Kambing Hitam bukan Kambing Jantan

Dalam buku The Children of Dream, Djamaludin Ancok  memaparkan bagaimana bangsa-bangsa di dunia ini menanamkan ideologinya pada anak-anak.

Orang tua di Jepang menanamkan nilai-niali ksatria dan sportivitas pada anak-anak mereka. Saat mengetahui anaknya menangis karena terjatuh, orang tuanya akan berkata,”Untuk apa kamu menangis? Terjatuh saja menangis.” Setelah itu para orang tua memberikan penjelasan hingga menjadikan anak-anak Jepang senantiasa bertindak hati-hati, berani dan tidak cengeng. Di Amerika sejak kecil anak-anak ditanamkan nilai-nilai Nasionalisme. Hal itu dilakukan baik di dalam keluarga saat jamuan makan malam, dan lebih ditekankan lagi di sekolahan.

Sementara di Iran, anak-anak diajarkan untuk senantiasa rindu untuk mati syahid dan pentingnya menjalin persaudaraan dengan seluruh umat Islam dari berbagai negara.  Dalam acara ta’azoyah, anak-anak dikumpulkan untuk mendengarkan kisah-kisah para syuhada dengan suasana heroik. Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Negara kita tercinta ini.

Suatu ketika, Andi sebut saja begitu, anak berumur 3 tahun ini jatuh dan terluka. Walhasil kakinya pun berdarah dan bisa dipastikan ia pun menangis sekencang-kencangnya. Mendengar suara tangis sang anak, ibu yang berada di dapur pun tergopoh-gopoh menolongnya sambil berkata,”Owh, kodoknya nakal ya! Sudah, cup….cup. Tuh, kodoknya sudah pergi.” sambil mengobati luka Andi.

Lain lagi cerita Sari. Saat mamanya pulang dari kantor, Sari mengatakan pada mamanya jika keningnya terantuk pojok meja hingga memar. Spontan mamanya memanggil pembantunya sambil berkata,”Bik, besok lagi hati-hati jaga mbak Sari ya.”

Dua kejadian yang memiliki benang merah yang sama. Cerita pertama,  sang kodok yang tak ada kaitannya dengan jatuhnya Andi menjadi pihak yang disalahkan. Sementara pada cerita kedua, kesalahan ditimpakan pada bibi pembantu. Padahal jika dilihat dari kejadian sesungguhnya, memarnya kening Sari karena ketidak hati-hatiannya saat membantu bibi pembantu mengepel ruang tamu. Sesungguhnya Sari bermaksud meminta orang tuanya untuk mendengarkan cerita kebaikkan yang telah dilakukannya hari itu.

IMG_0052

Kambing jantan

Lalu apa kaitannya “kodok” dengan “kambing”? Jika anak-anak Jepang belajar menjadi samurai, anak-anak “kodok” belajar mencari alasan. Mengembangkan sikap argumentum ad hominem, sebuah istilah yang menurut Fauzil Adhim berarti suka menyalahkan sesuatu karena ia tak mampu melakukan ataupun perilaku suka mencari-cari kesalahan sesuatu di luar dirinya agar ia memiliki cukup alasan untuk memaafkan dirinya sendiri. Melempar kesalahan pada orang lain.

Dalam tulisan Mencari Kambing Hitam, Mbak Evi dengan apik memaparkan segala tetekbengek perkambing hitaman. Menurut penuturan  Mbak Evi, pengkambing hitaman dapat terjadi dimana saja. Dilakukan oleh siapa saja, bisa orang lain atau justru  terjadi pada diri kita sendiri. Disebutkan pula dalam tulisannya, para pengidap sindrom mencari kambing hitam selalu menemukan shock breaker. Melemparkan kesalahan pada orang lain. Tidak melihat kesalahan itu pada tanggung jawabnya sendiri.

Dalam tulisan Mencari Kambing Hitam ini, Mbak Evi membuat kesimpulan yang indah bahwasannya melempar kesalahan kepada sesuatu di luar diri kita sebagai perbuatan yang tak bertanggungjawab. Menolak bertanggungjawab terhadap kesalahan sendiri diibaratkan koruptor yang berteriak-teriak bahwa mereka sedang dizolimi.

Mari kita sama-sama mengevaluasi diri kita sendiri, masihkah sifat ini bercokol dalam diri kita.

BANNER-EVIINDRAWANTO1

First Give Away : Jurnal Evi Indrawanto

Iklan

52 pemikiran pada “Kambing Hitam bukan Kambing Jantan

  1. Kebiasaan yg sepele tp ternyata g baik ya mb
    Btp bny cerita n cara yg salah dlm mendidik anak yg beredar di tempat kita di besarkan ini.

    No more kodok n kancil nyolong timun please 😛

    Reblog ah 😉

  2. Reblogged this on Knitknotlove and commented:
    Mungkin mereka yang ketika ditunjukkan kesalahannya kemudian balik menuduh orang lain salah. Semasa kecilnya selalu diberikan stimulus yang salah juga menjadikannya memiliki sindrom pencari kambing hitam.
    Sulir berefleksi diri dan menyadari kesalahannya sendiri meski sudah ditunjukkan oleh orang lain.

    No more kodok
    No more kancil
    Dan cerita2 konyol lain yg tidak mendidik.
    Happy weekend 😉

  3. jadi inget beberapa orang tua yang suka memukul sesuatu yg membuat anaknya jatuh atau kejedot, dgn tujuan supaya anaknya gak nangis..pdhal itu secara tidak sengaja mengajarkan anak untuk mendendam dan menyalahkan org lain 😦

  4. Beternak kambing hitam saat ini lagi laris Jeng Ika. ….
    Ulasan yang sangat mengena, belajar mengenali sumber kesalahan dan langkah meminimalkannya bukannya malah mengalihkan.
    Selamat meramaikan GA Uni Evi. Salam

  5. Beda negara beda pula cara mendidik anak ya Mbak. Ketika mencari kambing hitam untuk suatu kesalahan yang dilakukan anak, maksudnya mungkin untuk menenangkan sang anak, tapi melupakan kenyataan bahwa sang anak perlu belajar dari kesalahannya.

    Terima kasih sudah ikut Mbak Ikat. Tercatat ya sebagai peserta 🙂

  6. Tapi, boleh kan mbak jika saya mengkambing hitamkan mbak Evi, karena sudah membuat saya mampir sini hihihi

    terima kasih sudah menyemarakkan GA mbak Evi ya.. sudah tercatat sebagai peserta.. salam kenal mbak Ika 🙂

  7. mencari kambing hitam bisa jadi dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan atas orang lain dan bersembunyi dibaliknya, agar ia dengan mudahnya memindahkan permasalahan pada orang lain yang belum tentu salah.

    Reviewnya sangat menarik Mbak dan memberikan makna yang mendalam.Sukses atas GA nya
    Salam silaturahim dari Blitar

    • Maaf sebelumnya, sepertinya pengkambinghitaman tidak hanya milik penguasa (orang yang memiliki kekuasaan) kadang orang yang tidak punya kekuasaan pun suka mengkambinghitamkan sesuatu. Contoh, rata2 orang yang diminta untuk memulai usaha beralasan karena tidak memiliki modal padahal apa yang melekat ditubuhnya adalah modal. Ketidak mauan ataupun mampuannya dialihkan pada ketiadaan modal berupa uang. He,,,he,, rada mbulet2 mudah2an bisa dipahami.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s