Berapa Keuntungan Yang Sebaiknya Diambil?

Pagi itu, matahari masih malu-malu menampakkan wujudnya. Seperti aktivitas ibu-ibu pada umumnya di pagi hari, saya pun demikian. Selesai dengan urusan dapur, saya beriap-siap pergi ke pasar untuk berbelanja aneka sayur mayur.

Tiba-tiba bumi di goyang sedemikian kencang hingga kaki saya hanya bisa melangkah sampai depan pintu. Jangankan melanjutkan langkah untuk menyelamatkan diri, bertahan agar tetap berdiri saja saya musti terjungkal ke kanan dan ke kiri.

Tak berapa lama, pagar setinggi 2,5 meter yang berada tepat di depan saya runtuh, tak kuasa berdiri lagi. Beruntung Allah masih menyelamatkan saya dan bayi mungil dalam gendongan saya. Pagar ambruk keluar hingga tak mencederai saya sedikit pun.

Hari itu tanggal 27 Mei 2006 pukul 05.55 Jogja di guncang gempa.

Baca Selengkapnya

Warming up di Bulan Rajab

Tak terasa kita telah memasuki bulan Rajab. Berarti dua bulan lagi Ramadhan. Walaupun termasuk bulan haram atau bulan mulia, tak ada satu pun hadist shahih yang menyebutkan keutamaan bulan Rajab. Pun tak ada hadist yang menyebutkan keutamaan shaum khusus di bulan ini.

Menurut Dr. Yusuf Al Qaradhawi, hadist,”Rajab bulan Allah, Sya’ban bulanku, dan Ramadhan bulan umatku” termasuk hadist mungkar dan hadits lemah sekali. Bahkan beberapa ulama menyatakan hadist tersebut ma’dhu’, alias hadits palsu yang tidak bisa diterima.

Di kalangan masyarakat juga terdapat anjuran untuk melaksanakan shalat Roghoib atau biasa juga disebut dengan shalat Rajab. Shalat Rajab biasa dianjurkan untuk dilakukan di malam Jum’at pertama bulan Rajab antara shalat Maghrib dan Isya. Di siang harinya sebelum pelaksanaan shalat Roghoib (hari kamis pertama bulan Rajab) dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah. Jumlah raka’at shalat Roghoib adalah 12 raka’at. Di setiap raka’at dianjurkan membaca Al Fatihah sekali, surat Al Qadr 3 kali, surat Al Ikhlash 12 kali. Kemudian setelah pelaksanaan shalat tersebut dianjurkan untuk membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak 70 kali.

Di antara keutamaan yang disebutkan pada hadits yang menjelaskan tata cara shalat Raghaib adalah dosanya walaupun sebanyak buih di lautan akan diampuni dan bisa memberi syafa’at untuk 700 kerabatnya. Namun hadits yang menerangkan tata cara shalat Roghoib dan keutamaannya adalah hadits maudhu’ (palsu). Ibnul Jauzi meriwayatkan hadits ini dalam Al Mawdhu’aat (kitab hadits-hadits palsu).

Allahumma Baariklana fi rajaba wa sya’bana wa ballighna fi ramadhan, Ya Allah berkahilah bulan rajab kami dan sya’ban serta sampaikanlah kami di bulan ramadhan.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan di bulan ini sebagai bentuk persiapan menjelang bulan Ramadhan?

  • Persiapan fisik

Walau pun masih 2 bulan lagi, tak ada salahnya kalau kita mempersiapkan fisik dari sekarang. Olah raga ringan seperti jalan seputar rumah sedikit banyak membantu kebugaran tubuh. Apalagi mengingat cuaca panas yang akhir-akhir ini diluar batas kewajaran kadang membuat kesehatan kita mudah drop.

  • Persiapan Ruhiyah

Persiapan ruhiyah menjad ipersiapan yang harus diprioritaskan mengingat dua hal. Pertama, saat berpuasa biasanya kita merasa lemas dan malas untuk melakukan apapun hingga akan sangat disayangkan kalau bulan Ramadhan dilewatkan dengan banyak tidur-tiduran atau bahkan benar-benar tertidur pulas.

Kedua, kalau boleh dibilang bulan Ramadhan merupakan bulan penuh obral dan diskon. Obral dan diskon? Wait! Ini bukan masalah persiapan baju lebaran. Maksud obral disini adalah obral pahala. Sementara diskon maknanya diskon dosa. Kok bisa?

Yap, di bulan Ramadhan semua amal kebaikkan kita dilipat gandakan 70 kali lipat. Tak hanya itu, amal yang sunnah pun pahalanya sama dengan amalan wajib. Rasulullah SAW bersabda, “Dalam bulan biasa, pahala setiap kebajikan dilipatgandakan 10 kali lipat, namun dalam bulan Ramadhan pahala amalan wajib dilipatgandakan 70 kali lipat dan amalan yang sunah disamakan dengan pahala amalan wajib di luar Ramadhan.” (HR Muslim).

Bulan Ramadhan bulan penuh ampunan. Saat dosa-dosa kita diampuni berarti kita mendapatkan diskon alias potongan dosa.

Lalu, kira-kira amalan apa yang harus kita persiapkan menjelang bulan Ramadhon?

Pertama, memperbanyak puasa sunah. Puasa sunah disini maksudnya puasa sunnah yang sering diajarkan Rasulullah SAW seperti, puasa ayyamul bith (pertengahan bulan Hijriyah), puasa senin-kamis, ataupun puasa Daud. Mengapa hal ini perlu kita lakukan?

Saat kita akan melakukan olah raga apapun, kita dianjurkan untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu. Hal ini bertujuan agar tidak terkilir saat pelaksanaannya. Begitu juga dengan puasa Ramadhan. Setelah 11 bulan kita tidak membiasakan diri untuk berpuasa 1 bulan penuh, tentunya kita perlu pemanasan agar puasa yang kita jalankan tidak lantas membuat kita malas beraktivitas.

Kedua, tilawah atau membaca Al Qur’an. Bulan Ramadhon sering pula disebut Syahrul Qur’an atau bulannya Al Qur’an.  Al Qur’an turun pertama kali pada bulan Ramadhan. Selain itu, setiap Ramadhan tiba, Jibril selalu turun untuk memuroja’ah (mengulang hafalan) Qur’an Rasulullah.

Mau tahu berapa kali Imam Syafi’i mengkhatamkan Al Qur’an saat bulan Ramadhan? 60 kali khatam. Beliau terbiasa mengkhatamkan 2 kali dalam sehari. Otomatis dalam 1 bulan Imam Syafi’i khatam 60 kali. Eit, jangan pernah bilang,”Itukan Imam Syafi’i, beda dong dengan kita.” Lha syurga itu hak siapa saja Bro. So, kita pun harus semaksimal mungkin meraihnya. Sepakat?

Ketiga, memperbanyak shalat malam (Qiyamul Lail). Saat bulan Ramadhan, kita dianjurkan untuk melaksanakan Shalat Taraweh setelah shalat Isya’. Dan akan lebih baik lagi jika pada sepertiga malamnya kita bisa menunaikan Qiyamul Lail.

Begitu mulianya bulan Ramadhan alangkah sayang jika banyak kebajikkan yang kita lewatkan. Saatnya mempersiapkan diri menyambut bulan penuh berkah kawan.

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5
.
.
Sumber:

Ayat Berbalas Ayat

Mbak, tuku o boxku. Barang e apik kabeh

(Mbak, belilah box saya. Barangnya bagus semua)

Ra ono wong dodol muni elek. Kabeh wong dodol mesti muni dagangan e apik. He…he…

(Tidak ada pedagang yang mengatakan barang dagangannya jelek. Semua pedagang pasti mengatakan dagangannya bagus)

Ora mbak, tenin boxku apik. Tak jamin wis. Tur meneh keuntungan e meh tak nggo gawe rumah tahfidz

(Tidak mbak, box saya bagus. Saya jamin. Lagipula keuntungannya mau saya pakai untuk membuat rumah tahfidz)

Keuntungan e? Ngopo ra sak pok e sisan?”

(Keuntungannya? Mengapa tidak modalnya sekalian?)

Wah, Rasulullah karo sahabat we ora ngono kok!

(Wah, Rasulullah dan sahabat saja tidak demikian)

Tidak juga,” jawab saya. “Umar menginfakkan kebunnya karena terlambat shalat berjamaah,” lanjut saya.

Aku durung iso!” Mung menungso biasa,” jawabnya

(Aku belum bisa. Aku cuma manusia biasa)

Percakapan dengan adik laki-laki saya terhenti demi mendengar suaranya meninggi. Diskusi saya cukupkan sampai disitu sambil menunggu situasi kondusif untuk kembali berdiskusi.

***

Terpekurku dikeheningan sepertiga malam ini. Ayat yang sebelumnya sudah berkali-kali ku baca ini, entah mengapa tiba-tiba begitu menyita perhatianku.

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.

(QS. Ali ‘Imran [3]: 92)

Ku ulang dalam gumam lirih,”Nafkahkanlah sebagian harta yang kamu cintai?”

Kenapa mesti sebagian harta? Sebagian khan banyak!

“Mengapa harus harta yang dicintai? Bukankah itu berat?”

Lalu, jika saat ini usahaku dalam keadaan limbung akankah mendapat kelongggaran?” tanyaku dalam hati.

Entah mengapa, bayangan ayat ini berkelebat dalam benakku.

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَا

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan maupun berat….
(At Taubah: 41)
Dan aku pun kembali tercenung dan tergugu. Memohon kekuatan pada sang Maha Hidup, Sang Maha Memiliki.
Ya Rahman…
Ya, Rahiim..
Ya muqollibal Qulub..Tsabbit qolbi ala diinik.. Wa’alaa tho’atik..
A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

Jagalah Perutmu!

doc. google

doc. google

Jum’at Mubarok!

Urusan perut ternyata bukan urusan sepele seperti yang kita bayangkan. Urusan ini akan berdampak secara fisik maupun psikis. Ruh dan jasad, bahkan berkaitan erat dan akan berdampak pada manis dan lezatnya ibadah yang kita lakukan.

Tak hanya halal dan haramnya saja yang perlu kita perkatikan, akan tetapi banyaknya juga harus kita kelola secara benar karena makanan halal pun jika kita konsumsi berlebih maka hukumnya menjadi makruh.

Allah SWT berfirman,“Makan dan minumlah, tapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A’raf ayat 31)

Bahkan Rasulullah SAW dengan tegas mengingatkan kita,”Tidak ada suatu wadah yang diisi penuh oleh anak Adam yang lebih jelek melebihi perutnya. Cukuplah baginya beberapa suapan kecil untuk menegakkan tulang belakangnya. Jika tidak mungkin, sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk nafasnya,” (HR Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Hakim).

Dan seperti inilah manajement perut, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk nafas. Artinya seenak apapun sebuah makanan ataupun bagaimanapun laparnya perut kita, tidak lantas dengan seenaknya kita mengisi perut.

Lalu, berapa ukuran memakan makanan dikatakan berlebih?

“Sesungguhnya termasuk sikap berlebih-lebihan bila kamu memakan segala sesuatu yang kamu inginkan.” (H.R. Ibnu Majah)

Ya, saat kita memperturutkan nafsu kita untuk selalu mengisi perut kita tanpa ada batasnya, tanpa memperhatikan halal dan toyyibnya, maka itu termasuk makan yang berlebihan.

Yang jadi pertanyaan kemudian, apa kaitan ibadah dengan perut?

Imam Ghazali (Hujjatul Islam) pernah berpesan,“Jangan harap bisa memperoleh manisnya ibadah jika engkau makan terlalu banyak. Bagaimana cahaya akan bersinar di hati tanpa ibadah? Apa nikmatnya ibadah yang tak disertai rasa manis dan kelezatan?”

Nikmatnya sebuah ibadah ialah ketentraman hati. Saat perut kita sering kenyang, maka ibadah yang kita lakukan cenderung sebagai penggugur kewajiban. Kenikmatan beribadah tidak kita temukan.

Ma’ruf Al-Kurkhi pun dengan tegas menasehati kita untuk berhati-hati dalam mengisi perut. “Berapa banyak makanan yang kemudian menghalangimu mendirikan shalat malam. Dan berapa banyak pandangan haram telah menghalangimu dari membaca Alquran. Terkadang, sepotong makanan bisa menghalangi seorang hamba dari melaksanakan shalat malam selama satu tahun,” ungkapnya.

Saatnya untuk mengevaluasi, sudah berapa malam kita tertidur dengan lelapnya hingga qiyamulail terlewat. Berapa lama Al Qur’an tidak tersentuh dengan berbagai alasan.

Berhati-hatilah dengan makanan sobat 🙂

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

Sedekah Buku Membawa Berkah

IMG00560-20121026-0948

Jujur, kadang saya dongkol dengan para peminjam buku yang lamaaaaa banget pinjem bukunya. Apalagi ada beberapa teman yang tidak menggembalikan buku yang ia pinjam. Grrrr, rasanya jengkel banget.

Gimana ndak jengkel, 1 paket buku laskar pelanginya Andrea Hirata dipinjam dan tidak kembali. Walhasil, saya harus mencicil beli lagi satu persatu bukunya Andrea Hirata demi menjaga koleksi buku saya agar tetap komplit.

Kejadian pinjam meminjam buku yang tak kembali terulang lagi dengan kasus yang berbeda. Jika sebelumnya 3 buku Andrea Hirata tak kembali, kini giliran buku “Belajar Membaca Tanpa Mengeja” yang dipinjam teman saya untuk mengajari anaknya belajar membaca tak kembali.

Dia beralasan kalo saya bisa membelinya lagi di Sopping Center Jogja. Padahal untuk pergi ke Sopping saya mesti mengosongkan hari dari aktivitas harian saya untuk hunting buku di pasar buku tersebut. Walhasil, Azzam, anak kedua saya yang juga membutuh buku itu mesti bersabar menunggu umminya mempunyai waktu luang.

Yo wislah, daripada ngegrundel kelamaan mending diikhlasin aja. Anggep sebagai sedekah. Titik! Kenapa titik? Yah, biar hati bisa lebih tenang dan otak tidak memikirkannya lagi 😆

Ternyata masalah dalam mengajari Azzam membaca tidak hanya berhenti sampai disitu. Setelah saya berhasil membelikan buku “Belajar membaca tanpa mengeja” lagi, saat praktek belajar membaca masalah baru muncul. Azzam banyak tingkah sehingga sulit untuk berkonsentrasi. Grrrr, AstaghfiruAllah, sabar…sabar… Hufff, ndak jadi marah 😀

Singkat cerita, setelah 3 minggu kami mampu beristiqomah belajar membaca, saya dan Azzam akhirnya kompak bosan. Saya bosan mengajarinya membaca, eh Azzam pun bosan belajar membaca dengan saya. Walhasil, belajar membacanya macet total.

Lalu, apa kaitannya sedekah buku dengan belajar membacanya Azzam?

Ini dia jawabannya. Beberapa hari yang lalu, seperti biasa, sore setelah pekerjaan saya selesai, sambil leyeh-leyeh diatas karpet saya membaca koran.

Saat sedang asyik membaca koran, Azzam yang berada disamping saya mengucapkan sesuatu sambil memegang koran. Awalnya saya kira itu hanya aksinya saja mencontoh saya alias pura-pura membaca koran.

Tapi lama kelamaan setelah saya amati ternyata dia memang benar-benar membaca judul-judul dari artikel koran yang ia pegang.

Penasaran dengan kemampuan Azzam membaca, saya langsung menelfon gurunya yang kebetulan teman saya mengaji. Saya tanyakan padanya apakah ada les privat membaca disekolah, ia jawab tidak. Lho lha terus anak saya dapat wangsit dari mana?

Karena penasaran, beberapa hari  setelahnya Azzam saya amati terus. Terutama ketika dia mulai membaca sesuatu. Dari pengamatan saya, ternyata ada dua hal yang menyebabkan kemampuan membacanya berkembang begitu pesat.

Pertama, dia memiliki pola belajar yang ia temukan sendiri. Hemat saya pola ini ia dapatkan dari sekolah dan ia kembangkan sendiri. Kedua, ketika kakaknya membacakan buku, ia selalu mengamati dengan seksama huruf yang terdapat dalam buku yang dibacakan kakaknya.

Ternyata, walaupun pada awalnya berat. Walaupun pada awalnya tidak ikhlas, sedekah saya berbalas. Allah membalas dengan memberikan kemudahan Azzam menemukan metode sendiri dalam belajar membaca.

Saya jadi teringat sebuah cerita dari Aniek Jody, pemilik Waroeng Steak n Shake. Dulu ibunya gemar sekali bersedekah. Bahkan saking gemarnya bersedekah, kadang modal untuk berjualan habis hingga keesokkan harinya mereka tidak bisa berjualan. Tapi karena kesabaran ibunya, ada saja jalan untuk berjualan lagi. Entah mereka dititipi barang orang untuk dijualkan atau mendapatkan rejeki dari jalan lain sehingga mereka bisa berjualan kembali.

Dan anehnya, walaupun sang ibu rajin bersedekah, tapi ibunya tetap miskin. Diakhir cerita, Aniek bertutur,” Kesuksesan saya sekarang ini sejatinya bukan karena saya rajin bekerja semata, akan tetapi juga berkat ibu saya yang gemar bersedekah.”

Saya jadi teringat sebuah quote “Allah memberi sesuatu yang indah pada waktunya”, walaupun terasa klise. Jadi ingat pula sebuah ayat,

……Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Sejatinya tak ada amal yang sia-sia. Kesalahan ada dalam diri kita yang tanpa sadar men”dekte” Allah untuk menuruti keinginan kita.

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

.

.

Sayup-sayup terdengar lagu,”Hidup indah bila mencari berkah….”nya Wali Band

Life is Never Flat

doc. google

doc. google

“Tidak ada yang tetap di dunia ini selain perubahan”

(Heraklitus)

Perubahan dalam hidup ini sejatinya sesuatu yang biasa terjadi. Jika kita cermati, diri kita pun berubah. Mulai dari bayi, tumbuh menjadi anak-anak kemudian remaja, lalu dewasa dan jika masih diberi umur kita akan merasakan tua.

Walaupun perubahan sejati sesuatu yang lumrah, akan tetapi pada kenyataannya tidak semua orang mampu memahami dan mengelola perubahan yang terjadi pada dirinya.

Ada beberapa bentuk penyikapan orang terhadap sebuah perubahan.

Pertama, orang yang takut untuk berubah. Orang yang berada dalam posisi ini biasanya terjadi karena ia terlalu lama berada di dalam zona nyaman. Terlalu asyik dengan lingkungan tempatnya berada hingga ia tak menyadari bahwa ternyata dunia telah berubah. Ini tak ubahnya dengan nasib media cetak di Amerika yang satu persatu tumbang karena tergerus kemajuan teknologi informasi.

Kedua, orang yang mencoba untuk berubah tetapi saat terbentur dengan masalah ia memilih kembali ke posisi semula yang menurutnya lebih nyaman. Orang yang tidak memiliki kemauan keras untuk berubah ada dalam golongan ini.

Ketakutan akan kegagalan terlalu mendominasi pikirannya sehingga ketika kegagalan benar-benar menghampirinya ia menganggap semua sia-sia.

Lalu, apakah kita harus menghilangkan rasa takut dalam diri kita?

Sejatinya rasa takut yang dimanage dengan baik akan menjadi sinyal tanda bahaya yang menjadikan kita tetap waspada. Akan tetapi, sebagian besar orang terlalu memanjakan ketakutan yang dimilikinya sehingga ketakutannya itu menjadi bayangan yang menghalanginya untuk berubah.

Ketiga, orang yang senang mencoba formulasi baru untuk menghadapi perubahan alias suka sekali trial and eror dalam menghadapi perubahan. Orang dengan tipe ini akan cepat sekali menyesuakan diri jika perubahan menghampirinya. Ia memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk mengambil sebuah keputusan yang tidak umum atau yang sering dikenal dengan thinking out of the box.

Apa yang harus dilakukan?

Ubah mindset

Kita harus merubah mindset kita bahwa sesungguhnya perubahan itu sesuatu yang biasa terjadi. Perubahan bukan sebuah ancaman akan tetapi justru perubahan yang terjadi mungkin merupakan peluang terbaik yang harus kita ambil.

Anda kenal dengan Sandiaga S Uno? Ya, ia merupakan salah satu pengusaha muda sukses di negeri ini. Pada tahun 2011 menurut majalah Forbes ia termasuk orang terkaya urutan ke 37 se-Indonesia.

Siapa sangka ternyata Sandiaga S Uno pernah merasakan pahitnya di PHK tahun 1998. Menjadi pengusaha sejatinya bukan impiannya succes by accident ungkapnya dalam sebuah seminar. Setelah dua kali terkena PHK ia pun memutuskan untuk berbisnis.

Langkah yang ia tempuh seperti menabrakkan diri ke dinding karena ia tak memiliki pengetahuan dan latar belakang orang tuanya pun pengajar. Tapi siapa sangka, keputusan nekadnya mengantarkannya menjadi pengusaha sukses seperti sekarang ini.

Perhatikan perubahan yang ada

Perhatikan dengan seksama apa saja yang telah berubah dalam lingkungan kita. Sebagian besar dari kita terjebak dalam rutinitas yang sama hingga lupa memperhatikan bahwa lingkungan dimana kita tinggal ataupun lingkungan tempat kita bekerja telah berubah.

Sesuaikan diri dengan cepat

Ketika perubahan benar-benar terjadi, langkah yang perlu kita ambil ialah menyesuaikan diri dengan cepat dan bersegeralah mengambil tindakan

Nikmati perubahan

Nikmatilah perubahan yang datang. Saat kita berhasil melewati perubahan dengan sukses, sekecil apapun rayakanlah. Hargai sekecil apapun langkah kita untuk menghadapi perubahan.

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

 

 

Teruslah Bergerak

Bersusah payahlah sebab kenikmatan hidup didapat dalam bekerja keras.

Ketika air mengalir, ia akan menjadi jernih dan ketika berhenti ia akan menjadi keruh.

Sebagaimana anak panah, jika ia tak meninggalkan busurnya, tak akan mengenai sasaran.

Biji emas yang belum diolah akan sama dengan debu ditempatnya.

 (Imam Asy Syafi’i)

doc. google

doc. google

Ada kalanya kita merasa jenuh dengan aktivitas yang kita jalani setiap hari. Jenuh dengan aktivitas kita sebagai ibu rumah tangga, jenuh dengan aktivitas dikantor ataupun jenuh dengan pekerjaan yang telah kita jalani selama ini. Dan kejenuhan ini sesungguhnya sangat manusiawi.

Ada baiknya kita mengevaluasi kejenuhan yang menghampiri diri kita. Akankah kejenuhan ini nantinya membelenggu kehidupan kita hingga menjadikan kita stagnan? Berhenti bergerak. Mematikan kreatifitas yang kita miliki. Menghilangkan semangat kita untuk terus maju. Berhenti mengukir pencapaian-pencapaian yang luar biasa dalam hidup ini.

“Ketika air mengalir, ia akan menjadi jernih dan ketika berhenti ia akan menjadi keruh”

Ketika kita terus terdiam atau ada dalam situasi yang sama terus menerus, maka kita akan terjebak dalam kejumudan. Otak menjadi keruh. Bagaikan katak dalam tempurung. Teruslah bergerak dan belajar karena sesungguhnya ilmu itu cahaya yang akan menerangi kegelapan.

“Sebagaimana anak panah, jika ia tak meninggalkan busurnya, tak akan mengenai sasaran”

Selama kita tidak bergerak maka kita tak kan pernah sampai pada tujuan. Selama kita tak berusaha mewujudkan cita-cita kita, maka apa yang kita cita-citakan hanya berupa khayalan dan angan-angan belaka.

“Biji emas yang belum diolah akan sama dengan debu ditempatnya”

Bergeraklah, karena yang membedakan orang biasa dengan orang yang luar biasa ialah kemampuannya  untuk terus bergerak. Bahkan ketika harus bergerak 99 kali untuk mendapatkan 1 kali kesuksesan.

Selamat menikmati akhir pekan sobat.

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5