Berapa Keuntungan Yang Sebaiknya Diambil?

Pagi itu, matahari masih malu-malu menampakkan wujudnya. Seperti aktivitas ibu-ibu pada umumnya di pagi hari, saya pun demikian. Selesai dengan urusan dapur, saya beriap-siap pergi ke pasar untuk berbelanja aneka sayur mayur.

Tiba-tiba bumi di goyang sedemikian kencang hingga kaki saya hanya bisa melangkah sampai depan pintu. Jangankan melanjutkan langkah untuk menyelamatkan diri, bertahan agar tetap berdiri saja saya musti terjungkal ke kanan dan ke kiri.

Tak berapa lama, pagar setinggi 2,5 meter yang berada tepat di depan saya runtuh, tak kuasa berdiri lagi. Beruntung Allah masih menyelamatkan saya dan bayi mungil dalam gendongan saya. Pagar ambruk keluar hingga tak mencederai saya sedikit pun.

Hari itu tanggal 27 Mei 2006 pukul 05.55 Jogja di guncang gempa.

Tak hanya banyaknya korban dan rumah runtuh yang mencengangkan. Bahkan harga-harga barang pangan pun merangkak naik mencengangkan. Merangkak tak terkendali. Tempe yang biasanya 1.500 jadi 3.000, lele yang biasanya 12.000 per kilo melambung menjadi 25.000 perkilo. Bahkan mie instant yang harganya stabil ditempat lain bisa melambung menjadi 100.000 per karton.

Berbicara masalah keuntungan, dalam pandangan Wahbah al-Zuhaili, pada dasarnya, Islam tidak memiliki batasan atau standar yang jelas tentang laba atau keuntungan. Sehingga, pedagang bebas menentukan laba yang diinginkan dari suatu barang. Hanya saja, menurut beliau keuntungan yang berkah (baik) adalah keuntungan yang tidak melebihi sepertiga harga modal.

Sedangkan menurut sebagian ulama dari kalangan Malikiyyah membatasi maksimal pengambilan laba tidak boleh melebihi sepertiga dari modal. Mereka menyamakan dengan harta wasiat, di mana Syari’ membatasi hanya sepertiga dalam hal wasiat. Sebab wasiat yang melebihi batas tersebut akan merugikan ahli waris yang lain. Begitu pula laba yang berlebihan akan merugikan para konsumen (pembeli). Oleh sebab itu, laba tertinggi tidak boleh melebihi dari sepertiga.

Islam tidak memberikan standarisasi pasti terkait pengambilan laba dalam jual beli. Kendatipun demikian, sepantasnya bagi seorang muslim untuk tidak mendhalimi sesama muslim yang lain dengan mengambil keuntungan terlalu besar.

Harga yang sangat mahal karena keuntungan yang diambil sangat besar tentu sangat memberatkan pihak pembeli. Dalam hal ini, tidak akan ada istilah tolong menolong yang sedari awal sangat diwanti-wanti oleh Islam. Islam tidak melarang untuk mengambil keuntungan, namun dalam batas kewajaran.

Alangkah lebih baik jika kita meniru mu’amalah yang dilakukan Nabi, di mana beliau tidak jarang menyebutkan harga pokok barang agar konsumen (pembeli) tidak merasa rugi dan dipermainkan dengan harga. Dengan demikian, tidak ada pihak yang merasa dirugikan dan yang pasti sama-sama ridho.

 

.

Sumber:

http://cyberdakwah.com/

You might also like:

Slow Motion Kesuksesan Abdurrahman bin Auf

Godaan Dunia

Min Haitsu La Yahtasib

 

Iklan

28 pemikiran pada “Berapa Keuntungan Yang Sebaiknya Diambil?

  1. aku pernah dengar juga begini mbak, dalam berjualan tidak boleh ada 2 harga. contohnya harga barang A kalau cash sekian tapi kalau kredit sekian. Nah katanya itu tidak boleh ya mbak

    • Betul mbak Lidya.

      Sedikit cerita, saya pernah beli bukunya Syafii Antonio. Dalam menetapkan harga jual beliau memberi strata diskon berbeda untuk pembayaran cash maupun tempo.

      Ambil contoh harga buku 2.500.000 (kebetulan buku beliau yang saya beli ensiklopedia). Untuk pembelian cash 20%, 3 bulan 10% dan maksimal tempo sampai enam bulan.

      Jadi harga pokoknya sama untuk pembelian cash maupun credit. Hanya strata disc saja yang berbeda.

  2. Yap sepakat sekali Mbak Ika, mengambil keuntungan memang harus mempertimbangkan banyak hal, selain nilai barang, bagaimana perputaran barang itu di masyrakat, ketersediaan dan kemudahan pengadaan barang dan seterusnya, tentu tidak melupakan prinsip-prinsip yang diajarkan Rasululloh SAW bagaimana berdagang yang jujur, dan ramah. Bagi saya yang pedagang pasar tradisional, lebih baik mengambil untung sedikit untuk mendapatkan pelanggan yang banyak.

    • Betul sekali pak. Sedikit lebih berkah jauh lebih baik pak. Tapi apa yang dicontohkan Rosulullah dengan menyebutkan harga pokoknya terus terang saya sendiri masih berat melaksanakan pak. Kadang pembembeli menawar harga yang tidak rasional.

      • sepakat, saya juga akan berpikiran yang sama Mbak Ika. Berat untuk sangat berterus terang mengatakan modal pokok dari barang yang kita beli.

  3. Tuntunan dari Nabi mengenai berapa besaran keuntungan yg boleh diambil tidak ada, jika para ulama ada yang menghitung keuntungan sebesar 1/3 dari modal itu bisa diterima. Namun jika Anda berdangang bermacam macam barang, tentu ada barang yg untungnya sedikit, ada barang yg berisiko cepat rusak, dan ada barang yg bisa untung besar. Menurut saya sulit kalau harus 1/3 masing2. Bisa kemahalan bisa juga kemurahan (merusak harga pasar). Jadi ada yg jauh dibawah 1/3 (misal modal 200ribu jual 205ribu) tapi ada juga yg 100% (berisiko dan sesuai pasaran).

    Namun dari pengalaman pada hasil akhirnya setelah terjual pukul rata semua nya memang keuntungannya sekitar 1/3 dari modal total yg terjual.

    Jadi kira-kira maksudku keuntungan perbarang tidak harus selalu paling tinggi 1/3, jadi harus bisa sistim silang dan sesuai pasarlah (risiko). Barang laku walaupun mdalnya besar tapi untungnya hanya bisa 5-10 rp, barang berisiko rusak untungnya harus 30% – 100%.

    Jaman sekarang jika kita menjual barang diatas harga pasar (untung besr) pasti tidak lama lagi dgn sendirinya tdk laku. Kira-kira begitulah pangalamannya.

    • Terimakasih masukkannya pak.

      1/3 memang bukan harga mati karena di Islam pun tidak ada patokkan pastinya. Berdagang masalah muamalah yang dalam Islam pengaturannya setahu saya tidak saklak. Kalau pun ulama menetapkan 1/3 ya itu sebagai bahan masukkan buat kita.

  4. iya. gitu. harga jual seharusnya lebih sepertiga dari harga modal. itu maksimal. kalau 20% atau 10% juga boleh. misalnya jajan harganya Rp 500. kalau 10 bungkus harganya 4500. jadi labanya 500. total 10 bungkus 5000. labanya 500/ 5000 = 10%. masih wajar dong ya?
    cuma sekarang harga-harga naik. harga pokok naik karena BBM naik. harga jual naik. semoga para pembeli sadar. tapi pembeli juga jadi gak bisa beli banyak. semoga kelak harga2 turun. kasihan penjual dan pembeli kalo harga2 naik.

  5. ada konsep dalam ekonomi Islam yg namanya Antaroddin.
    bila terjadi kesepakatan mau berapa % pun keuntungan yg diperoleh maka itu boeh2 saja, intinya ada rasa suka sama suka dengan harga yg ditawarkan.

  6. Walaupun pasti ada, namun jaman sekarang jarang menjumpai pedagang yg mau ngasih tau harga pokok barang yg dijualnya. Kalo pun mereka memberi tahu, biasanya juga nilainya dinaikin agar kita mau membeli seharga yg dia tawarkan …

  7. Hidup jauh lebih mudah kalau cara menetapkan harga ini seperti yang dilakukan Nabi ya Mbak Ika. Tidak seperti sekarang, kelangkaan supplai saja sudah membuat produsen jerit-jerit 🙂

  8. Makasih banget infonya, tp kalo misal mau ngitung keuntungan sebuah proyek yg mungkin modalnya cm otak kita ja gmn ya, misal: Prosek IT personal: Bikin Software, Web dll.. Klo biaya listrik dan komunikasi kan relatif kecil jd yg paling besar ya modal otak. itu ngitungnya gmn?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s