Duren oh Duren

Musim durian kali ini, saya dan keluarga betul-betul puas menikmati buah yang satu ini. Walaupun musim ini tidak panen raya seperti tahun kemarin, hampir bisa dipastikan kami membeli 4 buah durian setiap pekan.

Panen tahun kemarin kami hanya membeli durian sekali ketika ada anggota keluarga dari Blitar datang berkunjung. Padahal tahun lalu harga durian sangat murah, Rp 5.000 per buahnya.

Entah karena sudah eneg duluan melihat durian dijual dimana-mana, yang jelas kami sekeluarga tidak tertarik membeli durian untuk dikonsumsi sekeluarga.

Ya, selain dikenal asal muasal kambing PE Etawa di Indonesia, Purworejo juga terkenal sebagai sentra buah durian dan buah manggis untuk kawasan Jawa Tengah Selatan dan DIY. Dan biasanya kedua buah tersebut berbuah pada musim yang sama.

Duren oh duren

Duren oh duren

Terus terang, sebenernya alasan mendasar mengapa akhirnya saya dan keluarga doyan banget makan durian di musim ini ialah karena saya menemukan pedagang durian di tengah pasar Suronegaran yang pas banget.

Bukan karena tempatnya yang ok tapi kualiatas duriannya itu lho yang bikin saya mau lagi lagi dan lagi.

Pedagang durian ini bukan pedagang sembarangan, ia tempat kulakkan para penjual durian yang ada dipinggir jalan Purworejo-Kutoarjo. Harganya pun relative murah, Rp 20.000 per buah. Masih rasional untuk kantong kami.

Selain itu, pedagang yang satu ini menjadi pedagang yang spesial karena ia menjual durian yang asli matang dipohon. So, kebayangkan gimana rasanya. Manisnya sempurna dan empuknya pas sekali. Hhmmm yummy

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

Iklan

66 pemikiran pada “Duren oh Duren

  1. Wah…saya jadi pengeeeeennnn.kalo ditempat saya,sekita akhir tahun baru musim durian. kalo sekarang sih ada,tapi karena belum musim,jadi harganya mahal. jadi nunggu musim duren aja baru beli.hehehehe

  2. Saya suka duren, tapi sering eneg kalau sudah makan terlalu banyak. Untungnya suami pinter masak, klo pas musim duren, dia beli banyak terus dibikin tempoyak. Bisa awet deh dan nggak bikin eneg lagi

  3. Saya anti Duren, mbak…
    Cium aroma saja, udah mual. Pernah icip sekali (pertama dan terakhir) waktu masih SD. Cukup sudah…! Sekali gigit dan gak sampai ke perut.
    Sampai pernah bilang ama suami, “Membawa duren ke rumah = Mengusir saya dari rumah”. Hehehe…. (kejem ya)

  4. setiap hari teman2 di lyn aku cerita soal duren. mereka antusias banget bercerita abis ke panen raya dst…. but sayangnya aku buka penggila duren. malah cenderung males nyicipin. walhasil aku ga paham rasa ‘puas’ yg sebegitunya ama makanan duren.

    duren oh duren …. yg jelas engkau hanya makanan , bukan Duda Keren.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s