Berapa Keuntungan Yang Sebaiknya Diambil?

Pagi itu, matahari masih malu-malu menampakkan wujudnya. Seperti aktivitas ibu-ibu pada umumnya di pagi hari, saya pun demikian. Selesai dengan urusan dapur, saya beriap-siap pergi ke pasar untuk berbelanja aneka sayur mayur.

Tiba-tiba bumi di goyang sedemikian kencang hingga kaki saya hanya bisa melangkah sampai depan pintu. Jangankan melanjutkan langkah untuk menyelamatkan diri, bertahan agar tetap berdiri saja saya musti terjungkal ke kanan dan ke kiri.

Tak berapa lama, pagar setinggi 2,5 meter yang berada tepat di depan saya runtuh, tak kuasa berdiri lagi. Beruntung Allah masih menyelamatkan saya dan bayi mungil dalam gendongan saya. Pagar ambruk keluar hingga tak mencederai saya sedikit pun.

Hari itu tanggal 27 Mei 2006 pukul 05.55 Jogja di guncang gempa.

Baca Selengkapnya

Iklan

Tips Memilih Jenis Usaha

Mbak, salam kenal yta… sebelumnya terima kasih sudah mampir ke blog saya

sy terinspirasi tulisan mbak yg ttg jadi perempuan pebisnis. sy kan sejauh ini “masih” jadi pegawe, kedepannya kami memang planning agar saya bisa stay di rumah dan menjadi pedagang gitu. tapi karena basic gak punya (semua kluarga pegawe juga, baik itu swasta maupun negri) jadinya mindset-nya ttp takut rugi, malu ditolak, dan takut gagal.

sy pernah jualan tepung organik bwt bayi, tapi untungnya sdikit dan berat di badan mbak. krn sy musti nganter2 itu tepung sepulang dari kantor (which means wkt sy sm anak2 kan jd berkurang to? ) akhirnya sy berhenti. pernah juga blanja baju2 bayi, dapet murah sih, tpi jualin ke orang2 gak laku, gak sempet ngider eh mbak, jatuhnya ya dikasih2 buat kado aja. huhuhu…

Baca Selengkapnya

Perempuan dan Bisnis: Bekal Mental Pengusaha

Bicara bisnis mengingatkan saya pada mendiang bapak. Bapak yang hanya bisa bersekolah sampai kelas 2 SD dan lebih sering tak bisa membaca tulisannya sendiri karena tulisannya mirip cakar ayam ini mempunyai visi yang luar biasa pada anak-anak perempuannya.

Bapak selalu berpesan pada kami anak perempuannya,”Kodratmu dadi wong wedok ki neng omah, momong anak, bekti karo suami, ngurus omah. Rasah mikir dadi pegawe. Dadi pegawe ki ndino-ndino ninggal omah. Nek pengen duwe penghasilan yo dagang wae.” (Kodratmu sebagai perempuan itu berada dirumah mengasuh anak, taat pada suami, mengelola urusan rumah tangga. Jangan pernah berpikir jadi pegawai, karena jadi pegawai itu harus meninggalkan rumah seharian. Kalau pengen punya uang ya berdaganglah)

Dan benarlah adanya, saya dan semua adik perempuan saya tidak ada yang menjadi pegawai. Semua berdagang. Sekolah berdagang dimulai sejak kami masih sekolah. Saya dan adik keempat saya mulai belajar bisnis sejak masih SMU. Sementara adik kedua saya mulai belajar bisnis sejak kuliah semester 2.

Awalnya kami hanya membantu usaha bapak. Ketika dirasa sudah mampu mengelola usaha sendiri, biasanya bapak memberi kami pinjaman modal untuk membuka usaha. Ya, pinjaman modal bukan modal cuma-cuma. Artinya suatu saat kami harus mengembalikan modal yang kami pinjam. Pinjaman lunak dengan batas waktu pengembalian longgar. Modal dikembalikan setelah usaha kami berjalan dan mampu untuk mencicil utang.

Mengapa pinjaman, bukan modal cuma-cuma? Alasannya agar kami lebih bertanggungjawab juga agar kelak saat kami berhasil kami memiliki kebanggaan tersendiri.

Lalu bagaimana jika usaha merugi karena salah kelola? Selama bukan karena alasan modal habis untuk foya-foya biasanya bapak menyuntikkan dana kembali. Tetap pada skema awal berupa pinjaman lunak yang boleh dicicil saat usaha telah berjalan.

Pernah suatu masa saya mengalami kebangkrutan hebat, tak tanggung-tanggung, hampir semua asset melayang hanya untuk membayar hutang. Saat itu saya betul-betul terpuruk. Satu-satunya tempat untuk bercerita selain Allah yaitu bapak. Dan inilah nasehat bapak yang melecut semangat saya untuk bangkit. “Rasah digetuni, mbok arep nangis getih we ra bakal bali. Sing wis rasah dipikir. Dadekno pelajaran berharga. Saiki kudu tangi lan ngadeg jejeg. Buktekno karo wong-wong sing ngolok-olok nek kowe mampu.” (Tak usah disesali. Menangis darah pun tak akan kembali. Yang lalu biarlah berlalu, jadikan itu sebagai pelajaran. Kini saatnya kamu harus bangkit, berdiri kokoh. Buktikan pada orang yang menghinamu kamu mampu)

Pelajaran pertama, bisnis merupakan dunia yang penuh dengan ketidak pastian. Kendala bisa datang diawal, ditengah atau bahkan saat bisnis sudah berkembang. Lingkungan yang mendukung sangat diperlukan. Saat semangat sedang kendor ataupun saat sedang terpuruk, bergaul dengan orang yang berpengalaman dalam berbisnis mampu mendorong semangat kita untuk bangkit. Kita juga akan mendapatkan pelajaran ataupun ide-ide bisnis dari pebisnis lain.

Beruntung saya hidup dalam keluarga pedagang hingga tak menyulitkan saya untuk mendapatkan motivasi disaat sedang terpuruk. Lalu bagaimana jika keluarga bukan berlatar belakang pedagang. Ada dua alternatif yang bisa ditempuh, pertama, masuklah dalam kesebuah komunitas pedagang contoh womanpreneur community, komunitas yang semua anggotanya perempuan pebisnis. Mereka berkumpul untuk berbagi pengalaman, belajar bersama, dan networking. Jikalau tidak memungkinkan, bacalah biografi para pebisnis handal, pasti mereka pernah mengalami masa-masa sulit. Dari sana kita akan mendapatkan pelajaran bagaimana mereke menyikapi masa sulit dan mampu keluar dari kesulitannya hingga pada akhirnya mencapai kesuksesan.

Modal tak selalu berupa uang

Credit_Modal tak selalu berupa uang

Jika tidak memiliki modal apakah masih bisa berdagang?

Sangat bisa dan sangat mungkin. Modal utama bisnis bukan uang tapi kepercayaan, TRUST. Pernah suatu ketika saya menjualkan produk IT dengan kesepakatan fee Rp 500.000 per produk. Alhamdulillah saya mampu menjual 10 produk. Tanpa modal uang saya mendapatkan total komisi Rp 5.000.000.

Lho kok bisa? Pasti bisa karena modal tak hanya uang. Ada beberapa modal yang sering tidak kita sadari melekat pada diri kita dan belum kita manfaatkan atau biasa disebut nonmateriil capital.

Pertama, modal spiritual. Keyakinan bahwa rezeki yang diberikan Allah SWT takkan pernah tertukar. Modal ini akan memberi kita semangat untuk senantiasa berusaha, pantang menyerah, dan tak malu menggelar lapak. Kedua, modal personal. Modal ini bisa berupa ketekunan, mendapat kepercayaan, waktu luang, keyakinan, punya mentor, gigih, ulet dan rajin. Apakah semua itu juga modal?

Ya, semua itu juga disebut modal. Ambil contoh, Anda memiliki uang Rp 10.000.000 untuk modal usaha. Jika tidak memiliki modal lain seperti keuletan, kegigihan, ketekunan, maka bisa dipastikan modal uang yang Anda miliki tak ada artinya. Besar kemungkinan tak berapa lama usaha Anda akan gulung tikar. Akan tetapi beda cerita tatkala Anda memiliki modal Rp 1.000.000 plus ketekunan, kegigihan, keyakinan, keuletan bisa jadi modal Rp 1.000.000 akan menjadi Rp 1.000.000.000. Dan ini sangat mungkin. Para pebisnis handal telah membuktikan ini.

Modal ketiga, modal sosial. Modal ini berupa networking. Teman, sahabat, saudara, kenalan juga merupakan modal. Dalam cerita pengalaman saya diatas, untuk mendapatkan uang Rp 5.000.000 tanpa modal uang saya menggunakan modal ini. Dan ini merupakan pelajaran kedua, modal tak selalu berupa uang.

Lalu, dari mana harus memulai?

Ide bisnis bisa kita dapatkan dari mana saja. Menurut pengalaman, memulai bisnis paling mudah ialah dari hobi yang kita gemari. Tak hanya mudah juga paling langgeng. Logikanya, apapun yang kita sukai, untung rugi urusan belakangan. Nah inilah mengapa alasan usaha dari hobi merupakan pilihan yang rasional. Tanpa sadar kita dididik menjadi pribadi yang ulet, tekun dan tahan banting.

chef memasak

Credit_Mulailah dari hobi

Jika Anda memiliki hobi memasak, cobalah untuk membuat tester masakan yang Anda cobakan pada kawan, relasi ataupun sanak saudara. Untuk permulaan, tak perlu berpikir quantity pesanan. Ada yang pesan saja sudah beruntung.

Saya memiliki sahabat yang bekerja di Departemen Keuangan dan memiliki usaha sampingan catering di rumahnya. Semua berawal dari hobinya memasak. Setiap ia mencoba resep baru, ia senantiasa membawanya ke kantor untuk dicobakan pada rekan kantornya. Kini, saat rekan kantornya akan mengadakan acara pengajian, syukuran ataupun hajatan biasanya mereka memesan pada sahabat saya tersebut. Mereka memesan pada sahabat saya karena cocok dengan masakan sahabat saya. Dari awalnya memberi tester pada rekan kantornya, kini ia memiliki usaha cateringan kecil-kecilan. Dan inilah pelajaran yang terakhir, mulailah berbisnis dari hobi yang kita miliki.

Selamat memasuki dunia bisnis. Yang harus Anda lakukan bukan mencari modal ataupun  ide usaha akan tetapi kapan Anda mulai melangkah, mulai membuka lapak. Salam sukses.

Tulisan ini diikutkanpada giveaway: Perempuan dan Bisnis.

Catatan:

Tulisan ini bisa dipraktekkan baik pada bisnis offline maupun online karena pada prinsipnya sama. Ingat! Bisnis online tak selalu lebih mudah dibanding bisnis offline. Untuk urusan pangsa pasar betul jika bisnis online memiliki pangsa pasar lebih luas. Tapi untuk urusan mental bisnis offline maupun online tetaplah sama.


Berkunjung ke Outlet DOWA

Dowa1

Tas berkualitas tidak hanya tas merk-merk terkenal keluaran luar negeri. Ada banyak tas lokal yang mutunya tak kalah dengan tas branded . Ya, salah satunya ialah tas dengan merk “Dowa”.

Dowa yang dalam bahasa sansekerta berarti doa, beralamat di Jl. Godean Km. 7 Yogyakarta ini fokus pada tas-tas jenis rajutan. Walaupun demikian, ada berbagai tas non rajut yang disediakan juga dioutletnya.

Selain tas, Dowa juga menyediakan dompet, tempat hp, tas laptop dan lain sebagainya yang rata-rata berupa rajutan.

Dowa5

Terlihat jelas pangsa pasar yang dibidik produsen tas ini dari design interior dan eksterior outletnya serta harga yang dibandrol untuk setiap produknya. Dowa menyasar pasar kelas menengah keatas.

Untuk produk tas, harga yang dibandrol antara Rp 500.000 hingga Rp 1.500.000. Sementara untuk dompet-dompet rajutan, dibandrol dengan harga antara Rp 100.000 hingga Rp 600.000.

Dowa4

Outlet yang bergaya arsitektur rumah jawa tempo dulu dengan menggunakan material bata ekspos terasa nyaman hingga dipastikan pengunjung bakalan betah berlama-lama memilih produk-produk Dowa ataupun sekedar melihat-lihat saja.

Dowa6

Saat pengunjung lelah berkeliling outlet, Dowa menyediakan tempat beristirahat dengan menyuguhkan camilan tradisional seperti jadah tempe, ampyang serta air mineral gratis.

Dowa3

Jika kita ingin melihat proses produksi produk Dowa, kita pun diperbolehkan untuk melihatnya. Tempatnya ada dibelakang outlet Dowa.

Dowa2 Jika tak sempat berkunjunga ke outletnya, bisa berkunjung ke websitenya http://www.dowabag.com atau bisa juga email ke dowa@dowabag.com.

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

 

.

.

You might also like:

Gendhis Bag’s

Handicraft #4P Jilid 2

Handicraft #4P Jilid 1

 

Hermes

Berinvestasi dalam bentuk emas atau property? Ah, itu sich biasa. Mau coba investasi yang tidak biasa? Ya, cobalah berinvestasi pada sebuah tas.

Tas???

Hmm, mungkin sebagian dari teman-teman bloger tidak percaya jika sebuah tas bisa dijadikan investasi.

doc. google

doc. google

Baru-baru ini, tas Birkin Hermes dengan sentuhan berlian serta emas putih 18 karat laku dilelang seharga 200 ribu dolas AS, setara hampir 2 milyar rupiah.

Padahal sebelumnya tas tersebut ditaksir hanya laku senilai 80 ribu dollar AS atau setara 800 juta rupiah.

Crocodile Birkin Bag tersebut awalnya milik seorang wanita asal Florida yang ia beli pada tahun 2006 yang kemudian ia jual pada seorang wanita asal Dallas yang identitasnya tidak mau dipublikasikan dalam sebuah lelang.

Selain karena prestisenya, tas-tas super mewah biasanya berbahan baku kualitas tinggi sehingga bisa digunakan hingga berpuluh-puluh tahun.

Jika teman-teman berniat berinvestasi pada sebuah tas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

  • Pilihlah tas yang terbuat dari bahan kulit. Semakin eksotik bahan yang dipakai, maka nilai jual kembali semakin melambung. Contohnya tas dengan bahan kulit buaya dan kulit burung unta.
  • Pilih tas yang bernilai diatas Rp 5 jutaan yang tidak mengalami menyusut secara drastic. Beberapa tas seperti merk Gucci nilainya cenderung turun. Gucci yang dibeli lima tahun lalu seharga Rp 15 juta, biasanya kini hanya laku terjual senilai Rp 5 juta. Tas merk Hermes dan Chanel dari bahan kulit merupakan tas yang tepat untuk berinvestasi. Nilainya tidak pernah turun, bahkan cenderung naik.

Sebelum berinvestasi dalam bentuk barang mewah seperti tas, pikirkan dulu hal-hal berikut ini diantaranya, cashflow kita wajib memiliki nilai positif ini berarti alur keuangan kita harus lancar. Disamping itu, juga harus memenuhi dana darurat dan terlindung oleh asuransi. Hal ini penting mengingat barang mewah biasanya berbiaya mahal dan tidak selalu segera laku terjual.

Persyaratan lain yang tidak kalah penting ialah tidak memiliki utang konsumtif serta memiliki rasio investasi seimbang antara kategori liquid dan non likuid.

Siap berinvestasi pada tas Hermes?

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

Pembukuan Untuk Usaha Kelas Teri, Perlukah?

Asih sahabat saya yang bekerja di Departemen Keuangan memiliki usaha sampingan catering dan kue kering yang laris manis saat mendekati lebaran.

Siapapun yang ingin memesan kue keringnya, harus memesan terlebih dahulu sebelum puasa. Sebab awal puasa ia sudah tidak menerima pesenan lagi karena pesanan sudah overload.

doc. google

doc. google

Ya, meski usaha sampingan dan usaha rumahan, tak kurang 300 toples dengan berbagai jenis kue kering yang ia buat menjelang lebaran.

 

Kini, tujuh tahun sudah usaha tersebut ia geluti, tapi anehnya ketika saya bertanya bagaimana perkembangan usahanya, ia terlihat bingung menjawabnya.

Ia tidak tahu pasti berapa keuntungan yang didapatkan dari bisnisnya selama ini. Dari cerita yang ia sampaikan, saya menemukan 2 masalah mengapa hal ini terjadi. Dan permasalahan ini umum terjadi pada usaha skala kecil.

Tidak adanya pembukuan

Jika diibaratkan seseorang yang akan melakukan sebuah perjalanan, pembukuan merupakan peta yang akan memberi tahu jalan mana yang harus ia lalui. Apakah ke utara, selatan, timur ataupun ke barat.

Lap KeuPembukuan yang jelas akan memberi kita informasi yang bisa kita gunakan tatkala akan mengambil sebuah keputusan terkait masa depan atau keberlangsungan usaha yang kita geluti.

Dari yang sederhana seperti perlukah menambah karyawan ataukah perlu menambah jenis barang dagangan.

Sampai pada keputusan yang memerlukan kajian mendalam seperti perluasan ataupun penambahan outlet, berinvestasi dibidang lain dan lain sebagainya.

Pencatatan yang diperlukan pun sesungguhnya sangat sederhana dan simpel. Hanya berupa catatan penjualan, pembelian, pendapatan serta pengeluaran. Inipun bisa kita modifikasi sesuai kebutuhan.

Bercampurnya modal dengan uang pribadi

Hal ini terjadi karena tidak adanya pencatatan ataupun pembukuan yang rapi.

Yang sering terjadi, karena ketiadaan catatan yang jelas, uang pribadi masuk ke dalam modal ataupun sebaliknya modal digunakan untuk keperluan pribadi hingga sulit untuk mengukur seberapa berkembang usaha yang kita miliki.

So, apakah masih terpikir bahwa pembukuan tidak penting?

Salam sukses 😀

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

 

.

.

Note; Next time saya akan buatkan contoh riil catatan yang simpel dan informatif

Handicraft # 4P Jilid 2

Price

Penetapan harga menjadi sesuatu yang sangat penting dalam sebuah produk. Tidak cukup menggunakan kombinasi biaya dan keuntungan yang wajar saja.

Ada faktor lain yang perlu dipertimbangkan ketika akan menentukan harga jual sebuah produk, seperti competitor dan system distribusi barang.

Seperti penuturan Ferry, beberapa tahun yang lalu, banyak buyer yang biasa membeli handicraft dari Eropa beralih ke China. Ya, hal ini berkaitan dengan harga. Seperti kita ketahui, produk-produk China memang terkenal lebih murah, tapi bila dilihat dari segi kualitas, kualitas produk mereka masih dipertanyakan.

Tapi kini mereka kembali ke Indonesia. Ini disebabkan karena produk dari China tidak memiliki soul. Ya, setiap produk memiliki “rasa” yang berbeda. Hal ini tentunya disebabkan beberapa factor diantaranya bahan baku, budaya dan adat istiadat setempat. Dan “rasa” ala Indonesia yang sangat unik, etnik dan khas handmade inilah yang tidak dimiliki China.

doc. google

doc. google

Penentuan harga tinggi maupun harga rendah tentunya dilihat pula pada posisi apa kita akan bermain. Jika produk memiliki efek jaringan – bila produk menjadi lebih berharga jika semakin banyak orang yang menggunakannya – maka harga rendah agar bisa dibeli banyak konsumen itu lebih baik. Di sisi lain, harga tinggi dapat meningkatkan posisi produk sebagai barang yang unik atau mewah.

Perhatikan pula bagaimana system distribusi yang ingin kita kembangkan. Jika kita ingin memiliki “tangan lain” untuk memasarkan produk kita, harga harus dibuat bertingkat.

Berapa harga yang bisa diberikan untuk distributor tunggal, agen dan konsumen harus dipikirkan matang-matang. Masing-masing memiliki criteria pembelian dan harga yang bervariasi.

Placement

Selain memilih tempat yang strategis, penataan produk kita pun perlu kita perhatikan. Lihat perbedaan gambar dibawah ini.

Display Produk

Display Produk

Gambar disebelah kiri tas-tas ditata berjajar dirak sederhana. Sementara tas disebelah kanan ditata dirak yang diberi lampu. Bisa dibandingkan perbedaannya?

Lebih menarik tas yang disebelah kanan bukan?

Padahal keduanya memiliki merk dan kualitas yang sama. Tas digambar sebelah kanan yang terkena sorot lampu memang terlihat hidup sehingga lebih menarik.

Selain penataan produk, kenyamanan oulet dan keramahan karyawan terhadap pelanggan perlu diperhatikan pula. Karena disadari ataupun tidak, pelanggan merupakan asset yang sangat berharga. Pelayanan prima terhadap pelanggan menjadikan mereka loyal terhadap produk kita.

Promotion

Promosi produk-produk handicraft sangat identik dengan pameran. Ya, mengikuti pameran merupakan cara efektif untuk memperkenalkan produk.

Pemanfaatan web yang konsen pada produk handicraft juga membantu agar produk dikenal hingga manca negara. Selain itu, kita bisa memanfaatkan media social seperti facebook sebagai sarana kita mempromosikan produk kita.

Selamat menikmati akhir pecan. Salam sukses 😀

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5