Prestasi Vs Kemandirian

Jum’at Mubarok!

IMG00152-20120609-1611Apa yang teman-teman bayangkan tatkala saya katakan,”Anak saya sekolah jauh dari keluarga. Hidup mandiri di luar kota. Usianya baru 7 tahun dan ia baru duduk di kelas 1 SD.”

Saat saya bercerita tentang anak saya pada orang yang baru saya kenal ataupun sahabat yang lama tak berjumpa, mereka selalu berkata,”Kok dirimu tatag menyekolahkan anak jauh-jauh. Padahal usianya masih anak-anak kan?”

Tatag dalam bahasa Indonesia berarti perpaduan antara tega dan kekuatan hati alias tegar kali ya. Tapi kayaknya ndak pas juga 😆

Ya, impian sering mematahkan kata ‘tak mungkin!’ Bagi saya anak laki-laki harus kuat. Kuat mental dan kuat ujian. Ia tidak boleh cengeng dan menjadi pecundang saat menghadapi apapun permasalahan yang ada di depan matanya karena ia calon pemimpin. Pemimpin dalam skala kecil, kepala keluarga maupun dalam skala lebih luas. Tanggungjawab besar untuk menyiapkan pemimpin ada dalam pundak saya sebagai seorang ibu. Maka, rawe-rawe rantas, malang-malang putung, maju tak gentar saya pun mengajari bagaimana ia harus belajar dari kehidupan ini.

Impian sering mematahkan kata tak mungkin!

Sebuah perjuangan tak punya cerita manis jika tak dibumbui dengan peluh dan darah perjuangan. Saya pun demikian. Entoh pada akhirnya anak saya tumbuh menjadi anak yang lebih dewasa, itu bonus dari perjuangan.

Beberapa waktu yang lalu saat saudara suami yang tinggal di Blitar punya hajat, saya datang dan menginap ditempat mertua. Pertanyaan rutin yang saya dapat dari mertua,”Gimana kabar anakmu?” Standar saya jawab,”Baik, Alhamdulillah.” Pertanyaan ternyata tak berhenti cukup disitu, tapi berlanjut dengan pertanyaan susulan,”Apakah kamu tetap bersikukuh menyekolahkan anakmu di Jogja.” Dueng, pertanyaan ini lagi. Mana mertua yang bertanya.

“Sekarang dia jauh lebih dewasa, Pak. Malah akhir-akhir ini dia lebih pandai mengatur uang jajannya. Masih sempat menyisihkan 1/3 uang jajannya untuk menabung. Yah, walaupun pada akhirnya uang itu dia belikan mainan, toh ia belajar mendapatkan sesuatu yang ia inginkan dari hasil jerih payahnya sendiri.”

***

Seperti biasa, setiap akhir pekan Fathiin anak saya pulang ke rumah. Semua worksheet selama satu minggu ia bawa pulang. Lembar demi lembar saya cek, saya lihat nilai dan pemahamannya. Secara keseluruhan nilainya cukup. Terus terang agak sedih, apalagi ada beberapa bagian yang saya lihat dia tidak paham maknanya. Saya jadi merasa bersalah karena tidak bisa mendampinginya belajar dan entah kenapa saya jadi bimbang. Teringat percakapan saya dengan mertua. Apakah saya harus mundur? T_T

Malam saat saya sendiri, saat semua tertidur lelap, saya tak bisa tidur. Mulai menimbang-nimbang antara nilai matematikanya dengan kemampuannya mengelola uang. Nilai pelajaran bahasanya dengan dengan shalat 5 waktunya yang tak pernah bolong. Dan saya pun ingat sebuah percakapan antara saya dan dia beberapa waktu lalu yang membuat saya paham bahwa ia melakukan kebaikkan karena kesadarannya sendiri, bukan hanya karena perintah seseorang. Waktu itu dia berkata,”Mi, rajin belajar itu kewajibannya mas Fathiin ya. Trus, kalau helikopter remot tuh haknya mas Fathiin karena rajin belajarkan?”

Dan pada akhirnya saya putuskan untuk TIDAK MENYERAH!!!! Maju terus nak, hidup memang kadang terasa pahit. Satu hal yang harus kamu ingat, sebuah  kenyataan yang tak bisa dipungkiri bahwasannya orang-orang hebat biasa mengunyah kepahitan hidup seperti memakan nasi. Selamat beruang, Nak!

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

.

.

Note:

Ini buka curhat kawan! Hanya ingin berbagi pengalaman dan mudah-mudahan bermanfaat. Hargai kemampuan anak tak hanya dari nilai-nilai akademisnya 😉

Kreatifitas Murid-Murid Kelas 1B Year 1

Art work anak1“Berikan pada anak 100 lembar kertas, maka ia akan memberimu 1000 gambar.”

Kreatifitas dan imajinasi anak yang tanpa batas justru sering tidak dipahami oleh kita, para orang tuanya.

Saya punya pengalaman lucu dengan anak saya yang kedua, Azzam. Suatu ketika, saat Azzam berumur 2 tahun dan baru senang-senangnya  mencorat-coret benang ruwet dikertas, saya bertanya padanya,”Itu gambar apa nak.”

“Gambar gajah, Mi.”

“Wah, gajahnya besar sekali ya.”

“Ini anaknya gajah lagi maem, Mi.”

Dueng, ndak nyambung banget khan? 😆

***

Mengasah kreatifitas anak bisa menggunakan benda-benda yang ada disekitar kita. Membiarkan anak-anak berkreasi dengan bahan seadanya justru akan semakin mengasah kreatifitasnya. Selain itu, secara tidak langsung kita juga mengajarkan pada mereka bagaimana memanfaatkan barang-barang yang ada menjadi sesuatu yang bernilai seni.

Lihatlah beberapa kreasi anak-anak SDIT LHI dari bahan daun-daunan, bekas pembungkus makanan dan rumput yang ada disekitar sekolahan. Cantik bukan?

Art wok anak

Daun-daun yang berserakan ditanah menjadi cantik ditangan anak-anak kreatif ini. Lihatlah rumah yang dibuat Khalisa dari daun-daun kering lengkap dengan matahari dan awan. Atau perahu layar Fathiin, sederhana tapi indah bukan?

Lihat pula burgernya Hanif yang bikin saya terheran-heran. Bisa-bisanya ia punya ide menjadikan bungkus bekas makanan menjadi gambar burger.

Robotnya Adan dan kapalnya Karima juga tak kalah indah. Dan lihatlah bunga yang dibuat Harsya dari sedotan dan bunga kering, tampak seperti bunga sungguhan bukan?

SubhanaAllah….

Jika anak diberi kesempatan untuk berkreasi, ternyata hasilnya luar biasa.

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

Sedekah Buku Membawa Berkah

IMG00560-20121026-0948

Jujur, kadang saya dongkol dengan para peminjam buku yang lamaaaaa banget pinjem bukunya. Apalagi ada beberapa teman yang tidak menggembalikan buku yang ia pinjam. Grrrr, rasanya jengkel banget.

Gimana ndak jengkel, 1 paket buku laskar pelanginya Andrea Hirata dipinjam dan tidak kembali. Walhasil, saya harus mencicil beli lagi satu persatu bukunya Andrea Hirata demi menjaga koleksi buku saya agar tetap komplit.

Kejadian pinjam meminjam buku yang tak kembali terulang lagi dengan kasus yang berbeda. Jika sebelumnya 3 buku Andrea Hirata tak kembali, kini giliran buku “Belajar Membaca Tanpa Mengeja” yang dipinjam teman saya untuk mengajari anaknya belajar membaca tak kembali.

Dia beralasan kalo saya bisa membelinya lagi di Sopping Center Jogja. Padahal untuk pergi ke Sopping saya mesti mengosongkan hari dari aktivitas harian saya untuk hunting buku di pasar buku tersebut. Walhasil, Azzam, anak kedua saya yang juga membutuh buku itu mesti bersabar menunggu umminya mempunyai waktu luang.

Yo wislah, daripada ngegrundel kelamaan mending diikhlasin aja. Anggep sebagai sedekah. Titik! Kenapa titik? Yah, biar hati bisa lebih tenang dan otak tidak memikirkannya lagi 😆

Ternyata masalah dalam mengajari Azzam membaca tidak hanya berhenti sampai disitu. Setelah saya berhasil membelikan buku “Belajar membaca tanpa mengeja” lagi, saat praktek belajar membaca masalah baru muncul. Azzam banyak tingkah sehingga sulit untuk berkonsentrasi. Grrrr, AstaghfiruAllah, sabar…sabar… Hufff, ndak jadi marah 😀

Singkat cerita, setelah 3 minggu kami mampu beristiqomah belajar membaca, saya dan Azzam akhirnya kompak bosan. Saya bosan mengajarinya membaca, eh Azzam pun bosan belajar membaca dengan saya. Walhasil, belajar membacanya macet total.

Lalu, apa kaitannya sedekah buku dengan belajar membacanya Azzam?

Ini dia jawabannya. Beberapa hari yang lalu, seperti biasa, sore setelah pekerjaan saya selesai, sambil leyeh-leyeh diatas karpet saya membaca koran.

Saat sedang asyik membaca koran, Azzam yang berada disamping saya mengucapkan sesuatu sambil memegang koran. Awalnya saya kira itu hanya aksinya saja mencontoh saya alias pura-pura membaca koran.

Tapi lama kelamaan setelah saya amati ternyata dia memang benar-benar membaca judul-judul dari artikel koran yang ia pegang.

Penasaran dengan kemampuan Azzam membaca, saya langsung menelfon gurunya yang kebetulan teman saya mengaji. Saya tanyakan padanya apakah ada les privat membaca disekolah, ia jawab tidak. Lho lha terus anak saya dapat wangsit dari mana?

Karena penasaran, beberapa hari  setelahnya Azzam saya amati terus. Terutama ketika dia mulai membaca sesuatu. Dari pengamatan saya, ternyata ada dua hal yang menyebabkan kemampuan membacanya berkembang begitu pesat.

Pertama, dia memiliki pola belajar yang ia temukan sendiri. Hemat saya pola ini ia dapatkan dari sekolah dan ia kembangkan sendiri. Kedua, ketika kakaknya membacakan buku, ia selalu mengamati dengan seksama huruf yang terdapat dalam buku yang dibacakan kakaknya.

Ternyata, walaupun pada awalnya berat. Walaupun pada awalnya tidak ikhlas, sedekah saya berbalas. Allah membalas dengan memberikan kemudahan Azzam menemukan metode sendiri dalam belajar membaca.

Saya jadi teringat sebuah cerita dari Aniek Jody, pemilik Waroeng Steak n Shake. Dulu ibunya gemar sekali bersedekah. Bahkan saking gemarnya bersedekah, kadang modal untuk berjualan habis hingga keesokkan harinya mereka tidak bisa berjualan. Tapi karena kesabaran ibunya, ada saja jalan untuk berjualan lagi. Entah mereka dititipi barang orang untuk dijualkan atau mendapatkan rejeki dari jalan lain sehingga mereka bisa berjualan kembali.

Dan anehnya, walaupun sang ibu rajin bersedekah, tapi ibunya tetap miskin. Diakhir cerita, Aniek bertutur,” Kesuksesan saya sekarang ini sejatinya bukan karena saya rajin bekerja semata, akan tetapi juga berkat ibu saya yang gemar bersedekah.”

Saya jadi teringat sebuah quote “Allah memberi sesuatu yang indah pada waktunya”, walaupun terasa klise. Jadi ingat pula sebuah ayat,

……Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Sejatinya tak ada amal yang sia-sia. Kesalahan ada dalam diri kita yang tanpa sadar men”dekte” Allah untuk menuruti keinginan kita.

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

.

.

Sayup-sayup terdengar lagu,”Hidup indah bila mencari berkah….”nya Wali Band

Inspiring Teacher dari Swedia

Rahman Sudiro PhD beserta tamu dari Swedia

Rahman Sudiro PhD beserta tamu dari Swedia

Parent School kali ini lebih special dibanding biasanya karena pembicara merupakan kepala daerah, kepala sekolah dan guru-guru dari Swedia. Mereka datang atas biaya Pemerintah Swedia sepenuhnya untuk berbagi tentang bagaimana system pendidikan dan sarana prasarana pendukung pendidikan yang diterapkan di Swedia.

Sesuatu yang perlu digali dari pemaparan mereka ialah bagaimana membentuk anak yang memiliki tanggungjawab belajar. Di Swedia, tanggungjawab belajar ada dipundak siswa sepenuhnya. Artinya orang tua tidak perlu memaksa anak-anak untuk belajar. Mereka sudah memiliki kemauan dan kesadaran belajar sendiri.

Setiap awal semester murid didampingi orang tua dan guru membuat IUP, sebuah singkatan dalam bahasa Swedia yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan sebutan Rencana Pertumbuhan Individual. Kalau ingat kuliah dulu, semacam bimbingan dari dosen untuk menentukan mata kuliah apa yang akan diambil disemester tersebut.

Mungkin inilah sebabnya mengapa anak-anak disana memiliki semangat belajar yang tinggi. Salah satunya karena mata pelajaran yang mereka pelajari merupakan mata pelajaran yang mereka inginkan.

Mrs Daniella, Kepala Sekolah Osterodskolen juga mengungkapkan bahwa setiap hari Jum’at ada sesi dimana anak diminta untuk mengungkapkan ketidak nyamanan yang ia rasakan selama satu pekan di sekolah. Sesi ini berlangsung 1 jam lamanya. Hal ini dilakukan agar anak mampu mengungkapkan ketidak nyamanan yang ia rasakan dan agar tumbuh empati dari teman yang lain. Selain itu, sesi ini juga dimanfaatkan untuk mengasah kemampuan berbicara, mendengar dan berdiskusi siswa.

Di Swedia bukan murid yang belajar dari guru akan tetapi sebaliknya, guru dituntut belajar dari murid. Murid tidak harus menjawab secara benar dan jawaban tidak harus seperti yang dicontohkan guru. Nah, dari sinilah guru belajar dari murid. Guru dituntut untuk menggali pola pikir murid atas jawaban yang murid berikan. Rasanya ini sesuatu yang sangat langka dalam proses belajar mengajar di negara kita.

Acara parenting school kemarin juga dimeriahkan pentas seni oleh murid yang mengikuti ekstra seni music dan paduan suara.

Performance murid-murid SDIT LHI

Performance murid-murid SDIT LHI

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

Star of the Week

Star of the week

Star of the week

Sejak anak saya yang pertama bersekolah di Jogja, hampir setiap hari saya menelponnya untuk mengetahui sampai dimana perkembangannya. Selain itu, hal ini saya lakukan untuk menjaga kedekatan antara saya dan dia walaupun kami berjauhan.

Tidak seperti biasanya, senin sore tanggal 11 Maret kemarin ketika saya menelponnya, ia terlihat ceria. Usut punya usut, ternyata keceriaannya disebabkan karena ia merupakan star of the week yang mewakili kelasnya minggu ini.

Dan ketika saya bertanya kapada wali kelasnya, atas dasar apa anak saya mendapatkan star untuk minggu ini, ternyata ia sudah mampu melaksanakan shalat 5 waktu dan termasuk anak yang sabar. Ketika ia dinakali temannya, ia cepat sekali bisa memaafkan.

Sederhana tapi efeknya luar biasa. Menghargai anak tidak hanya karena ia berprestasi secara akademik semata. Seperti contoh beberapa waktu lalu, Harsya teman anak saya ia mendapatkan star karena mampu menyelesaikan tugas kelas sendiri tanpa dibimbing guru. Walaupun pada kenyataannya, nilai yang didapatkan Harsya tidak sempurna alias bukan nilai 10. Tapi tanpa disadari, star itu menumbuhkan kemandirian Harsya dan kepercayaan dirinya.

Entah mengapa, saya kemudian berfikir betapa beruntungnya anak saya bisa bersekolah disekolah yang membangun karakternya. Sekolah yang lebih menghargai proses daripada hasil. Ya, sekolah ini memang sekolah rintisan Rahman Sudiyo PhD, guru besar Fakultas teknik UGM untuk merubah pendidikan di Indonesia. Sebuah idealism besar sedang ia tanam di sekolah ini.

Mudah-mudahan cita-cita Rahman Sudiro PhD bisa terwujud sehingga akan banyak anak-anak Indonesia lainnya yang menikmati betapa sekolah itu menyenangkan. Sekolah bukan sebagai beban tapi tanggungjawab yang kesadarannya tumbuh dari masing-masing anak.

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

Pengusaha Cilik

Hari jum’at adalah hari yang selalu ditunggu-tunggu anak saya. Setidaknya ada tiga alasan mengapa ia begitu mencintai hari tersebut. Alasan pertama, hari itu saya menjemputnya untuk pulang ke Purworejo. Setelah 5 hari jauh dari orang-orang yang dicintainya, saat pulang ke rumah pastinya merupakan saat yang sangat dirindukannya.

Alasan kedua, hari itu juga ia mengikuti les robot. Bisa membuat robot merupakan impiannya sejak dulu. Ia terinspirasi film transformer.

Dan alasan yang ketiga ialah pada hari itu di sekolahnya diadakan kegiatan market day. Siswa yang berminat untuk berjualan disediakan lapak untuk berjualan. Dan itu pertanda tambahan uang jajan untuknya. Ya, untuk sementara ini saya tidak meminta kembali uang hasil dagangannya. Saya hanya mengingatkan padanya untuk menabung uang yang ia dapat. Sedangkan barang yang tidak laku dibagi pada teman atau siapa saja yang membutuhkan.

Paling tidak ada dua hal positif dari keputusan saya tersebut. Pertama, ia merasakan bahwa berdagang itu menyenangkan. Baginya menyenangkan karena dengan cara itu ia akan mendapatkan uang banyak yang bisa ia gunakan untuk jajan dan sedikit untuk menabung.

Tidak hanya anak, kita pun sebagai orang dewasa akan lebih bergairah jika pekerjaan yang kita kerjakan sesuai dengan passion kita. Dalam berbisnis pun passion memegang peranan penting. Ketika kita berbisnis sesuai dengan kegemaran atau hobi kita, semua menjadi menyenangkan. Ya, cinta menjadikan apapun terasa indah 😀

Hal positif kedua, anak saya lebih memahami barang-barang yang dimininati teman-temannya. Ya, jika barang yang ia jual tidak laku itu artinya ia tidak mendapatkan tambahan uang saku. Jadi ia belajar mengamati produk apa saja yang laku dijual di “pasar”nya.

Jika biasanya saya hanya kulakan (belanja-pen bahasa jawa) barang yang akan dia jual, khusus jum’at kemarin kami membuatnya sendiri. Kebetulan hari kamis tanggal merah, hingga kami memiliki waktu membuat sesuatu untuk dijual keesokkan harinya.

Seperti rencana yang telah kami buat beberapa hari sebelumnya, kamis malam kami akan membuat jus jambu. Dari awal hinggai akhir proses produksi, saya hanya mengarahkan saja. Membiarkannya berkreasi dan merasakan bagaimana membuat sebuah produk. Dan inilah aksinya.

aku

Selamat berjuang pengusaha kecilku. Jadilah pengusaha yang selalu memberi kemanfaatan dan menginspirasi orang lain  🙂

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

Sekolah Berkarakter

Sudah menjadi sebuah kelaziman, jika anak akan menghadapi ujian, orang tua juga pasti terkena imbasnya. Kadang orang tua justru lebih panas dingin dibandingkan anaknya yang akan mengerjakan ujian. Ya, ujian menjadi momok yang mengerikan di negeri ini.

Saya mempunyai pengalaman menarik dengan sekolah anak saya. Sama seperti ibu-ibu yang lain, dua minggu sebelum ujian saya sudah mendesak guru untuk memberikan kisi-kisi yang akan muncul pada ujian nanti.

Jawaban sang guru membuat saya jadi lebih mencintai sekolah ini,”Bu, pelajari saja worksheet yang pernah disampaikan guru. Anak tidak usah ditekan untuk belajar. Natural saja. Lagi pula untuk kelas 1 sampai 3 kami lebih menekankan pada pendidikan karakternya.”

Sekolah anak saya memang sedikit berbeda dengan sekolah lain. Dari kelas 1 sampai kelas 3, anak tidak diberikan PR, tidak pula dibebani dengan buku-buku yang akan memberatkan punggungnya.

Piagam

Piagam

Sekolah ini lebih menanamkan pada anak bahwa sekolah itu menyenangkan.

Dan pada penerimaan rapor kemarin, anak saya mendapat piagam atas prestasi kesabaran yang ia miliki selama ini. Bukan karena nilai matematikanya 10 ataupun nilai bahasa Indonesianya 10.

Tambahan muatan pendidikan karakter yang dicanangkan Menteri Pendidikan, M Nuh mudah-mudahan tidak hanya berhenti pada tataran konsep tapi benar-benar teraplikasikan disekolah-sekolah dinegeri ini, agar pendidikan di Indonesia lebih bermartabat.

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5