Emansipasi Ala Wong Ndeso

Jum’at Mubarok

Jika perempuan kota disibukkan dengan manicure pedicure serta perawatan kecantikan lain ke spa atau salon yang sekarang banyak bermunculan, lain halnya dengan perempuan kampung.

Sudah 5 tahun saya tinggal di Purworejo tetapi kadang masih saja terbengong-bengong ketika melihat seorang wanita melakukan aktifitas yang jauh dari yang namanya FEMINIM.

Emansipasi

Wanita-wanita tangguh

Peralatan pertukangan ataupun senjata tajam semacam gergaji dan golok pun mahir mereka gunakan.

Seperti beberapa waktu lalu, pembantu saya si Markonah yang melihat pohon bamboo disebelah rumah sudah mengkelung *maaf bingung membahasakan dalam bahasa Indonesia πŸ˜† * diatas genting. Tanpa babibu ia pun langsung menggergajinya dan menariknya hingga tidak menutupi genteng rumah kami lagi.

Ada yang lebih aneh lagi. Beberapa tahun yang lalu tiba-tiba sopir saya pulang dari mengantar barang dengan raut wajah sedih. Ia meminta ijin pada saya untuk pulang lebih awal karena ia baru mendapatkan kabar dari salah seorang kerabatnya kalo istrinya jatuh dari pohon kelapa. Allahu Akbar!

Dan ketika saya membesuk istri sopir saya tersebut ke kampungnya, saya mendengar cerita bahwa wanita di daerah Bruno dan sekitarnya memang terbiasa memanjat pohon kelapa 😯

Ada satu lagi yang tak luput dari pengamatan saya, rata-rata tukang parkir di tempat saya ibu-ibu alias kaum perempuan.

Saya pun bertanya dalam hati, jika aktifis kesetaraan gender mengetahui hal tersebut apa komentar mereka. Apa ini akan mereka sebut sebagai emansipasi ala wong ndeso?

Hmm, entahlah. Mungkin inilah yang dinamakan wolak walik e jaman.

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

Iklan

55 pemikiran pada “Emansipasi Ala Wong Ndeso

  1. wow ..baru tahu aku mbak kalau ada wanita yg biasa manjat pohon kelapa
    pernah tuh pas liburan di Bali , lihat pekerja bangunanya wanita mbak

  2. menurutku mbak.. orang desa itu jauh lebih mandiri ketimbang orang kota. perempuan kota terlalu manja. segala2nya menggantungkan laki-laki. mau enaknya aja.. kalo perempuan desa? mereka justru bahu membahu dengan suaminya untuk hidup.. saya salut ama perempuan desa. mereka benar-benar tangguh, walau kerap dicap “udik”.

    ya ini pengamatanku sih… maaf kalau tidak berkenan..

  3. Hmmm …
    saya tidak bisa berkomentar Bu Ika …
    namun hati kecil saya berkata …
    ini adalah cara mereka untuk bertahan hidup …

    (saya tidak bisa membayangkan … wanita memanjat kelapa)(merinding saya Bu … hawong melihat lelaki memanjat kelapa saja saya merinding jeh …)

    Salam saya Bu Ika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s