Ke Gunung Kidul Tak Lengkap Tanpa Mencicipi Thiwul

Setiap mendengar kata Gunung Kidul, yang terlintas dalam benak kita ialah daerah pegunungan kapur yang tandus dan kering. Siapa sangka dibalik tandusnya, salah satu kabupaten yang terletak di sebelah timur Kota Yogyakarta ini menyimpan keelokkan gua karst (gua di kawasan tanah kapur) dan pantai yang indah nan eksotik. Tercatat ada 10 pantai nan menawan yang sayang untuk dilewatkan diantaranya, pantai Indrayanti, Krakal, Sundak, Sadeng, Wedhiombo, Sepanjang, Ngobaran, Nggrenehan, Siung dan Baron.

Kondisi alam yang tidak bersahabat menyebabkan sebagian besar penduduk Gunung Kidul memilih merantau ke kota-kota besar Jawa seperti Jakarta dan Surabaya. Selain menjadi pembantu rumah tangga dan buruh pabrik, banyak diantaranya memilih membuka usaha warung tegal, mie ayam ataupun bakso.

Tanah  tandus dan berkapur dengan minimnya curah hujan menjadikan daerah ini selalu mengalami kekeringan dan kesulitan air bersih saat musim kemarau. Dengan kondisi alam demikian, para petani di Gunung Kidul lebih memilih menanam singkong, pohon jati, jagung, kacang tanah dan kacang mede. Sementara padi hanya ditanam setahun sekali tatkala musim penghujan tiba.

Singkong hasil panenan selain dijual juga dikonsumsi sendiri oleh penduduk setempat untuk diolah menjadi gaplek. Pembuatan gaplek sangatlah mudah. Pertama-tama singkong dikupas, lalu dipotong-potong sebesar jari orang dewasa, setelah itu dijemur hingga kering. Gaplek merupakan bahan baku pembuatan thiwul, panganan khas pegunungan Kidul (Gunung Kidul Yogyakarta, Pacitan, dan Wonogiri).

Thiwul khas Gunung Kidul

Kandungan Gizi Thiwul

Tiwul banyak dikonsumsi oleh masyarakat pegunungan kidul (Gunung Kidul Yogyakarta, Pacitan, dan Wonogiri) sebagai pengganti nasi. Sekalipun kandungan kalori thiwul lebih rendah dari nasi atau beras (121 kal), namun cukup memenuhi sebagai bahan makanan pengganti beras.

Gaplek sebagai bahan baku thiwul mengandung protein 1,5 gram, karbohidrat 81,3 gram, lemak 0,7 gram, kalsium 80 miligram, fosfor 60 miligram, dan zat besi 2 miligram.  Selain itu juga terkandung vitamin A sebanyak 0 IU, vitamin B1 0,04 miligram dan vitamin C 0 miligram.  Hasil tersebut didapat dari penelitian terhadap 100 gram Gaplek, dengan jumlah yang dapat dimakan sebanyak 100 %.

Cara membuat thiwul

thiwul proses 1

Cara membuat tiwul tidaklah rumit, singkong yang telah diolah menjadi gaplek ditumbuk hingga menjadi tepung (Cassava), diberi sedikit air hingga menjadi butiran-butiran kecil seperti nasi, lalu diletakkan ditampah, diayak untuk dipisahkan antara butiran halus dan kasar. Proses ini biasa disebut  ditinting. Kukus hingga berwarna kecoklatan dan teksturnya serupa dengan nasi. Saat mengukus thiwul jangan lupa memberi lubang pada tengahnya sebagai jalan keluar uap air. Lebih enak lagi jika thiwul dimasak diatas tungku yang menggunakan kayu sebagai bahan bakarnya.

Ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengolah thiwul. Saat menjemur singkong pastikan singkong benar-benar telah kering. Sebab jika saat proses penjemuran singkong tidak benar-benar kering, maka akan beresiko terhadap pertumbuhan jamur Aspergitus Flavus yang bisa menyebabkan keracunan hingga membawa kematian.

Selain itu, racun dalam thiwul disebabkan juga karena adanya kandungan asam sianida. Biasanya sinkong yang sudah terinfeksi memiliki rasa yang pahit dan warna pada pangkalnya berubah kebiru-biruan. Jika terdapat singkong seperti itu, sebaiknya jangan dikonsumsi.

Thiwul

Jika Anda berkeinginan mencoba membuat thiwul, berikut bahan-bahan yang dibutuhkan serta cara pembuatannya.

Bahan:

  • 300 gr tepung gaplek atau tepung tapioka (tepung cassava)
  • 70 ml air
  • 2 lbr daun pandan
  • 100 gr gula merah, sisir

Taburan:

  • 1/4 btr kelapa muda parut panjang
  • 1 lbr daun pandan
  • 1/4 sdt garam

Cara membuatan:

  1. Taruh tepung gaplek di atas tampah, perciki dengan air sambil diaduk-aduk hingga adonan berbutir seperti pasir, sisihkan.
  2. Masukkan adonan ke dalam dandang yang telah dipanaskan dan dialasi daun pisang, taruh gula merah sisir secara acak, kukus hingga 60 menit, angkat.
  3. Kukus pula kelapa parut dengan daun pandan dan garam selama 15 menit, angkat.
  4. Sajikan tiwul bersama kelapa parut.

Thiwul paling enak dinikmati tatkala masih hangat dan masih menyisakan uapnya, dalam bahasa jawa biasa disebut kebul-kebul. Tak hanya enak dijadikan panganan ringan, tiwul juga enak dimakan dengan gulai daun singkong dan ikan goreng ataupun dicampur dengan sayur lombok ijo yang juga makanan khas Gunung Kidul.

Tulisan ini dikut sertakan dalam blog writing competition ‘Jelajah Gizi 2’ dengan tema Kekayaan Gizi Daerah Pesisir yang diselenggarakan oleh Sari Husada.FA-Poster-Event-Sarihusada-40cm-x-60cm-R3-682x1024

Sumber:

  • nutrisiuntukbangsa.org
  • food.detik.com
  • blog.umy.ac.id
  • Foto koleksi Aan Prihandaya
Iklan

103 pemikiran pada “Ke Gunung Kidul Tak Lengkap Tanpa Mencicipi Thiwul

  1. aku sukanya tiwul yang item mbak, lebih enak menurutku dibanding yang putih. Dimakan sama sambel bawang.
    sukses ngontesnya

      • di tempat kelahiran saya di lereng timur gunung semeru, thiwul kebanyakan berwarna item. Mungkin karena beda bahan baku dan jenis singkongnya. Sewaktu saya kecil, masih banyak keluarga yang mengkonsumsi thiwul yang dicampur dengan beras dan jadilah nasi thiwul. Sayapun sering diberi oleh tetangga dan rasanya memang enak apalagi dicampur dengan sayur asem, ikan asin dan sambel terasi.
        Mungkin kalo sekarang, sudah jarang ditemukan yang mengkonsumsi thiwul.

  2. Wah mba ika nih, kl baca tulisan mba tuh sk nebak2 sdr “ikutan kompetisi g nih?”. Dan B e T u L, setelah baca sampai akhir 😀 Kl mba buat buku aku mau deh di ksh gratissssan xixixi 😀

  3. eh dipercikin gitu pake air.. 300g untuk 70ml.. dicateeeeetttt.. pake tepung tapioka bisa ya..
    lama ga makan tiwul, dulu mbahku sering bikin.. pake gula merah..

  4. hehe thiwul jd kangen s tiwul, di jogja banyak ni mbok2 pagi2 jualan thiwul dkk, kl ga salah dulu di jogja pernah di luncurkan thiwul instant juga deh, katanya lbh ditambah jg gizinya

  5. waduuuh aku mau tiwulnyaaaa, senak kayaknya. di medan susah nyari tiwul. Eh baru tau aku ternyata baron dan krakal itu termasuk gunung kidul toh, pantainya emang bagus banget, bersih lagi. sukses ya kaaa

  6. Hm… setelah membaca tulisan ini saya mencoba mencari-cari padanan tiwul itu, sepertinya kalau di sini (Bugis-Makassar) mirip-mirip dengan “doko-doko battawe”, singkong + gula merah + kelapa 😀
    Salam kenal 🙂

  7. Aku menikah dengan orang Wonosari tapi belum pernah makan thiwul. Seringnya cuma makan sayur lombok. Di pasar Kranggan ada yang jual thiwul, tapi antreannya selalu panjang. Males ngantri.

  8. waaahhh.. ini koleksi fotonya mas Aan yaa mbak Ika? bagus banget…
    bsk Sabtu aku insyaAlloh mau jln2 ke Gunung Kidul, mau ke Sri Gethuk, semoga bisa nemu thiwul dan jangan lombok yang maknyus yaa mbak.. hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s