Cerdas Mengelola Hutang

Sering kita temukan pamflet yang ditempel sembarangan di pohon ataupun marka jalan yang berisi kemudahan untuk berhutang. Seperti beberapa waktu lalu saat saya melintas di seputar jalan Ahmad Dahlan Jogja, saya menemukan beberapa iklan yang menawarkan kemudahan kredit, contohnya seperti ini,”Kredit mudah, satu hari langsung cair” atau dengan bahasa lain,”Cukup dengan BPKP uang langsung cair.”

credit

credit

Kemudahan itu sejatinya mengecoh. Lho kok bisa?

Ya, karena kemudahan tersebut terkadang menjadikan kita kurang mawas diri. Kurang berfikir jernih apakah hutang ini memang betul-betul kita butuhkan.

Seperti pengalaman saya beberapa waktu lalu. Beberapa sahabatΒ  menawari saya berbagai jenis barang mulai dari kaca mata, tupperware, baju dan lain sebagainya.

Rata-rata mereka mengatakan barang yang dibeli bisa dicicil hingga 10x. Siapa yang tidak tertarik jika barang bisa dicicil hingga 10x tanpa bunga. Wah enak nih, bayarnya enteng pikir saya waktu itu. Dari awalnya kredit kaca mata perbulan 80.000 trus tupperware plus yang lain-lain akhirnya baru terasa berat setelah terkumpul 10 cicilan dengan barang yang berbeda.

Kemampuan dalam mengelola hutang sangat diperlukan mengingat keadaan ekonomi global maupun nasional saat ini cepat sekali berubah. Beberapa perusahaan besar tak luput dari goncangan ekonomi dan terpaksa mem-PHK karyawannya.

Saat memutuskan akan berhutang, ada baiknya kita meminta pendapat orang-orang terdekat. Masukkan dari mereka bisa menjadi pertimbangan kita saat memutuskan berhutang. Akan lebih baik lagi jika kita mempunyai prinsip berhutang hanya jika kondisi mendesak dan butuh.

Kemudahan kredit sering juga menyebabkan kita kurang memperhatikan tingginya bunga yang dikenakan atau yang dibebankan. Pernah suatu kali saya ditawari kredit tanpa agunan dari sebuah bank swasta. Kok bisa ya kreditnya tanpa agunan. Padahal bank biasanya menentukan agunan 125% dari pinjaman yang diajukan. Ternyata setelah saya hitung-hitung bunga yang dikenakan tak hanya cukup tinggi tapi luar biasa tinggi dibanding hutang yang menggunakan agunan.

Pertimbangkan pula kondisi keuangan kita di masa yang akan datang. Pastikan kita memiliki kemampuan untuk membayar serta resikonya. Risiko yang dimaksud ialah resiko bunga dan kesinambungan sumber yang kita miliki untuk membayar hutang tersebut.

Salam,

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

.

You might also like:

Perempuan dan Bisnis: Bekal Mental Pengusaha

Habiskan saja gajimu!!

Hermes

Iklan

34 pemikiran pada “Cerdas Mengelola Hutang

  1. Paling enak emang langsung lunas ya mbak Ika, ndak perlu ngutang, tp apa dayaaaa hehehe
    Pokoknya mah jangan keasyikan/lupa diri saja ya mbak Ika.
    *sambil lihat tagihan πŸ˜€

  2. Jaman saya kecil, mencari hutangan begitu sulitnya dan kalopun ada pasti jerat rentenir menunggu, dan saya sepakat di jaman sekarang justru para pemilik modal yang bingung nyari calon penghutang dengan berbagai rayuan ini dan itu sehingga yang semula nggak berniat utang jadi terseret dalam arus hutang pihutang. Apapun yang namanya hutang, tetap saja merepotkan apalagi jika tanpa perencanaan yang jelas

  3. kartu kredit, termasuk kredit juga kan ya? πŸ™‚

    semasa dulu di jakarta saya memiliki hampir semua kartu kredit. dan tersadar saat harus melunasi semua tagihan sesaat sebelum meninggalkan tanah air. betapa besar total jumlah bunga yang harus saya bayar. sejak saat itu no more credit card.

    salam
    /kayka

  4. Kalo utang memang lebih baik hanya untuk yg sifatnya ‘investasi’ kayak rumah, dan konsumsi yang urgent kayak mobil ya Mbak. Other than that, kalo kita ngutang belinya artinya kan kita udah hidup melampaui kemampuan keuangan kita,
    Aku perlu kartu kredit hihi buat tiket pesawat

    • Iya betul, masih banyak orang yang terjebak dalam utang konsumtif gegara kartu kredit. Aku sendiri parno mbak walaupun belum pernah pakai. Coz, suka gatel kalo jalan ke Mall πŸ˜€

  5. pihak bank atau pemberi utang (leasing) memanfaatkan kebiasaan sebagian masyarakat kita yang suka belanja dan konsumtif, mbak.

    selain itu, bank saat ini juga kelebihan dana cash. ini salah satu strategi untuk mengurangi resiko kredit macet.. mereka lebih baik ngasih kredit 100 juta rupiah ke 40 orang daripada langsung 4 M tapi hanya ke satu orang….

    kalau 40 org itu katakan 10% yg gagal bayar, resiko kemungkinan dana nggak kembali 400 juta. tapi kalau kasih pinjaman ke satu orang dan dia gagal bayar, bablas kredite.

    tulisan yang menarik dan bermanfaat, agar kita tak mudah tergiur dengan iming-iming mudahnya mengutang…..

      1. Bank juga semakin gencar memberi pinjaman yang bersifat konsumtif. Kartu kredit sekarang di tawarkan bak kacang goreng.

        Saya sering mendapat telpon dari telesales kartu kredit sampai saya harus membuat surat keberatan ke bank yang bersangkutan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s