Permainan Tradisional

Dakon

Melihat papan permainan dakon mengingatkan saya pada permainan anak-anak jaman dulu. Beberapa diantaranya yang masih saya ingat selain dakon, ada jethungan, gobag sodor, pasar-pasaran, engklek, yoyo, egrang, benthek, kasti, bola bekel dan masih banyak lagi.

Beberapa permaianan seperti gobag sodor yang merupakan singkatan dari “GO Back to Door”, jethungan, dan kasti memerlukan banyak personel alias permainan tim, sementara dakon, pasar-pasaran, benthek, engklek, bola bekel hanya memerlukan 2 orang pemain. Sementara egrang dan yoyo bisa dimainkan secara kelompok dengan berkompetisi ataupun dimainkan secara individu.

Kini, permainan tradisional tersebut lambat laun mulai punah. Punah karena lahan yang digunakan untuk bermain mulai menyempit. Dan yang pasti, punahnya permainan tradisional disebabkan kalah pamor dengan permainan-permainan modern saat ini alias sepi peminat.

Padahal jika dinilai secara kualitas, permainan tradisional memiliki tingkat kualitas lebih baik dibandingkan permainan modern saat ini seperti bermain boneka Barbie, PS ataupun Game Online yang sedang digandrungi anak-anak jaman sekarang.

Ada banyak nilai positif yang didapatkan dari permainan tradisional diantaranya perkembangan fisik, kognisi, bahasa, kreativitas, negosiasi dan kompetensi sosial.

Contohnya pada permainan dakon. Saat memainkan dakon anak dilatih bernegoisasi untuk menentukan siapa yang terlebih dulu memulai permainan. Kemampuan motoriknya pun terasah tatkala ia memegang biji-bijian untuk dimasukkan pada lubang-lubang papan dakon. Selain itu, permainan dakon juga melatih kemampuan berhitung anak karena untuk menjadi pemenang dari permainan ini, ia harus menghasilkan banyak biji dalam lumbungnya.

Saru3

doc. google

Bandingkan manfaat yang didapat dari bermain game. Bukan manfaat, sering justru permainan game memberi dampak negatif pada anak.

Contoh yang paling gampang anak jadi sulit berkonsentrasi, kadang berani mencuri uang orang tuanya.

Bahkan baru-baru ini saya membaca berita disebuah koran lokal, ada seorang anak SD yang melakukan tindakan asusila karena terpengaruh oleh permainan game. Selidik punya selidik, ternyata kadang dalam permainan game, para pemain yang ditampilkan menggunakan pakaian yang seronok.

Tantangan orang tua saat iniΒ  semakin berat. Kita sebagai orang tua dituntut lebih cerdas, selektif serta peka saat memilihkan permainan untuk buah hati kita.

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

Iklan

51 pemikiran pada “Permainan Tradisional

  1. Diantara deretan permainan tradisional tadi, yang aku gak bisa “cuma” Yoyo dan Egrang πŸ˜€ Sering menang kalau main dakon (gara2 suka ngitung dalam hati dari awal permainan). Dan kalau kasti paling suka jadi pelempar bola, tapi gak jago lari cepat jadi sering kena timpuk bola kasti hihihihihi πŸ˜€

  2. Pada umumnya …
    permainan anak-anak jaman dulu itu … “Bergerak”
    dan ini sangat menyenangkan …

    Bentengan adalah salah satu diantaranya …
    Ini favorit saya …

    Salam saya

  3. permainan traditional memang sebaiknya dibudidayakan lagi. misalnya, bisa diselipkan di mata pelajaran olah raga.. tar klo ada negara tetangga yang ngaku-ngaku lagi warisan kebudayaan kita, termasuk permainan traditional ini, baru deh kita yg marah-marah.. apapun itu, klo gak dijaga dan dicintai yaaa gampang dicuri πŸ˜‰

  4. dulu saat bermain, anak-anak banyak bersuara, sekarang sunyi karena fokus dengan dirinya sendiri dan permainannya di dunia lain. bahkan ada yg namanya “rapelay” bisa ditebak arahnya kemana. :3

    pernahkah kita berfikir, mengapa game2 semacam itu dibuat dan disebarkan?!, tidak lain hanya untuk membuat bodoh anak-anak kita, membuat mereka menjadi sosok yang keluar dari “kemanusia-annya”. Anak- anak adalah bentuk masa depan nanti, jika masa kecil sudah rusak, lebih mudah menebak masa depan dan berhasillah tujuan utama adanya game2 tersebut. kita semua yang rugi dan mungkin tanpa kita sadari.

    andai saja pemerintah-ku mau menyaring game2 yg masuk ke negeriku, menyaring mainan anak2 yg datang dari luar, tentunya jika mereka peduli akan masa depan tapi sayangnya hanya peduli perut sendiri 😦

  5. di rumah ada dakon, congklak, ulartangga, otelo, halma, catur, monopoli, mainan manual gitu.. main komputer cuma hari minggu dan sejam saja buat yang masih sekolah, kecuali mo cari data.. jadi kalu main game diawasi juga..

  6. Permainan jaman dulu lbh banyak bersosialisasi dg byk teman, sungguh berbeda dg jaman srkarang. Skrng anak2 lbh senang dirumah, sibuk dg game online.
    Waktu teman saya jalan2 ke tempatku, aku minta dibawain coklak, seru bisa main lagi walau jauh dari tanah air. Berikutnya minta dibawain bola bekel :D.

  7. Saya masih punya dakon (congklak loh)..saya juga bisa maininnya..hehehe..
    Kalo gobak sodor, sekarang kayaknya udah semakin menghilang.. dulu saya biasa main di lapangan bulutangkis.. πŸ™‚

  8. jadi inget suka sebel kalo lawan main congklaknya lama gak mati2 juga. biasanya udah hafal jalan. belum lagi yg kerjanya ngitung melulu asli sebeeel… πŸ˜‰

    salam
    /kayka

  9. Kangen juga main dengan permainan jaman dulu begini. Betul Mbak, sekarang kendala utamanya adalah lahan bermain yang semakin menyusut, sehingga anak-anakpun akhirnya lebih suka duduk di depan komputer untuk main game 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s