pemikiran manusian …
    namun …
    Doa juga harus terus dipanjatkan … wujud penyerahan total pada Sang Maha Pencipta …

    Salam saya Bu Ika

  3. Ilmu Allah memang maha luas, dan saya disini mendapatkan salah satunya..
    Makasih banyak Mbak….. memang akhir pekan adalah saat untuk istirahat sejenak dan introspeksi diri.. Salaaammmm.. 🙂

  4. Malu kadang kalo membaca tulisan ini. Sebagai manusia, saya sering mengaku-aku bahwa apa yang kita raih adalah hasil kerja kita. Padahal, Allah sudah mengetahui seberapa semuanya itu dalam catatan takdirnya. Manusia sekedar berusaha dan meminta lewat doa, meskipun Allahlah sejatinya yang menguatkan manusia hingga sanggup berusaha dan berdoa.

    catatan yang menginspirasi mbak Ika.
    salam kenal ya. 🙂
    HP

  5. terima kasih mbak ika…nambah ilmu lagi nih saya..
    memang terkadang hal2 baik itu tak selalu kita dapat dari orang2 yang wah ya mbak..
    bahkan mungkin kita bisa belajar banyak dari orang2 yang hidupnya kurang beruntung dr kita…

  6. Saya setuju banget dengan quotation dari Bp. Yudhi Hendro. Mantap sekali kutipannya. Ayo kerja keras, hasil serahkan pada Tuhan Yang Maha Berkuasa. Salam mba Ika.

  7. saya inget dulu si sinetron Ramadhan, Lorong Waktu, dedy mizwar pernah ngucapin dialog yang sama, “jangan liat siape yang ngomong, tapi ape yang diomongin…” 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s