Strengthen The Image

Membaca postingan Om Trainer yang berjudul “Double the Usage” menginspirasi saya untuk membuat analisa “sotoy” ala Om Trainer 😆

Ada sebuah produk yang memiliki konsumen sangat sangat sangat loyal. Mengapa saya katakan sangat-sangat loyal?

Jika produk lain tidak memberi penjelasan secara gamblang efek samping produknya, produk ini jelas-jelas mencantumkan efek samping serta masalah yang akan timbul jika menggunakannya.

Tapi anehnya, konsumen produk ini tetap saja membelinya. Bahkan penggunanya cenderung meningkat.

Mau tahu produknya? Yap, betul sekali. Tidak lain dan tidak bukan produknya ialah ROKOK 😆

Iklan rokok2

Berdasarkan penelitian Komnas Perlindungan Anak tahun 2007 didapatkansekitar  91,7 persen anak usia 13-15 tahun mulai merokok.* Dan parahnya, hal ini terjadi karena mereka terpengaruh iklan rokok.

Iklan Rokok

Dalam iklan digambarkan seorang perokok itu keren. Tercermin dari model yang ganteng, badan oke. Mampu melewati rintangan, bahkan bisa menjinakkan hewan liar. Ataupun dengan merokok jadi bisa asyik rame-rame.**

Sesuatu yang diulang-ulang secara otomatis akan terekam kuat dalam otak manusia. Sengaja ataupun tidak.

Ya, iklan rokok memang dahsyat. Bahkan menimbulkan multiple loyalties *istilah buatan saya sendiri*. Blunder loyalitas. Mulai dari petani, produsen, penjual hingga user.

Beberapa waktu yang lalu petani tembakau memprotes PP No. 109 tahun 2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan.

Mereka mengancam akan golput dan tidak mau membayar pajak. Menurut Kepala Dinas Perkebunan Jawa Tengah, Tegoeh Wynarno sikap petani ini dinilainya terlalu berlebihan. Karena PP Tembakau tidak akan merugikan petani karena hanya mengatur iklan dan sertifikasi produksi.***

Okelah jika dikatakan bersu’udzon, bisa dipastikan siapa yang menggerakkan para petani yang lugu-lugu ini? Yap, betul sekali. Pastinya produsen ikut andil didalamnya.

Selain petani dan produsen, penjual pun memiliki loyalitasnya yang tak kalah kuatnya. Menurut kabar di pasar yang sering saya dengar,  jika seorang pedagang besar ingin mendapatkan tempo dari pabrik rokok, ia harus menjaminkan sertifikat tanah senilai tertentu. Padahal tempo yang ia peroleh hanya 3 hari, maksimal 1 minggu.

Cerita tentang pedagang rokok kecil tentu beda dengan pedagang besar. Pedagang kecil harus membayar secara kontan bahkan kadang harus inden untuk membeli produk ini.

Produk inilah yang sering membuat suami saya gondok setengah mati ketika menggantikan salesnya yang tidak masuk dan hanya diberi senyuman serta ucapan,”Maaf, belum bisa setor dulu mas, belum ada uang” ee tak berapa lama ia mengeluarkan uang 5 juta untuk membayar rokok.

Analisi “sotoy” ini lah yang menyadarkan saya mengapa urusan rokok begitu komplek dan sulit dihentikan walaupun institusi agama tertinggi negeri ini *MUI* telah mengharamkannya.

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

.

.

Note;

Untuk para perokok dilarang gondog ya. Ini hanya analisa sotoy ala saya 😆

Sumber:

*Pos kota

** Mengutip tag line iklan rokok.

*** Tempo.co

Iklan

47 pemikiran pada “Strengthen The Image

  1. Mba … Dengan tulisan ini saya makin yakin… Emang sussah berhenti ngerokok… 4 bulan dah berhenti ngerokok.. Eh nyambung lagi..

    Sebetulnya ini lagu lama.. Maksudnya kalau sudah urusan yang ngga jauh dengan mulute… Repot dan Ribet..
    Kabar baeknya Alhamdulillah anak2 saya tidak ada yang merokok baik perempuan atau laki.. Termasuk mantu dan cucu… Kalau saya lagi merokok kabur semuanya…
    .

  2. emang susah yah mba memberantas perokok karena rokok itu identik juga dengan emosional si perokok, kadang saat bete larinya ke rokok atau saat marah, saat kehilangan ide?? banyak yg larinya ke rokok hehe

  3. Alhamdulillah, kami sekeluarga mulai dari kakek, ayah dan anak-anak beliau tidak ada yang merokok.
    Saya sendiri juga menunggu ketegasan pemerintah kampanye anti-rokok dengan gambar-gambar mengerikan pada bungkus rokok. Bukan hanya tulisan kecil seperti sekarang ini.

  4. Suamiku sdh lama banget mbak berhenti merokok, cuma satu yg bisa membuat orang Insya Allah sukses nggak rokok lagi yaitu niatnya 🙂

  5. dari yang saya baca pada bukunya Ippho right santosa emang strengthen image itu penting banget mbak. Saya sedang mati-matian mencari ide buat memperkuat image produk yang saya jual, ada 2 produk yang definitely berbeda. Asik tapi bikin puyeng..tulisan mbakyu bagus-bagus ya..aplikatif gitu. Apalagi panjenengan adalah pelaku usaha, jadi bisa saya tiru 😀

    • Jika memiliki modal kuat seperti perusahaan besar cenderung lebih mudah. Tapi jika modal kecil seperti bisnis UMKM memang paling pas untuk memperkuat image kuncinya kualitas dan pelayanan. Jadi konsumen lebih puas dan akhirnya terjadilah pemasaran dari mulut ke mulut dan itu pemasaran yang paling efektif. Orang lebih percaya untuk membeli sesuatu jika sudah recommended

  6. Hkeke.. jadi inget dulu pas SMA perokok berat.. makanin uang jajan dari rumah.. dan ingat banget waktu itu mau berhenti rasanya susah. Memang ada semacam… bisa dibilang… ‘keterikatan’ atau addict terhadap rokok. Tidak bisa begitu saja berhenti 😆

    Sekedar share, untuk berhenti, saya perbanyak kegiatan olahraga. Dari yang tadinya malas-malasan, saya jadi sering olahraga dari pagi, siang, sore, hingga malam hari. Rasa capek dan keringat membuat niat merokok jadi menipis. Ah, dan juga, ada dukungan kuat dari orangtua dan (mantan) pacar 😀

    Dann… Alhamdulillah sampai sekarang nggak ngerokok lagi :mrgreen:

  7. Aku termasuk golongan bukan perokok, mbak. Jadi mudah2an paru-parunya masih normal.
    Bisa jadi propaganda dan kampanye2 tentang bahaya merokok bagi kesehatan kalah gencar dengan iklan atau promosinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s