Jangan Podo Moro

Podo Moro

Dalam bahasa jawa, jangan berarti sayur. Sedangkan podo moro berarti berdatangan. Jadi arti bebasnya sayur yang bahan-bahannya campur aduk alias bukan jodohnya.

Adakalanya saat kita memasak tidak semua bahan yang kita beli digunakan. Dengan berbagai pertimbangan seperti, jika dimasak semua dikhawatirkan terlalu banyak maka kita sisihkan beberapa buah.

Tetapi jika hal itu berulang, maka sayuran yang tersisa akan semakin banyak. Seperti pengalaman saya kemarin. Beberapa kali memasak harus menyisihkan bahan baku, maka terkumpulah 1 terong ungu, 1 tempe, 1 jipang atau labu siem, dan 1 genggam kacang panjang, maka saya putuskan untuk memasak sayur lodeh.

Mengapa pilihan jatuh pada sayur lodeh?

Sebenarnya bukan hanya sayur ladeh saja alternatif untuk membuat “jangan podo moro”. Selain lodeh, kita bisa membuat sayur tumis atau dalam bahasa jawa disebut oseng-oseng. Secara bumbu untuk kedua jenis masakan tersebut sama persis, bedanya yang satu pakai santan dan yang satunya kering.

Kedua jenis sayur itu dipilih karena keduanya memungkinkan untuk dimasak pedas. Ya, kunci dari sayur podo moro ialah tingkat kepedasan ekstranya.

Bagaimana jika tidak menyukai masakan pedas?

Alternatif lain jika tidak menyukai pedas yaitu diberi irisan daging. Walaupun seperti apapun hasilnya rasanya tetap daging bukan? πŸ˜†

Untuk masakan non pedas rekomendasi saya ditumis atau disayur bening dicampur daging. Kedua jenis sayur tersebut juga memiliki kesamaan bumbu.

Jika penyuka pedas bisa mencampurkan semua bahan dengan kedua jenis sayur, lain halnya dengan sayuran non pedas.

Kita harus pintar memilih jenis sayur apa yang sesuai dengan jenis sayuran yang ingin kita masak. Jika komposisi sayuran seperti yang saya ungkapkan diatas, rasanya untuk sayur bening komposisi tersebut kurang pas. Dan yang membuat tidak pas ialah terong ungunya. Jadi akan lebih baik jika ditumis.

Dan inilah hasil kreatifitas saya di DPR alias dapur sodara. Tralaaa

Podomoro1

Walaupun tidak seindah dan seenak hasil karya para Chef, tapi yang penting seluruh anggota keluarga lahap menyantapnya.

Hasil jangan podo moro juga menjadi bukti jika saya termasuk ibu kreatif *muji diri sendiri* mampu memanfaatkan sayuran yang ada agar tidak terbuang πŸ˜†

Selamat berkreasi

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

Iklan

46 pemikiran pada “Jangan Podo Moro

  1. ngiler Mba Ika lihatnya. kebayang sedapnya menyantap sayur lodeh di poto itu ditambah gorengan tempe dan nasi anget yang mengebul. masih sejam setengah lagi menuju makan siang. Huehehehe

  2. alternatif lainnnya : terong dibakar kemudian dibikin penyet pakai sambel terasi. tempenya digoreng dan kacang panjangnya direbus. disajikan dengan nasi hangat, wah, jadi ingat waktu jaman dulu, mbak πŸ™‚

  3. *ngakak kirain jangan podomoro apa gitu, eh sayur lodeh aja dong.. sama tuh bahannya kalu mamaku bikin sih.. ngelodeh seringnya pake susu ato creamer jarang pake santan lagi.. rasanya sama aja kog..

  4. kalau ibu saya dulu dapet nasi berkat kenduren dari si a, si b si c, trus bingung ngangetinnya, sama ibu dicemplungin jadi satu dengan sayur lodeh..lalu jadilah jangan podomoro..semakin lama saya semakin suka juga, habis rasanya aneh gitu..semua ada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s