Hangatnya Kopi Tubruk Sehangat Persahabatan

Diantara semua varian kopi yang ada, pilihan saya jatuh pada kopi tubruk. Kopi yang diseduh dengan bulir-bulirnya ini menawarkan sensasi dan cara meminum yang berbeda dari jenis kopi lain.

Kopi tubruk mengingatkan saya pada sebuah persahabatan. Hangatnya kopi tubruk sehangat persahabatan saya dengan mbak Lieshadie, sahabat sesama blogger yang bertemu di dunia tulis menulis ini. Dari awalnya saling colek diblog, hingga akhirnya saling berkunjung ke rumah.

Jujur, sejatinya saya bukanlah termasuk kopi maniak yang jika tidak meminumnya di pagi ataupun sore hari, kepala akan terasa pusing. Hanya pada level suka saja.

Kopi2

Ketika kejenuhan pada pekerjaan yang menumpuk seolah tak ada habisnya, ataupun saat kegiatan tulis menulis tiba-tiba terhenti karena mati ide, segelas kopi tubruk panas yang langsung dituang dari ceret yang masih mengepul mampu mendongkrak semangat sekaligus mampu menyegarkan pikiran hingga bisa kembali β€œON”. Kemepyar, begitu orang jawa bilang. Langsung melek seketika. Langsung fresh dibadan dan pikiran.

Tingkat kegemaran saya pada kopi yang hanya sebatas suka, erat kaitannya dengan budaya dimana saya dibesarkan. Ya, saya lahir dan besar didaerah Jogja dengan kentalnya budaya ngeteh disana. Sejak jaman kakek nenek dulu, kami terbiasa menikmati teh setiap pagi dan sore hari serta dalam setiap perjamuan. Ketika bertamu ataupun kedatangan tamu, teh menjadi teman camilan yang dihidangkan.

Kini, saya tinggal di Purworejo, daerah yang kental dengan budaya ngopi. Terutama kopi tubruk. Kopi sederhana yang bisa dinikmati dimana saja, kapan saja ini menjadi kopi favorit penduduk setempat.

Bagi sebagian besar penduduk, kopi tubruk tak hanya sebagai penawar kantuk semata. Ia menjadi minuman pilihan disetiap kesempatan mulai dari kongkow-kongkow bersama sahabat, menikmati kesendirian sampai sebagai minuman inti dari sebuah perjamuan dimeja makan.

Perbedaan kebiasaan ini tentu perlu disikapi dengan arif agar tidak menyinggung satu sama lain. Tak berbeda dengan sebuah persahabatan, tentunya akan banyak perbedaan yang dimiliki satu sama lain, akan tetapi justru perbedaan itu semakin merekatkan hubungan persahabatan.

Perbedaan menjadi kesempatan untuk saling mengisi. Jika salah satu gemar bercerita, maka jikalaupun yang lainnya tidak gemar bercerita juga, pastinya ia gemar mendengar. Disinilah indahnya sebuah persahabatan.

Persahabatan laksana kopi tubruk yang dapat dinikmati siapa saja, dari pejabat hingga rakyat jelata. Dimana saja, di cafΓ©, kantor, angkringan, warung kaki lima maupun di sawah, nikmatnya kopi tubruk tetaplah sama.

Kapan saja kita ingin menikmatinya, entah pagi, siang, sore, malam, tengah malam ataupun dini hari, mencium aromanya, menyesapi harumnya kopi tubruk dan mengalirkannya ke tenggorokan, hmmm, sungguh nikmat tak terkirakan.

Persahabatan sejati tidak mengenal siapa loe siapa gue yang mengacu pada latar belakang, kekayaan, pangkat, usia ataupun status social. Persahabatan lebih pada terikatnya dua hati yang merasa klik satu sama lain.

Sama seperti persahabatan saya dengan mbak Lies. Perbedaan usia kami yang terpaut 7 tahun ternyata tak menghalangi kami untuk saling memahami satu sama lain. Tetap seru ketika bertemu dan ngobrol.

Rahasia kenikmatan menyeruput kopi tubruk bisa dirasakan saat kopi telah mengendap dibagian bawah gelas hingga terpisah antara kopi dan air. Perlu kesabaran lebih saat menunggu kopi mengendap dan terkumpul dibagian bawah gelas.

Adakalanya sebuah persahabatan memerlukan kesabaran ekstra untuk mengendapkan emosi ataupun ketidak nyamanan demi kelanggengan ikatan persahabatan karena kadang percikan-percikan api konflik tak dapat dihindari.

lies

Disaat kerinduan pada sahabat telah memuncak, pertemuan dengannya menjadi sesuatu yang sangat didamba. Tak jadi soal dimana pun kami bertemu, direstoran mewahkah ataupun diwarung kaki lima yang sederhana, kerinduan untuk bertemu tak terbendung lagi. Dan akhirnya kami pun memutuskan tuk bertemu diangkringan sederhana didepan kantor New Armada dijalan Purworejo-Kutoarjo untuk saling melepas rindu dan berbagi cerita.

 

Tulisan ini diikutkan dalam GA Lisa Gopar

Lisagopar

Iklan

82 pemikiran pada “Hangatnya Kopi Tubruk Sehangat Persahabatan

  1. saya suka kopi tubruk…saya suka ngopi dan suka nubruk #eeh . itu kopi emang bikin ON mbakyu..kalau laper, minum segelas kopi berasa kenyang langsung..beneran..biasanya sebelum ngopi ritualnya makan nasi pecel dulu

  2. saya cm suka aroma kopi ga demen ngopi:D kecuali yg instant hehe itu jg susunyayg dibanyakin,lg lg perutnya ga kuat:D*suami lbh fanatik ngeteh, pernah diajak ngopi luwak sama teman indo disini,demi ngehormatin tuan rumah dia minum tuh kopi luwak dengan ekpresi ‘kepaksa’ apalagi sehabis ngopi diceritakan proses kopi luwaknya dr….* kebayang raut wajahnya-.-

  3. Itu ibu Lies ? Ibu Lies Hadi ?
    Yang jelas .. saya mulai mengenal ibu Ika dan Ibu Lies ini dalam kurun waktu yang hampir bersamaan …
    Saya lupa … Saya dapat link ibu Lies dari Ibu Ika atau sebaliknya saya dapet link Ibu Ika dari Ibu LIes …

    This is the beauty of Blogging

    Salam saya Bu Ika

  4. Tapi tteh suka bilang tuh “iiihh siapa Eloe seenaknya menilai orang tanpa tau yg sebenarnya..” heehe
    Persahabatan itu indah, semoga kita diberi kesempatan untuk ketemuan ya mbak Ika, juga sama mbak Lies.
    Masih belum jelas nih mbak Ikaaaa… Pdhl mah tiket udah ditangan 😦

  5. udah kopdar sama siapa aja mbak Ika?
    aku sebenernya suka, sangat suka minum kopi, walaupun blm sampai taraf addicted..
    tapi katanya mbak Noni gak bagus tuh kopi, bisa memicu tumbuhnya kanker, pastinya bnr ato gak, blm cari info lg sih 😦
    kadang ada rasa pengen banget ngopi… jadi aku batasi, sekali minum aku bikin setengah sachet itu utk satu cangkir.. minumnya jg maksimal 2 hari sekali, sukur klo bisa seminggu sekali aja..

  6. Kopdar asyik dengan kopi ya mbak
    emang cocok kopi darat ketemu kopi tubruk …
    wah aku belum kenalan sama mbak Lies ya …, salam kenal dulu mbak Lies

  7. Wah senangnya bs kopi daratan πŸ˜€

    Meski di keluarga saya kental sekali budaya ngeteh pagi & sore, saya jg suka kopi tubruk Mba..setuju deh kl kopi tubruk sensasinya berbeda πŸ˜€

  8. Dulu saya suka menyeruput kopi tubruknya Si Bapak. Sering kali dia marah karena kopinya tinggal setengah.

    Tapi kopi favorit saya itu kopi yang ditambahi susu. Bisa tiga gelas saya mengkonsumsinya dalam sehari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s