23 yang spesial

Jujur, ada dua hal yang bisa dibanggakan dalam hidupku sebagai anak pertama yang nota bene contoh bagi adik-adik. Yah, meski pun kini pada kenyataannya secara ekonomi, adik-adik jauh melampauiku, tapi dua hal ini nilai plus yang aku punyai dan tidak mungkin mereka punyai diusia yang sama denganku.

Jadi inget satu pesan dari kedua orang tuaku yang dulu sering membuatku jengkel,”Hati-hati dalam bertindak, kamu contoh bagi adik-adikmu!” Mau melakukan ini itu harus selalu dalam koridor aturan itu, ati-ati kowe anak mbareb dadi contone adik-adikmu. Grrrr, sebel, ndak bebas berekspresi, harus jaim alias jaga image. Ya, itulah doktrin yang biasa orang tua pesankan pada anak mbarep alias anak pertamanya. Entah mengapa doktrin itu sampai sekarang masiiih melekat di otak. Apalagi sejak bapak meninggal, saya jadi semikin hati-hati dalam segala hal. Terutama saat harus memutuskan sesuatu, coz, setelah bapak meninggal kini keputusan keluarga sayalah bagian pengetok palunya 😦

Hadeh, kenapa jadi termehek-mehek nih πŸ˜‰

So, apa sih sebenernya sesuatu yang spesial itu?

Alhamdulillah, dari 5 saudara kandung dan 2 saudara tiri, hanya saya yang memiliki foto wisuda lengkap didampingi kedua orang tua. Yang lain? Berguguran ditengah jalan. Adikku yang kedua, lulus kuliah tapi sayangnya ia tak mengikuti acara wisuda. “Gak penting!” Begitu katanya setiap kali aku tanyakan alasannya.

Adikku yang ketiga lain lagi ceritanya. Baru kuliah awal semester 1 ia sudah mengundurkan diri. “Ndak kuat mikir sekolah plus usaha mbak. Mending mikir yang pasti-pasti ajalah,” katanya saat aku singgung masalah kuliahnya yang mogol ditengah jalan. Sementara adikku yang keempat lebih parah lagi. Sekolah hanya sampai kelas dua SMA. So, dia putus sekolah karena dipaksa kawin sama bapak. Bukan karena tekdung alias hamil duluan, tapi karena dia pacaran dengan orang yang beda agama. Demi menyelamatkan akidahnya, ia pun dinikahkan dengan anak temen bapak. Alhamdulillah, walaupun nikah ala Siti Nurbaya mereka bahagia.

Dan satu-satunya alasan kenapa saya bertahan dan pada akhirnya menamatkan kuliah walaupun sempat keteteran juga karena waktu itu saya sudah kerja ialah demi membahagiakan ibu. Ya, sejak bapak menikah lagi dan melihat ibu mengalami depresi berat, harapan terbesar dalam hidup saya sebagai anak pertama ialah menjadi anak yang bisa dibanggakan ibu. Titik. Walhasil, semua keinginan ibu berusaha saya penuhi walaupun rasanya beraaat. Sering kali saya harus menangis saat menjelang tidur demi mengurangi beban dihatiΒ  ketika kemauan ibu berseberangan dengan keingin saya.

Dengan susah payah akhirnya saya berhasil lulus dengan nilai minim karena beberapa ujian ada yang terlewat. Alasan klise, sibuk mengurusi usaha. Yap, saya pun harus puas lulus dengan IPK 3,01. Walaupun begitu saya tetap bangga dengan pencapaian itu karena berhasil lulus kuliah dengan biaya sendiri.

Kebanggaan lain yang saya miliki ialah saya bisa menunaikan ibadah haji dengan biaya sendiri saat berusia 23 tahun. Keberangkatan saya sebenarnya tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Niatan awal saya mengumpulkan uang untuk mendaftarkan haji ibu. Ibu sudah lama memendam keinginan untuk menunaikan ibadah haji. Sama seperti alasan diatas, demi membahagiakan ibu saya kumpulkan recehan demi recehan untuk membiaya ibu berangkat ke tanah suci.

Setelah receh demi receh terkumpul, Alhamdulillah tahun 2003 biaya ONH sama persis dengan tabungan yang saya miliki. Tanpa berpikir panjang, uang saya ambil dari tabungan dan saya serahkan pada ibu untuk mendaftar haji.

GAMBAR 4

Koleksi pribadi – depan masjidil haram

Beberapa hari setelah saya serahkan uang pada ibu, saya dipanggil bapak menghadap. Beliau mengembalikan uang saya dan meminta saya untuk menemani ibu ke tanah suci. Sementara semua keperluan haji ibu ditanggung bapak.

Satu hal yang kini semakin saya yakini bahwa Allah SWT tidak akan mengingkari janji-Nya. Sekecil apapun kebaikkan kita pada kedua orang tua pasti akan berbalas dengan balasan yang lebih indah.

***

Satu pesan saya untuk Ayu Citraningtias, tak ada yang sia-sia saat kita memberikan kebaiktian kita pada kedua orang tua. Yakinlah Allah SWT akan membalas dengan balasan yang lebih indah dari yang kita bayangkan. Mumpung sekarang Ayu belum menikah, mumpung masih ada kesempatan untuk berbakti. Sukses buat GAnya ya say πŸ™‚

Tulisan ini diikutsertakan dalam 23 Tahun Giveaway

banner

Iklan

77 pemikiran pada “23 yang spesial

  1. Bu Ika …
    saya pujikan keberanian Ibu untuk menceritakan hal-hal yang bagi sementara Orang sangat pribadi sifatnya …
    saya yakin akan ada banyak pembaca yang terinspirasi akan kisah ini …

    Salam saya Bu Ika

  2. Terharu bacanya.. sekaligus salut dengan perjuangan mbak Ika…

    Buat yang masih punya orang tua, ayooo maksimalkan waktu..tenaga..pokoknya semua buat membahagiakan mereka.

  3. Wih kereeen, luar biasa inspiratif.

    Eh, maaf boleh komentar sedikit kan… ?
    Kalau menceritakan saudara sendiri dengan gaya bahasanya Iwan Setyawan seperti pada novel 9 autumn 10 winters mungkin lebih asyik membacanya. Hehehe….

      • Hehe, maaf. Hanya saling mengingatkan saja.

        Kalau saya, keluarga adalah nomor wahid. Menuliskan kelebihan dan kebaikannya akan lebih bermakna. Khususnya bagi anak2, kelak jika mereka membaca.

      • Siiip, makasih πŸ™‚ Sebenarnya kelebihan sudah saya tulis dibagian atas pak secara global. Mungkin pak Sarib bwnya keburu2 jadi tidak terbaca πŸ™‚

      • Alhamdulillah, dari 5 saudara kandung dan 2 saudara tiri, hanya saya yang memiliki foto wisuda lengkap didampingi kedua orang tua. Yang lain? Berguguran ditengah jalan. Adikku yang kedua, katanya sih lulus kuliah tapi entah kenapa dia tidak mengikuti acara wisuda. Adikku yang ketiga baru semester 1 sudah mengundurkan diri. Sudah ndak kuat mikir sekolah plus usaha. Sementara adik keempat lebih parah lagi. Sekolah hanya sampai kelas dua SMA. So, dia putus sekolah karena dipaksa kawin sama bapak. Bukan karena tekdung alias hamil duluan, tapi karena dia pacaran dengan orang yang beda agama.

        Alenia diatas, kalau dibaca anak2 bisa menimbulkan “mis persepsi”.

        Maaf yah…,

        kalau tulisan ini

        “Adikku yang kedua, katanya sih lulus kuliah tapi entah kenapa dia tidak mengikuti acara wisuda.”

        diganti dengan

        “Adikku yang kedua sungguh luar biasa. Pesta dan foto foto wisuda, tidaklah terlalu penting. Ia lebih memilih untuk menekuni bisnisnya yang mulai membesar, dibanding hanya sekedar acara di kampus.”

        Maaf yah, kita hanya sekedar berdiskusi.

  4. ikaaaaaaaaaaaaaaaaaa, sama loh.. kalu kita menyenangkan mama kita, pasti ada balasannya dua kali lipat.. beruntung dikau jadi temani ibu ke holyland dengan biaya sendiri padahal niatnya buat ibu.. *sujud sukur..
    dulu niat daku pun gitu, bukan soal haji sih, tapi soal gaji.. gaji pertama dimana aja utuh buat mama, akhirnya malah gajiku dobeldobel dong.. alhamdulillah.. ga tahu bilangnya gimana.. tapi kalu kita niatkan buat mama kita, ada aja jalannya..
    luar biasa..

  5. terharu bacanya :’)
    di umur yang masih muda udah bisa mengumpulkan uang dan cukup buat naik hajii..
    subhanallah πŸ™‚
    saluutt..

    salam kenal ya, mba

  6. Akhir-akhir ini saya lagi seneng banget sama nabung, niat nya buat liburan akhir tahun untuk tour Bali-Bromo, tapi setelah baca ini.. saya jadi pengen nabung juga buat umroh hihihi πŸ˜€

  7. Subhanalloh .. pagi2 gini akang udah dapat kisah inspiratif dr Mba Ika. Seringkali kemampuan sejati seseorang muncul ketika ditimpa kesulitan demi kesulitan. Tetap semangat mba Ika πŸ™‚

  8. Teman-teman sahabat bloger.. masihkah ada orangtua mu..?.
    Jika masih ada, inilah kesempatanmu yang terbaik untuk menunjukan baktimu kepada ortu… bahagiakanlah mereka…
    Dalam hidup ini berbakti kepada ortu adalah segala-galanya..
    Ngga percaya ? …pengalaman Mba Tika ini adalah salah satu dari banyak contoh… Berbaktilah…. Sesal kemudian tiada gunanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s