Menembus Batas, Meraih Cita-Cita

Belajar dari orang yang sederhana kadang lebih mengena dihati. Orang yang berpikir sederhana biasanya tidak memberikan kita teori-teori yang kadang tidak membumi alias sulit diterapkan. Orang sederhana lebih sering mengungkapkan apa yang mereka rasakan ataupun mereka pernah lakukan.

Belajar dari Budi Setiadi berarti belajar untuk tetap opstimis dalam kondisi apapun. Ia menjawab alasan sebagian besar alasan orang miskin yang tidak memberikan pendidikan setinggi mungkin pada anak-anaknya. Ya, alasan ekonomi yang sering digunakan orang miskin untuk tidak menyekolahkan anaknya ia patahkan dibuku ini.

Layout dan gaya bahasa yang dipaparkan dalam buku ini memang kurang menarik, tetapi esensi yang disampaikannya mampu menginspirasi kita untuk tetap optimis menyekolahkan anak di sekolah yang terbaik.

doc. google

doc. google

Profil

Budi setiadi adalah seorang ayah yang memiliki 6 orang anak yang memiliki prestasi luar biasa. Tiga diantaranya telah mengenyam pendidikan di universitas. Putri sulungnya kini sedang melakukan penelitian sebelum ia melanjutkan program magisternya di Jerman. Putri keduanya sedang mengenyam pendidikan di Teknik Mesin ITB. Sedangkan putra ketiga sedang belajar di Fakultas Teknik Jurusan Teknik Geodesi UGM.

Budi Setiadi merupakan pegawai pasar atau lebih tepatnya anggota HPPK (Himpunan Pedagang Pasar Klewer) yang pekerjaaannya menarik iuran ke ratusan pemilik kios di pasar klewer Surakarta. Diluar pekerjaannya, Budi Setiadi kerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Dan total penghasilan yang ia dapat RP 450.000 perbulan.

Keterbatasan yang tak menghalangi impian

Minimnya penghasilan yang didapat tak menghentikan impiannya untuk menyekolahkan anak setinggi mungkin.

Tak hanya terkendalan biaya, lingkungan tempat tinggal Budi pun tergolong “tidak sehat” untuk perkembangan putra putrinya. Ya, tempat tinggalnya merupakan “daerah hitam”. Praktik molimo begitu nyata tersaji disini.

Begitu besar perhatian Budi terhadap pendidikan putra putrinya, dengan gaji Rp 450.000 perbulan kadang ia sisihkan Rp 200.000 untuk berkonsultasi dengan psikolog jika ia membutuhkan saran psikolog ketika ia menghadapi masalah dengan tumbuh kembang putra putrinya. Walaupun dengan itu tak jarang keluarganya makan tanpa lauk alias makan nasi dengan garam. Bahkan lebih sering berpuasa.

Dari hasil konsultasinya dengan psikolog, bakat dan minat putra putrinya telah ia ketahui sejak kecil. Disinilah kunci suksesnya mengantarkan putra putrinya ke jenjang pendidikan tinggi.

Kesuksesan Budi Setiadi merupakan buah dari kegigihan ikhtiar dan kekuatan doa. Sebuah contoh nyata yang sangat mungkin kita tiru.

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

 

 

,

,

Note: Tulisan ini jauh dari lengkap. Jika teman-teman blogger ingin mengetehui lebih lanjut, silahkan membeli bukunya.

Iklan

47 pemikiran pada “Menembus Batas, Meraih Cita-Cita

  1. woah keren tuh pengalaman pakbudi mengantarkan anak2nya mendapat pendidikan layak, padahal gajinya segitu ya, dibawah UMR tuh.. salut..
    bukunya keren tuh.. mo kasih tahu temen ah.. buat referensi parenting dia..

  2. wah… reviewnya kurang nih… hehehehehe.
    baca judulnya jadi ingat film serial singapura dulu. Menembus Batas. tapi ceritanya beda banget sama buku ini… (ini lagi komen apa sih???)
    tapi salut sama Pak Budi Setiadi… makasih rekomendasi bukunya mba. Boleh juga mba baca bukunya Eloy. belum selesai sih saya. tapi ceritanya bagus.

  3. salut banget, dengan penghasilan segitu, masih ‘perlu’ ke ahli psycologi segala. padahal itu kan bisa dianggap nomor kesekian. but saking care-nya beliau untuk mendapat advise terbaik buat pendidikan sang anak, dibelain juga.
    malu, aku aja gak pernah consultasi ke psikolog soal bakat anak.

  4. wahh keren banget yachh…penghasilan segitu tapi anak2nya jadi sarjana semua….bener2 hebatt….mudah2an orangtua yang lain bisa terispirasi dari kisah nyata ini….

    • Betul pak, dan cerita ini sangat menginspirasi saya. Biar kami hidup cukup anak harus sekolah disekolah Internasional karena saya pengen banget anak2 bisa sekolah di Eropa. Yah, namanya juga cita2, harus setinggi mungkin khan pak 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s