Konsumen Cerdas Pilih Pangan Lokal

Beberapa minggu terakhir, tiba-tiba bawang merah dan bawang putih menjadi topik yang hangat dibicarakan oleh semua lapisan masyarakat. Mulai dari para ibu rumah tangga, pembantu, pedagang sayur mayur, pemilik restoran hingga para pengamat ekonomi yang menyatakan kenaikkan harga bawang menyebabkan inflasi.

Setelah sebelumnya harga daging meroket, sebelumnya lagi cabe yang menembus harga Rp 100.000 dan sebelumnya lagi harga kedele yang menyebabkan para produsen tempe berhenti beroperasi sejenak demi menunggu stabilnya harga kedele, kini giliran bawang merah dan bawang putih.

Ada dua kemungkinan penyebab melonjaknya komoditas pangan di Indonesia. Pertama, disebabkan factor teknis. Contohnya gagal panen karena tanaman terserang hama ataupun karena terjadi bencana alam seperti banjir. Kedua, by design. Artinya kelangkaan dibuat sedemikian rupa atau dengan bahasa gampangannya kelangkaan bahan pangan memang sengaja dibuat untuk menaikkan harga yang pada akhirnya akan menaikkan keuntungan para tengkulak ataupun pedagang besar.

Simbok2Dibukanya keran perdagangan bebas saat ini semakin mempermudah praktek permainan harga komoditas pangan. Ya, banyak kalangan menduga terjadi praktek kartel dibalik kelangkaan produk pangan di Indonesia.

Saya jadi tercenung demi mengingat ibu-ibu yang setiap pagi melintas didepan rumah saya dengan membawa berbagai bahan pangan yang mereka petik dari kebun sendiri untuk dibawa ke pasar. Adakah terpikir dalam benak mereka untuk mempermainkan harga seperti para pengimpor produk pangan?

Kualitas yang tidak sebanding dengan tampilan luarnya

Sebagai konsumen cerdas kita perlu memilah dan memilih makanan yang akan kita konsumsi. Apalagi dengan maraknya aneka impor produk pertanian sekarang ini. Tak hanya itu, sering kita tertipu dengan tampilan luarnya, contohnya buah-buahan impor.

Kecantikan tampilan luar buah impor menjadikannya banyak dipilih oleh sebagian besar masyarakat dibandingkan buah lokal. Walaupun pada kenyataannya, cantik diluar belum tentu aman untuk dikonsumsi.

Ya, buah impor disinyalir banyak mengandung bahan pengawet yang berbahaya bagi tubuh. Selain mengandung zat lilin, buah impor juga mengandung formalin serta zat pewarna yang sangat bahaya bagi kesehatan.

Jika kita cermati, buah impor yang dikirim dari negara asal memerlukan waktu pengiriman lebih lama dibandingkan buah lokal. Belum lagi jika buah tersebut sedang tidak musim. Tapi anehnya buah impor yang sampai ke tangan kita terlihat masih sangat segar. Sebagai konsumen cerdas kita perlu lebih banyak menggali informasi keamanan pangan yang akan kita konsumsi.

Nasionalisme dan kedaulatan pangan

Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu

Tiada badai tiada topan kau temui, ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman

By Koes Plus

Sesuatu yang sangat ironi telah terjadi di negara kita. Negara yang subur dengan berbagai keragaaman hayatinya menggantungkan pasokkan produk pangan dari impor. Sama seperti lagu “Kolam Susu” milik Koes Plus, slogan gemah ripah loh jinawi yang dulu sering didengungkan sepertinya semakin tak terdengar gaungnya.

Jika kita tidak berbenah dari sekarang artinya jika kita terus mengandalkan produk pangan impor, dikhawatirkan ketergantungan ini akan mengancam kedaulatan pangan bangsa.

Bayangkan jika suatu saat negara yang biasa mengekspor bahan pangan ke negara kita mengalami krisis pangan entah karena bencana alam, peperangan ataupun paceklik, bukankah mereka akan mementingkan keamanan stok pangan negaranya terlebih dahulu?

Akankah kita korbankan kedaulatan pangan bangsa kita demi mendapatkan produk dengan harga murah dengan kualitas yang tidak terjamin?

***

Tulisan ini diikutkan dalam lomba “Konsumen Cerdas” yang diselenggarakan oleh Direktorat Standardisasi dan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan

Banner_Konsumen_Cerdas

Iklan

88 pemikiran pada “Konsumen Cerdas Pilih Pangan Lokal

  1. buah-buahn dan sayuran yang seharusnya menyehatkan malah jadi tidak menyehatkan ya mbak kalau ada bahan pengawet dan lain sebagainya. Smeoga menang ya mbak dikontesnya

  2. iya mbak….padahal kalau harga melonjak, petaninya juga belum tentu ikut kenaikan harga ya…..
    soal buah impor aku setuju, padahal soal rasa buah lokal lebih enak, tapi ya emang kalah penampilan aja
    sukses dengan lombanya mbak

  3. Di Malaysia, menanam bawang merah, pastilah ia tak berbuah, tapi di sana tak pernah harga bawang semahal itu. Pernah2nya paling mahal itu mencecah RM. 10 dalam Rp. 30.000 ketika India terkena banjir besar. Lantas, adakah banyak salah dalam system di Negara kita? Wallahua’lam….

    Eniwe, salam kenal, Mbak ;0
    Sepertinya saya baru kemari πŸ™‚

  4. Semoga menang yaaa mbak
    Ulasannya mengena, sayang dirumah sy g ada mbok2 yg metik sendiri jadi terpaksa harus menderita ngikuti naiknya harga yang hampir nyundul langit (dapur) πŸ˜€

  5. semoga menang lombanya:)) menarik:) karena ini byk dikeluhkan dr tanah air:( bahan pangan di kontrol oleh segelintir orang, pernah ada yg mengulas, untuk sebagian importir tentu saja,kran import sgt menguntungkan, mereka bs dpt untung milyaran, mana peduli nasip petani lokal*gemez* pastinya lah ada ‘permainan’ yg punya wewenang.
    *sbukannya mau banding2kan dgn negara sekarang saya tinggal* paling ga jd gambaran:S disini petani lokal sangat di suport pemerintah,bahkan untuk bahan pangan pokok,ada subsidinya sendiri,ada asuransi buat para petani,mereka dididik untu melek hukum*padahal di indo model penyuluhan2 gt dulu byk kan ya* kebutuhan dalam negeri kebanyakan ya produksi lokal,sebagin bahan pangan tropis aja yg import,tp didaerah turki yg agak ‘panas’ seperti antalya, mereka jg mulai mengembangkan produk2 tropis,dan tipikal orang turki kalo urusan buat ‘cinta produk lokal’ ga usah di suruh2, mereka agak sedikit gengsi kl beli produk negara org kl negara sendiri msh bisa produksi*saya ni beli bawang putih yg agak murah aja di teliti sm suami, tau produk china suruh buang:S mending mahal dikit tapi produk lokal,kebetulan mertua profesinya ya petani,jd 8bulan tinggal bareng mereka tau jg kehidupan petani lokal, tunjangan 3jutaan tiap bulan buat biaya hidup,lumayan banget.saya jd suka ngebayangin kedepan indonesia harusnya bs lbh baik dr turki,secara negara agraris dan lbh kaya alamnya, ga 4 musim kyk disini.

  6. Tulisannya pas banget. Memang kalau ngikutin berita mengenai harga komoditas yang ajrut-ajrutan begini bikin jengkel juga, selain berdampak kepada kestabilan rasa masakan juga kasihan sama para petani yang gak pernah ikut menikmati meroketnya harga berbagai produk pertanian. Padahal kan seharusnya mereka bisa memperbaiki kehidupannya kalau kenaikannya juga mereka nikmati.
    Anyway, semoga menang Mbak Ika πŸ™‚

  7. Cabe, bawang, dll itu sebenernya bisa ditanam di depan rumah masing-masing. Hanya saja banyak yang tidak tahu caranya. Padahal klo setiap kita menanam suatu jenis tanaman berbuah (atau bersayur), pasti ketahanan kita akan lebih tinggi. Daripada pekarangan hanya ditanami bunga2an :).
    Sukses untuk Mbak Ika :).

  8. Bawang dan cabe adalah bumbu yang penting dan termasuk yang paling dasar untuk smua. Gak ada dua bumbu itu, masakan ada yg kurang. Semoga harga-harga bisa stabil lagi dan Mbak Ika menang lombanya πŸ™‚

  9. kenaikan harga barang2 spt daging sapi, bawang, cabai memang perlu disikapi secara bijak, mbak. kalau saya nggak mau nyalahin siapa pun.
    sbg konsumen, saya punya tiga pilihan : memilih produk pangan lokal spt yg disarankan mbak Ika, nanam sendiri atau perlu kreatif cari tambahan penghasilan.

  10. keren idenya, napa ga belanja ke ibuibu itu ya, berkebun sendiri, nanam sendiri dan bisa ditawar pun.. sekalian membantu.. daripada kita ribut heboh gegara bawang kemaren..
    semoga menang ya ika.. rajin ikut lomba nih..

  11. Wah bawang putih ikutan mahal juga toh mbak Ika? saya kira hanya bawang merah saja. Katanya tembus Rp.80.000 ya .. Loh loh cabai ikutan mahal juga?, harganya hampir serupa ditempatku sini mbak sekitar Rp.100.000. Harga tsb harga normal ya, bukan dinaik2in :D. Kalau mahal-mahal mendingan kita berkebun sendirilah buat kebutuhan keluarga sendiri ;).

  12. sedih amat ya
    apalagi kalo inget kita pernah mampu swasembada pangan
    udah kebukti gitu pun kenapa ya orde baru selalu dicap jelek semuanya
    emang apa bukti kesejahteraan dari jaman berjudul reformasi…?
    mumet ah…

  13. Miris memang bacanya. Jafi inget Mbah saya yang dulu juga jualan “nyunggi ebor” berisi sayuran dan beraneka macam lauk mentah keliling kampung.
    Sukses ya Mba lombanya.. πŸ™‚

  14. kebijakan mengimpor produk sayuran dan buah2an dari luar dalam jumlah sangat besar sehingga mematikan usaha petani lokal menurut saya bukanlah kebijakan yang bijak. mengantisipasi kondisi panen petani lokal yang gagal dengan upaya teknologi tetap guna maupun upaya fantastis lainnya sepertinya lebih baik, saya secara pribadi juga lebih suka belanja bahan kebutuhan rumah tangga di pasar tradisional yang banyak menjual produk lokal petani sendiri..

    tulisannya bagus banget mbak…semoga menang kontesnya ya..
    salam kenal πŸ™‚

  15. Ya benar itu. Masa’ negara agraris bisa kekurangan pangan ? Saya sbg ibu rumah tangga jg sangat merasakan betapa mahalnya harga2 bahan pangan spt yg mba’ paparkan di atas. Moga tulisan mba’ bsa menang ya ? Salam

  16. guru saya dulu pernah mengatakan, kalo kita tukeran negara sama orang inggris, amrik, atau jepang, pasti mereka malah yang akan lebih makmur dari negara mereka sekarang ini. karena mereka pandai mengolah sumber daya yang ada di negara mereka. ayo Indonesia!

  17. issue penting tuh disini mbak, menggalakkan konsumsi produk lokal. padahal negara empat musim. ironis, bandingkan dgn negara kita yg akses mataharinya sepanjang tahun dan ibaratnya benih apapun dilempar ketanah bisa tumbuh tanpa harus dieman2.

    setuju mbak jadi konsumen memang harus cerdas. akseslah pertama2 produk paling dekat dgn kita. selain lebih segar krn tdk ditransport jauh2, dan yg tidak kurang pentingnya dengan membeli produk lokal kita mendukung peningkatan penghasilan petani setempat.

    problem lain yg saya amati adalah luas lahan pertanian yg terus menyusut dibanding dgn jumlah penduduk kita. gimana kita gak import terus. disini kalau kita lewat tanah pertanian gak tamat2 mbak ika luas banget gak disela2 sama bangunan. penduduk gak banyak, pake disela musim dingin tapi malah bisa ekspor.

    salam
    /kayka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s