Jangan Lihat Kulitnya

doc. google

doc. google

Jum’at Mubarok,

Ada sebuah kisah yang menarik tentang sepasangan suami istri yang ingin bertemu dengan rektor Harvard University. Mereka berpakaian sangat sederhana dan terlihat usang.

Demi melihat penampilan pasangan tersebut, sang sekretaris rektor  pun menjawab agak sinis ketika mereka bertanya apakah bisa bertemu dengan rektor saat itu. “Beliau sedang sibuk dan tidak bisa diganggu!” jawab sekretaris rektor.

“Baiklah, kalau begitu bolehkah kami menunggu sampai beliau punya waktu?” kata sang istri.

Selama 4 jam pasangan tersebut diabaikan oleh sang sekretaris dengan harapan pasangan tersebut segera pergi. Tanpa diduga, pasangan tersebut menunggu berjam-jam hingga membuat kesabaran sekretaris rektor menguap.

Dengan kekesalan yang memuncak,  akhirnya sekretaris tersebut menemui sang rektor dan memintanya untuk menemui pasangan tersebut agar cepat pergi.

Sang istri lalu mengemukakan tujuan kedatangannya. Maaf mengganggu kesibukan tuan,” ujarnya. Kami memiliki seorang anak yang meninggal karena kecelakaan pada tahun pertama kuliah disini, kami ingin mendirikan monument untuk mengenangnya” lanjutnya.

Betapa terkejut sang rector mendengar penuturan istri dari pasangan tersebut dan berkaya,”Jika semua orang yang pernah kuliah dikampus ini meninggal dan mendirikan patung, lama-lama tempat ini akan menjadi kuburan,” ujarnya.

Bukan begitu maksud kami tuan,” jawab sang istri. Kami akan menyumbang untuk pembuatan gedung di kampus ini,” lanjutnya.

Demi melihat penampilan pasangan ini, sang rector berkata dengan ketus,”Gedung? Apakah anda tahu berapa biaya yang dibutuhkan untuk membuat gedung? Kami telah menginvestasikan 7,5 juta dollar untuk membangun universitas ini.

Sepasang suami istri tersebut ternyata Mr. dan Mrs. Leland Stanford. Demi mendengar perkataan rektor, sang istri alias Mrs. Stanford berkata pada suaminya,”Kalau hanya 7,5 juta dollar mengapa kita tidak membuat universitas sendiri.”

Itulah sepenggal cerita awal berdirinya Stanford University.

***

Beberapa waktu yang lalu saya membaca di Koran Online, Kom***ana, ada seseorang yang menulis ketidak sukaannya terhadap cara berpakaian Bob Sadino karena dianggap tidak sopan. Bisa dibaca disini

Dalam sebuah buku tentang Bob Sadino yang terbit tahun 1998, Bob Sadino mengungkapkan alasan mengapa ia berpakaian seperti itu. Ia mengatakan bahwa petani bisa kaya dan orang kaya itu tidak selalu orang yang memakai dasi, pakaian klimis de el el.

Intinya, ia ingin orang paham bahwa orang yang berpakaian bagus dan berdasi itu tidak selalu pantas untuk dihargai.

Dalam siroh shahabat disebutkan bahwa Abdurrahman bin Auf, orang paling kaya di Madinah, ketika ia duduk bersama dengan para pembantu maka tak bisa dibedakan mana pembantu mana Abdurrahman bin Auf.

Sering kali kita terjebak dalam kesimpulan yang salah ketika menilai seseorang. Terutama ketika penilaian kita didasarkan atas penampakan luarnya.

Jangan pernah membayangkan seorang bos preman berpenampilan menyeramkan dengan tato disana sini. Karena pada kenyataannya bos preman biasanya berpenampilan rapi dan jauh dari kata menyeramkan. Tutur katanya pun halus dan tertata.

Itu berdasarkan cerita dari teman saya yang pernah berurusan dengan bos preman terkait proyek yang akan ia kerjakan.

Di era seperti sekarang dimana penampilan bisa dipermak sesuai keinginan si empunya, rasanya kita perlu lebih berhati-hati dalam menilai seseorang.

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

Iklan

61 pemikiran pada “Jangan Lihat Kulitnya

  1. sepakat mbak, kadang penampilan luar itu tidak selalu mengambarkan kondisi sebenernya, jadi keingetan tetangga yg penampilannya biasa aja masuk restoran trus dicuekin, padahal dia orang kaya hehehe

  2. baru semalam ngobrol dengan sesama penumpang angkot ke rumah. di sini, kebanyakan lebih menyukai penampilan daripada yang ada di dalamnya (kemampuan & ketrampilan). Itulah kenyataan saat ini.
    Bob Sadino boleh dibilang sebenarnya ya nyentrik…

  3. Jadi ingat kalau saya berbelanja sesuatu di Mall. Ketika datang mengendarai mobil grand max bak terbuka, pakir pun dipersulit. Ketika dilain waktu datang dengan mobil satunya, pintu pun mereka bukakan.

    Kadang ketawa sendiri membayangkannya.

  4. Kalau saya pribadi… Saya akan berusaha menyeimbangkan diri. Kalau saya tahu saya akan datang ke tempat di mana kerapihan sangat diperlukan, apalagi kalau yang menyambut saya juga berpenampilan rapi, saya akan menyesuaikan diri.

    Jadi: di lapangan (kalau lagi kerja lapang) pasti saya pakai baju lapang, kalau lagi santai pakai baju santai, kalau lagi acara formal pakai baju formal. Senantiasa menyesuaikan diri, selain untuk menghormati orang lain juga untuk menghormati diri sendiri 🙂

  5. Untuk menilai orang memang tidak mudah dan boleh sembarangan..
    Namun agar diri kita tidak salah dinilai orang, mbok ya jangan juga berpenampilan sembarangan alias jaga image lah.. Liat sikon lah.. Ya Mbak ee.. Semoga Mba penampilannya oke truus ya..

  6. he heh e oom bob sadino rada2 ekstrim deh santainya.

    tapi memang kadang2 suka tersepona deh ihat orang2 yang heboh bener penampilannya, tapi sembari mikir juga telah terjadi sesuatukah? yang kerap terjadi kalo high profit betulan biasanya penampilannya biasa2 aja. kenapa coba? he he he logikanya gak kaya2 kalo gak pelit kali ya mbak…

    salam
    /kayka

  7. setuju nih sama komen mbak novi diatas.
    di pasar dekat rumah saya juga ada mbak bos preman gitu. uniknya dia juga orang ‘kate’, tapi pakaiannya cenderung rapih dan malah rajin shalat Jum’at di mesjid. haha 😀

  8. memang penampilan luar yang lebih mudah diubah malah menjadi acuan yang membentuk persepsi kita tntg org tersebut,

    berarti penampilan luar juga harus dijaga juga kan?

  9. udah baca postingan di kompasiananya Mba dan kok saya males mau komen ya. Hihihi.
    Ada komentar yang oke dari tukang warung Gunawan Pramadianto:
    “bukannya sombong, pendapatan saya saat ini kok lebih besar daripada waktu pake celana panjang, sepatu kulit dan kemeja tiap hari ya….”
    Hihihihi. Duluuu mungkin sayaa akan berpendapat sama, tapi sekarang setelah pake dasi tiap hari ngantor kok rasanya geli baca postingan itu. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s