Ayat Berbalas Ayat

Mbak, tuku o boxku. Barang e apik kabeh

(Mbak, belilah box saya. Barangnya bagus semua)

Ra ono wong dodol muni elek. Kabeh wong dodol mesti muni dagangan e apik. He…he…

(Tidak ada pedagang yang mengatakan barang dagangannya jelek. Semua pedagang pasti mengatakan dagangannya bagus)

Ora mbak, tenin boxku apik. Tak jamin wis. Tur meneh keuntungan e meh tak nggo gawe rumah tahfidz

(Tidak mbak, box saya bagus. Saya jamin. Lagipula keuntungannya mau saya pakai untuk membuat rumah tahfidz)

Keuntungan e? Ngopo ra sak pok e sisan?”

(Keuntungannya? Mengapa tidak modalnya sekalian?)

Wah, Rasulullah karo sahabat we ora ngono kok!

(Wah, Rasulullah dan sahabat saja tidak demikian)

Tidak juga,” jawab saya. “Umar menginfakkan kebunnya karena terlambat shalat berjamaah,” lanjut saya.

Aku durung iso!” Mung menungso biasa,” jawabnya

(Aku belum bisa. Aku cuma manusia biasa)

Percakapan dengan adik laki-laki saya terhenti demi mendengar suaranya meninggi. Diskusi saya cukupkan sampai disitu sambil menunggu situasi kondusif untuk kembali berdiskusi.

***

Terpekurku dikeheningan sepertiga malam ini. Ayat yang sebelumnya sudah berkali-kali ku baca ini, entah mengapa tiba-tiba begitu menyita perhatianku.

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.

(QS. Ali ‘Imran [3]: 92)

Ku ulang dalam gumam lirih,”Nafkahkanlah sebagian harta yang kamu cintai?”

Kenapa mesti sebagian harta? Sebagian khan banyak!

“Mengapa harus harta yang dicintai? Bukankah itu berat?”

Lalu, jika saat ini usahaku dalam keadaan limbung akankah mendapat kelongggaran?” tanyaku dalam hati.

Entah mengapa, bayangan ayat ini berkelebat dalam benakku.

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَا

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan maupun berat….
(At Taubah: 41)
Dan aku pun kembali tercenung dan tergugu. Memohon kekuatan pada sang Maha Hidup, Sang Maha Memiliki.
Ya Rahman…
Ya, Rahiim..
Ya muqollibal Qulub..Tsabbit qolbi ala diinik.. Wa’alaa tho’atik..
A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5
Iklan

43 pemikiran pada “Ayat Berbalas Ayat

  1. Kalo saya masih belajar berinfak,mbak.jadi setiap gaji saya, ga sebagian sih,baru 2.5%nya saya infakkan. kapan ya bisa berinfak dengan sebagian harta yang dimiliki?kok kayaknya berat ya mbak,apalagi kebutuhan atau rencana kedepan yang membuat saya berpikir untuk lebih memilih menabung daripada berinfak banyak.fiuh…,

  2. Tapi aku pernah loh mbak membeli nanas penjualnya jujur. Waktu menimbang dia bilang ini nanasnya jelek udah busuk, gak jadi dijual bu. Akhirnya aku beli buah yang lain deh

  3. Mbak Ika… Maaf saya mau tanya, maklum pemahaman agamanya masih nol besar, sebahagian itu setengahnya kah atau sebagian dari harta yg kamu miliki, yaitu bagian dari apa yg kita miliki? Karena setiap harta yg kita miliki itu ada bagian untuk fakir miskin… Mohon sekali mbak Ika menjelaskan… Matur nuwuuuun…
    Pokoknya mah mbak Ika, apa yg kita infaqkan semoga saja niatnya krn Allah SWT.. Ikhlas saat memberi.
    ’Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.’ Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi Rezeki yang terbaik.” (QS Saba, 34: 39)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s