Siapa Dirimu

Ada sebagian orang yang mudah tersulut emosi ketika mendengar suara-suara miring tentangnya. Pastinya dengan kadar reaksi masing-masing. Ada yang marah besar, marah ataupun hanya ngedumel alias ngegrundel. Sedikit disinggung langsung meledak. Sedikit dikritik, langsung menyerang balik. Sedikit diingatkan, balik mengorek kesalahan.

Padahal jika kita sadari, Tuhan memberi kita dua telinga dan satu mulut tentu fungsinya agar kita lebih banyak mendengar. Dan pada kenyataannya suara yang kita dengar tak selalu suara yang mengalun merdu. Terkadang suara kresek-kresek seperti suara radio yang tak menemukan frekuensinya, atau suara menggelegar yang mengagetkan kita, atau malah kadang hanya bisikkan-bisikkan tak jelas.

Cara orang mengkritisi kita pun bermacam-macam. Ada orang yang mengkritisi dengan kata santun,”Maaf, ada sedikti masukkan dari saya, sebaiknya bla bla bla.” Akan tetapi ada orang yang menyampaikannya tanpa tedeng aling aling. Blas, bagai anak panah menembus sasarannya. Sakit langsung mengenai hati. Disinilah kedewasaan kita dalam mendengar diperlukan.

Air beriak tanda tak dalam, air tenang menghanyutkan.

Mengapa kedewasaan dalam mendengar diperlukan?

Sebuah kata bijak mengatakan jika ‘Air beriak tanda tak dalam, air tenang menghanyutkan’. Ini sebuah perumpamaan jika kita mudah terpancing emosi, maka seberapa besar kemampuan yang kita miliki akan mudah terbaca.

Saya suka sekali dengan film kung fu. Terutama film-film Jet Li. Lho, kok tiba-tiba ngomongin kung fu dan Jet Li. Ya, dalam kung fu ketenangan saat bertarung sangat dibutuhkan. Sering karena terpancing emosi ataupun terkadang lawan sengaja memancing emosi, maka ia mudah dikalahkan.

Kedewasaan dalam mendengar mutlak kita perlukan mengingat ia adalah cermin diri kita. Ya, apakah kita termasuk orang yang sabar ataupun bukan akan jelas terlihat dari bagaimana kita merespon segala hal yang masuk.

Yuk, saatnya untuk belajar mendengar.

Salam hangat dari saya,

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

.

.

You might also like:

Prestasi vs Kemandirian

Sedekah Buku Membawa Berkah

Refleksi Orang Tua

Iklan

27 pemikiran pada “Siapa Dirimu

  1. Jadi pengen ngomongin kungfu nih 🙂

    Saya teringat dengan kisah Chinmi si Kungfu Boy.
    Dalam salah satu episodenya, ia diminta membaca sebuah tulisan yang terpahat di sebuah batu yang letaknya di tengah – tengah ketinggian jurang. Ia diminta membaca tulisan itu sambil terjun dari jurang, tentunya dengan kecepatan tinggi. Bayangkan betapa sulitnya itu dilakukan…
    Chinmi melakukan berkali-kali dan selalu gagal.

    Singkat cerita… akhirnya Chinmi mampu membaca tulisan tersebut dengan cara menenangkan diri dan konsentrasi pikiran selama terjun dari atas jurang.
    Ini salah satu adegan komik yang saya sukai.

  2. Seperti yang pernah saya tuliskan …
    apapun yang kita lakukan … itu pasti akan dikomentari oleh orang-orang …
    dan komentar negatif itu seringkali demikian mendominasi …

    JAdi …. betul kata Bu Ika …
    Diperlukan kedewasaan dan kebijakan untuk menghadapinya …

    Salam saya

  3. setujuuuu….!!! sering setelah presentasi, selalu mengatakan mohon kritik dan sarannya, tapi saat ada yang mengkritik, langsung deh ga nerima. akhirnya terjadilah perdebatan yang ga ada ujung penyelesaiannya. trus terbawa keluar dari yang dipresentasikan. ternyata selain berucap, mendengar juga butuh kedewasaan. benar kata Mbak Ika.

  4. Saat menerima kritik, jujur awalnya rada ngga enaak gitu hati nih..tapi setelah bbrp saat, mulai sadar dan kembali menilik kediri sendiri, so jadikan buat menjadi lebih baik lagi. Tapi emang kalau lagi esmosi jiwa mah usahakan jangan ngomong deh, ntar yg keluar yang seringnya kita sesali.. Matur nuwun sanget… jazakillah khoir mbak Ika sayaaaaang.

  5. jadi inget episode-nya chinmi dari masiwan.. itu butuh konsentrasi juga tenang..
    jadi inget jetli, kalu mo ribet ga bakal menang, emang butuh tenang..

    baiklah.. sekarang mendengar [membaca dalam hal blog ya] dibanding komen miring tanpa mengenal..

  6. Bener Mak, memang dibutuhkan kedewasaan dalam mendengar. Juga butuh kedewasaan dalam bersikap terhadap kritik yang ditujukan kepada kita. Kuncinya sederhana sebenarnya dalam menerima/menghadapi kritikan. Anggap saja itu sebagai masukan yang disampaikan dengan cara yang berbeda oleh setiap individu. Kalo aku sendiri, saat dikritik atau dicela, walau sedih, aku akan coba menghibur diri, bahwa kita, tak akan mampu menghibur semua orang. Pasti akan ada yang senang dan tak senang terhadap aksi kita. We can not please every body.

    Btw, aku juga suka nonton film kungfu, Mak Ika! Paling suka sih serial kungfu china, versi lama, dimana para pemainnya masih menggunakan pakaian china tempo dulu, terutama pemain wanitanya, yang berpakaian anggun, tapi punya jurus yang lembut, menawan tapi perkasa. #Lho, kok malah ikut ngebahas kungfu. Hehe.

    Met sore, Mak Ika. Apa kabar?

  7. Bagaimana kita menempatkan diri diantara mereka mbak? Ada beberapa karakter yang tak mau menyibukkan diri dengan menaggapi orang lain, sedangkan idealnya kita sebagai buffer menjadi pendengar dan penyelesai solusi sosial psikologis disekitar.

  8. setuju sekali mba ika, saya suka degan kalimat ini : Akan tetapi ada orang yang menyampaikannya tanpa tedeng aling aling. Blas, bagai anak panah menembus sasarannya hihi 😛
    sukses terus ya mba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s