Mendengar Dengan Mata Hati

Beberapa waktu yang lalu aku sempat kaget saat di kabari Rina, sahabatku sakit dan masuk rumah sakit. Sedih banget rasanya, apalagi saat mendengar keretakkan rumah tangga Rina, yang menjadi penyebabnya. Rina terlalu dalam memikirkan permasalahannya hingga akhirnya penyakit maag akutnya kambuh dan mengharuskannya beristirahat di rumah sakit.

Lamanya masa berpacaran ternyata tak bisa menjamin rumah tangga seseorang minim konflik dan juga tak ada jaminan rumah tangga seseorang lebih langgeng. Sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah, Dino dan Rina telah menjalani 8 tahun masa berpacaran.

Proses mengenal saat berpacaran ternyata kadang menjadi bumerang. Sering timbul pertanyaan,”Kok sekarang suami ndak seperti waktu pacaran ya.” Padahal hidup ini senantiasa bergulir. Tak selamanya indah dan penuh tawa. Kesedihan, stress, keterpurukan sering merubah karakter seseorang.

Semua berawal dari di PHKnya Dino, suami Rina dari pekerjaannya. Mereka tidak siap dengan kondisi yang ada. Rina yang biasa menggantungkan 100% kebutuhan rumah tangganya pada Dino menjadi terpukul sekali dengan keadaan ini. Ya, tidak menerima kenyataan yang ada sering menjadikan masalah menjadi semakin rumit. Persoalan kecil menjadi besar atau mungkin tanpa sadar dibesar-besarkan hingga akhirnya meledak, memporak porandakan tatanan yang ada.

Konflik yang terjadi antara Rina dan Dino sejatinya pada awalnya merupakan konflik-konflik kecil yang mewarnai kehidupan berumah tangga. Konflik-konflik kecil itu ternyata tidak segera dicarikan penyelesaiannya hingga akhirnya meledak seperti bom waktu.

Sebuah musibah kadang menjadi titik balik seseorang untuk berfikir jernih. Alhamdulillah, pasca penyakit maag Rina kambuh, ternyata hal itu menjadi penyadaran bagi ia dan suami untuk mencoba duduk bersama dan mencari jalan keluar dari permasalahan yang mereka hadapi.

Tak ada yang tak mungkin untuk diselesaikan ketika masing-masing mencoba untuk mengurai dan memahami satu sama lain dan bukan menuntut pasangan seperti yang kita maui.

Walaupun pada akhirnya Dino mendapatkan pekerjaan dengan gaji jauh dibawah gaji sebelumnya, Rina menerimanya dengan lapang dada. Tak menuntut seperti sebelumnya. Untuk menutupi kebutuhan kadang Rina menerima pesanan kue-kue ataupun masakkan untuk hajatan, syukuran, pengajian ataupun acara-acara kantor.

Kemampuan Rina dalam masak memasak menjadi berkah tersendiri buat dia dan keluarganya. Jika dulu Rina malu-malu menawarkan masakkannya, kini ia dengan pede memberikan tester masakkan ataupun kue.

Dari permasalahan Rina dan Dino, aku bisa belajar banyak. Tak ada yang tak mungkin untuk diselesaikan. Semua tergantung bagaimana kita akan membawa masalah tersebut, akan kita selesaikan ataupun akan kita biarkan tatanan yang ada runtuh, hancur berkeping keping.

Kuncinya pada kemauan kita untuk mendengar dan menerima. Mendengar tak cukup hanya dengan telinga akan tetapi mendengar juga dengan mata hati kita agar kita mampu memahami perasaan orang lain dan menerimanya dengan lapang dada.

Caranya?

Bayangkan kita berada pada posisi orang lain. Belajar berempati berarti belajar mengasah kejernihan mata hati.

Salam,

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

.

.

Catatan:

Nama Rina dan Dino merupakan nama samaran. Mudah-mudahan tetap bisa diambil pelajarannya.

You might also like:

Toko Online

Resensi # Habiskan Saja Gajimu!!!

Prosesi Pernikahan Adat Jawa

Iklan

34 pemikiran pada “Mendengar Dengan Mata Hati

      • iya.. aku pikir begitu.. cuma gak dijelasin.. itu cuma “keretakan” temporer atau memang sudah berkeping-keping… soalnya terminologi “keretakan rumah tangga” itu = perceraian, maklum orang indonesia suka gak bisa nulis strait to the point.. mau bilang cerai kok ya kayaknya tabu.. maka dicarilah frasa yang pas “keretakkan rumah tangga”..ini menurut ibu saya loh.. yang jaman dulu bacanya majalah Family.. cuma Femina yang awalnya berani memakai kata “Cerai” langsung di majalahnya di edisi awal2 terbit .. *ini kok jadi ngomongin etimologi yeuh hihih

  1. Rumah tangga selalu tak lepas dari konflik tapi bagaimanapun juga kita tetap harus bisa berusaha mempertahankan janji pernikahan, apa pun yang terjadi semua masalah bisa disikapi dengan bijak

  2. setiap rumah tangga yang retak gitu masalahnya melulu uang ya.. suami tidak bekerja klasik banget.. penyelesaiannya ternyata bukan uang, tapi mau ga kita berusaha bersama.. selalu ada berkah dan pencerahan dibalik musibah kalu kita mau belajar.. kesempatan selalu ada..

  3. semua bisa diselesaikan, saya pernah ngelewatin masa sulit awal2 menikah, bersabar untuk ngebangun mimpi:) ga putus asa doa dan support buat suami,pengertian antar pasangan jg dibutuhkan, menikah adalah ‘team’ ah saya masih baru juga ding:))

  4. Semua tergantung bagaimana kita akan membawa masalah tersebut …
    Betul sekali ini bu …
    Dan tentu saja … komunikasi dua arah yang baik diantara ke duanya …
    kerjasama yang baik diantara keduanya … mudah-mudahan akan semakin mempererat keluarga …

    (kata-kata ini juga saya tujukan untuk diri saya sendiri)

    Salam saya Bu Ika

    • akhir2 ini jujur, sy sering banget mendengar cerita tentang tantangan bagi rumah tangga, ada yang berhasil, ada yg tidak. maturnuwun ceritanya mbak. dan om NH, sesekali share dong ttg rumah tangga bapak, mungkin ada yang bs dibagi. bagaimana mempertahankan, bgmn menghiasi, berkomitmen dll. secara om kan sudah “senior” hehehe.

  5. selalu ada pelajaran untuk kedewasaan,di setiap masalah dalam pernikahan,, dih kayak udah nikah aja :mrgreen:
    smoga bisa kita ambil hikmahnya ya mbak ika πŸ˜‰

  6. dengan melihat, membaca, mendengar apa yang dialami orang lain, memang kita bisa menarik banyak pelajaran ya mbak.
    Sayangnya, banyak yang melihat tapi untuk dijadikan bahan gunjingan. membaca tapi jadi bahan untuk mencari kejelekan

  7. “Tak ada yang tak mungkin untuk diselesaikan ketika masing-masing mencoba untuk mengurai dan memahami satu sama lain dan bukan menuntut pasangan seperti yang kita maui”.

    memahami dan menahan ego, siiiip tenan untuk bumbu awet rumah tangga, mbak ika πŸ™‚

  8. menurutku, hubungan suami istri itu harus terus menerus diperjuangkan. Karena 2 orang dari 2 latar belakang yang berbeda, harus mau saling memahami, ini bukan cuma masa pacaran/pengantin baru aja, tapi terus2an sampai tua. karena ini kan 2 kepala dengan 2 keinginan yang belum tentu bisa kompak.
    thks ya, saya juga belajar dari kisah yang di tulis di atas.

  9. wah, bagus banget ceritanya. wajarlah ada konflik, namun yg penting harus ada komunikasi yg baik antar kedua pihak. harus ada yg mengalah, jika yang satu ngotot…

  10. Perjalanan membina rumah tangga memang tak selalu mulus, bahkan untuk pasangan yang telah mengenal sekian lama atau telah berpacaran sekian lama. Salut dg kekuatan keduanya utk tetap bertahan di masa2 yang paling sulit, mbak.

  11. pembelajaran yang sangat baik… Jangan sampai masalah pertama yang kita hadapi berkembang dan beranak pinak menjadi masalah kedua,ketiga dan seterusnya jika kita tidak berusahakeras mencarikan pemecahannya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s