Resensi Buku # Surat Dahlan

47687_434515203270029_1549910856_n

Judul Buku: Surat Dahlan

Pengarang: Khrisna Pabichara

Penerbit: Noura Books

Terbit: Januari 2013

Jumlah Halaman: 400

Harga: Rp62.500

***

Sebuah pepatah yang mengatakan bahwasanya pengalaman adalah guru terbaik ternyata benar adanya. Novel Sepatu Dahlan sejatinya merupakan novel pertama Khrisna Pabichara. Walaupun demikian, novel Sepatu Dahlan mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Terbukti novel tersebut menjadi best seller dan masuk dalam 5 Besar Anugerah Pembaca Indonesia.

Sebelum menulis Trilogi Novel Inspirasi Dahlan Iskan, Khrisna Pabhicara telah menulis 16 buku, baik fiksi maupun nonfiksi diantaranya, Gadis Pakarena yang masuk 10 besar KLA 2012.

Novel Surat Dahlan yang merupakan buku kedua dari Trilogi Novel Inspirasi Dahlan Iskan ini tak kalah seru dengan buku Sepatu Dahlan. Novel ini menceritakan kisah Dahlan diperantauan.

Pengembaraan Dahlan sampai di kota Samarinda. Kota dimana ia gantungkan impian dan harapan masa depan. Impian meraih cita-cita serta harapan untuk dapat menikahi Aisha sesuai janjinya pada wanita yang dicintainya itu.

Bosan dengan dunia kampus yang hanya menawarkan retorika dibanding realita menyebabkan semangat kuliahnya mengendur. Saat kebosanan Dahlan berada dititik nadir, surat bapak, Iskan datang. Surat sederhana yang ‘menyengat’ dan membangkitkan semangatnya kembali.

Di akhir surat ini, izinkan pula Bapak mengutip petilan kitab Lubabul Adab. Di dalam kitab itu, Usamah ibn Munqidz dengan apik bertutur ihwal pesan Nabi Isa a.s. kepada para pengikutnya. “Wahai para pengikutku, kalian tidak akan berhasil meraih cita-cita, kecuali kalian bersabar atas apa yang kalian tidak inginkan. Kalian takkan sanggup meraih keinginan, kecuali kalian meninggalkan apa yang kalian gandrungi.”

Tuhan tidak pernah tidur. Meski begitu, ingatlah, tidak semua yang kita inginkan akan tercapai. lagi pula, mestinya kau menyadari, makin tinggi sebatang pohon, makin kencang angin menerpa. Begitulah hukum alam. Jadi, tabahlah. pada saat seperti itu terjadi, sabar dan ikhlas adalah obat paling mustajab.

Salam dari Kebon Dalem

***

Pertemuannya dengan nenek Saripa yang telah menyelamatkannya dari kejaran tentara setelah aksi unjuk rasa yang ia lakukan dengan beberapa kawan PII, Syaful, Latif, Syarifuddin, dan Nafsiah untuk memprotes kebijakan pemerintah saat itu telah dianggap subversif menjadi ‘pelajaran’Β  hidup yang sangat berharga baginya.

Pertemuan dengan nenek Saripa jualah yang mempertemukan Dahlan dengan Sayid, keponakan nenek Saripa yang bekerja sebagai wartawan koran lokalΒ  Mimbar Masyarakat yang pada akhirnya mengenalkannya pada dunia jurnalistik.

Berawal dari menjadi wartawan biasa hingga menjadi Redaktur Pelaksana. Kesempatan langka untuk belajar tentang jurnalistik dimajalah Tempo yang pada akhirnya membuatnya direkrut menjadi Koresponden Daerah pun tak ditolaknya. Hal itu pula yang mengawali buah kerja kerasnya hingga akhirnya menjadi Pemimpin Redaksi Surat Kabar Jawa Pos.

Novel Surat Dahlan ini juga dibumbui dengan cinta segi empat antara Dahlan dengan dua teman masa kecilnya, Maryati dan Aisha serta Nafsiah, teman sesama aktifis di PII.

Berbeda dengan novel sebelumnya, novel Surat Dahlan kurang me’nggigit’. Cerita pasca persembunyian di rumah nenek Saripa kurang tergali secara apik. Dampak psikologis dari pengejaran tentara terhadap Dahlan dan kawan-kawan di PII tidak diulas secara mendalam oleh penulis.

Ditulis dengan bahasa yang sederhana menjadikan Novel Surat Dahlan ini mudah dipahami oleh pembaca. Kisah-kisah perjuangan saat menjadi mahasiswa hingga kariernya didunia jurnalistik yang inspiratif sangat sayang untuk dilewatkan.

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

Iklan

43 pemikiran pada “Resensi Buku # Surat Dahlan

  1. nama Dahlan Iskan memang sudah sangat populer, sehingga apapun yang dihasilkannya selalu menjadi pembicaraan orang2, tapi memang wajar karena kualitasnya selalu terjaga..demikian juga karya-karya tulisnya…termasuk Surat Dahlan ini….salam πŸ™‚

  2. Saya belum baca kedua novbel itu : Sepatu Dahlan atau Surat Dahlan. Tapi, saya rutin menyimak tulisan pak Dis di artikel Manufacturing Hope, tiap hari Senin. Mungkin mbak Ika perlu juga membaca tulisan tsb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s