[Macaroon Love] Magali dan Segala Keanehannya

SAMSUNG CSC

Judul Buku : Macaroon Love

Penulis : Winda Krinadefa

Penerbit : Qonita PT Mizan Pustaka

Halaman : 264 halaman

Terbit : Cetakan I, Maret 2013

Ukuran : 11x18cm ISBN : 978-602-9225-83-9

Harga : 47.000

***.

Magali dan nama. Benar-benar topic of the year setiap tanggal 29 Desember. Why?

Magali memiliki masalah penting seumur hidup, yakni namanya sendiri.

Andai namaku bukan Magali.

Begitulah Magali. Bahkan di ulang tahunnya yang ke-24 pun ia tetap berharap bukan bernama MAGALI. Yeah, meski menurut Jhodi, ayah Magali, namanya berasal dari bahasa Perancis yang berarti mutiara. “Daughter of the sea,” begitu kata Jhodi.

Tak hanya namanya saja yang terdengar aneh, selera makan Magali pun tergolong unik. Magali memiliki kebiasaan manikmati makanan dengan cara yang tak biasa, salah satunya cara Magali menikmati french fries. Magali tidak mencocolkan french fries pada saos melainkan pada vanila sundae. Dan kebiasaan aneh Magali inilah yang membawanya bertemu dengan sosok Ammar, koki ganteng sekaligus pemilik restoran Suguhan Magali yang membuatnya merasakan hal-hal aneh yang cukup merepotkannya.

Dari sosok Magali yang unik Winda menyelipkan sebuah pesan apik mengenai makna cita-cita. Sejatinya cita-cita tak selalu harus terdengar bombastis, tapi lebih pada kepuasan atas pencapaian diri. Seperti apa yang diungkapkan Magali pada ayahnya.

“Cita-cita kan, tidak harus terdengar bombastis agar yang mendengar ternganga! Bukan untuk itu cita-cita diciptakan! Bagaimana kalau aku punya cita-cita yang humble, seperti menjadi food writer? Apakah itu menjadikan aku manusia yang kurang hebat dibanding mereka yang bercita-cita ingin menjadi dokter atau presiden. Cita-cita itu adalah pencapaian yang memberi kepuasan pada diri sendiri, bukan orang lain……” (halaman 41-42) 

Macaroon love1

Saat membaca judul novel ini, yang tergambar dalam benak saya cerita novel ini pastilah unik. Bagaimana tidak unik jika cinta dipadukan dengan makanan. Saya jadi teringat pesan nenek waktu beliau masih hidup. “Dari perut turun ke hati. Makanan bisa menumbuhkan dan mengokohkan cinta,” begitu kata nenek.

Sosok Magali yang unik dalam novel ini ternyata merupakan hasil observasi Winda atas apa yang ia baca dan amati dari social media setiap harinya. Sebuah pengamatan yang cerdas. Winda mampu menangkap realita yang ada disekitarnya. “I learn a lot and get inspired so much by watching your life through my laptop screen,” begitu ungkapnya. 

Novel ini menyajikan cerita ringan dan tak banyak konflik. Kisah cinta yang menjadi pokok cerita ini terasa kurang racikan hingga gregetnya kurang terasa. Novel ini justru banyak bercerita tentang kehidupan dan permasalahan Magali, serta konflik batin Magali.

Penggunaan kata ‘aneh’ untuk memancing perhatian pembaca pun terdengar janggal. Lebih pas jika menggunakan kata unik karena Magali hanya melakukan sesuatu yang berbeda tapi masih dalam koridor wajar.

Terlepas dari itu semua, cerita Macaroon Love memberi kita sebuah pelajaran penting bahwa apa yang kita lakukan dan cita-citakan tak harus sama dengan kebayakkan orang. Justru karena beda itulah yang menjadikan kita unik. Dan dari pribadi yang uniklah sesungguhnya kreatifitas muncul.

Iklan

32 pemikiran pada “[Macaroon Love] Magali dan Segala Keanehannya

  1. Mba .. Kayanya aku nda harus perlu beli bukunya deh.. Nih..
    Dah jelas sih resensinya.. He he.. mks mba pelajarannya bgmn melihat sudut suatu novel..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s